Setelah banyak kejadian, Bilqis semakin sabar menghadapi masalah yang terus datang di antara hubungannya dengan Arkhan. Pria yang tepat, mencintai dengan tulus, melindungi mereka berdua, kasih sayangnya tidak pernah pudar.
Baby Alyssya sudah mulai usia enam bulan, dia sudah dikasih makan makanan bayi. Bilqis selalu membuat makanan untuk putrinya, dan sesekali Arkhan ikut sarapan bersama mereka.
Mereka sudah berencana untuk menikah setelah masa iddah Bilqis selesai.
"Ya Allah, terimakasih sudah mengahadirkan Kakak Arkhan selama ini, dia selalu mencintai Iqis dan Baby Alyssya dengan tulus," doa Bilqis dalam hati.
Suatu pagi, Bilqis sedang membuat bubur untuk Alyssya. Arkhan masuk ke dapur dengan membawa secangkir kopi.
"Pagi sayang. Bau buburnya sedap sekali," ucap Arkhan.
Bilqis tersenyum, "Pagi, Kak. Iya, aku sedang membuat bubur untuk Alyssya. Mau sarapan bersama kami?"
"Tentu saja, aku selalu senang sarapan bersama kalian," jawab Arkhan.
Saat Arkhan duduk di meja makan, Bilqis mendekati Alyssya yang sedang digendong Arkhan.
"Alyssya, lihat, ayah sudah datang. Mau makan bubur bareng ayah?" Ucap Bilqis lembut.
Alyssya yang mendengar suara ibunya, tersenyum dan meraih tangan Arkhan.
"Kak, Alyssya memanggil kamu 'ayah'," ucap Bilqis dengan nada sedikit heran.
Arkhan tersenyum hangat, "Ya, mungkin dia sudah mengerti. Dia memanggilku 'ayah' sejak beberapa hari yang lalu."
Bilqis terharu, "Aku senang mendengarnya, Kak. Alyssya sangat menyayangimu."
"Aku juga sangat menyayanginya, Sayang," jawab Arkhan.
"Kak, aku sudah tidak sabar menikahimu." Bilqis menatap Arkhan dengan penuh cinta.
"Aku juga, Sayang. Aku mencintaimu dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu dan Alyssya."
"Insya Allah, kita akan memiliki keluarga yang bahagia," ucap Bilqis.
Saat itu, kasih sayang yang tulus terasa melingkupi mereka. Mereka bersyukur atas pertemuan mereka dan berharap dapat membangun keluarga yang bahagia dan penuh cinta.
🍀🍀🍀🍀🍀
Di sisi lain, Haikal dan Alena sedang berada di taman rumah. Anak-anak Haikal sedang bermain di taman bersama Alena.
"Alena, kamu sangat sabar ya dengan anak-anakku. Aku salut padamu." Ucap Haikal sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya senang bisa bermain bersama mereka. Mereka sangat lucu," jawab Alena sambil mengelus kepala Elvis.
"Ya, memang. Elvis, Zahran, Zainab, dan Zafran adalah anak-anak yang hebat. Mereka lucu dan penuh kasih sayang. Mereka juga sangat menyayangimu," ucap Haikal.
"Masya Allah. Terima kasih ya Mas. Saya merasa senang bisa menjadi bagian dari hidup mereka," jawab Alena.
"Kamu pantas mendapatkan penghargaan atas kesabaran dan kasih sayangmu, Alena." Haikal mengelus pipi Alena.
Alena tersenyum, "Terima kasih, Mas. Saya merasa sangat bahagia bisa berada di sini."
Saat itu, Haikal merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia merasakan ketertarikan yang kuat pada Alena. Alena yang baik hati, sabar, dan penuh kasih sayang membuat Haikal semakin terpesona.
"Alena, kamu tahu, aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu. Kamu membuatku merasa tenang dan bahagia," ucap Haikal.
Alena tersenyum, "Saya juga merasa nyaman bersama Mas. Mas orang yang baik dan perhatian."
Haikal terdiam sesaat, "Alena, aku ingin jujur padamu. Aku merasa sangat tertarik padamu."
Alena terkejut, "Mas... apa kamu serius?"
Haikal mengangguk, "Ya, Alena. Aku menyukaimu."
Alena terdiam, "Mas, saya tidak menyangka. Saya merasa terhormat, tetapi..."
"Tapi apa, Alena?"
Alena terdiam sesaat, mencoba menata kata-kata yang tepat. "Mas, saya tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu. Saya butuh waktu untuk berpikir," jawab Alena.
Haikal mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa, Alena. Aku akan menunggu jawabanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu menjaga perasaanmu dan menghormati keputusanmu."
Alena menatap Haikal. Ia merasa terharu dengan kejujuran dan ketulusan Haikal. "Terima kasih, Mas. Aku akan memikirkan dengan serius."
Haikal tersenyum, "Aku akan menunggu jawabanmu. Dan, jangan lupa, kamu selalu bisa membicarakan apa pun dengan aku."
Alena mengangguk. "Iya, Mas. Aku akan memberitahumu ketika aku sudah memutuskan."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati suasana di taman. Haikal merasa lega karena Alena mau memikirkan perasaannya. Ia berharap Alena juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Mereka berdua selalu digoda oleh Ainun, Naufal, Ustadzah Annisa, Inara, Naura, Bilqis, Kak Arkhan, dan Keenan. Haikal mengendus kesal, "Ck, sudahlah. Kalian ini. Cobaan apa lagi nih?"
"Hahah, Mas Haikal, jangan marah. Kami hanya bercanda kok," jawab Ainun sambil terkekeh.
"Iya, Mas Haikal. Sabar dong. Kami hanya ingin melihat Mas Haikal bahagia," tambah Naufal.
"Iya, Mas Haikal. Sudahlah, jangan marah-marah. Kami hanya ingin memberi semangat," ucap Ustadzah Annisa.
"Mas Haikal, jangan lupa, kalau kamu mau mengajak Alena jalan-jalan, kita siap menjadi pengantar," kata Inara sambil menyeringai.
"Mas Haikal, jangan lupa, kami selalu siap mendukung kalian," sambung Naura.
"Mas Haikal, kamu harus cepat-cepat menikahi Alena. Nanti, keburu di-booking orang lain," ucap Bilqis sambil bercanda.
"Mas Haikal, cepatlah putuskan Alena. Nanti aku iri loh," tambah Kak Arkhan sambil terkekeh.
"Mas Haikal, cepatlah, Mas. Kita semua sudah tidak sabar melihatmu bahagia," ucap Keenan dengan penuh semangat.
Haikal terdiam sejenak, kemudian tersenyum. "Kalian ini, memang suka menggoda. Tapi, terima kasih atas dukungannya. Aku akan berusaha untuk membuat Alena bahagia."
Alena tersenyum malu, "Mas Haikal, jangan dengar mereka. Mereka hanya bercanda."
"Iya, Alena. Aku tahu mereka hanya bercanda. Aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia."
Mereka berdua pun tertawa bersama. Mereka merasa sangat bahagia dengan kehadiran sahabat-sahabat mereka yang selalu memberikan dukungan dan semangat bagi mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
De TodoBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
