Beberapa minggu kemudian, Haikal dan keluarga melakukan pertemuan dengan keluarga Alena untuk meminta restu menikahi Alena. Yang ikut hadir keluarga besar Assegaf, yaitu, Mama Diana, sang Abang Arkhan, Bilqis, Alyssya si kecil, adiknya bernama Husnu, Naufal, Keenan, Daffa, Haidar, Adzkiya, Zayna, Aurelia, Elvis, Zahran, Zafran, Zainab.
Setelah sampai, mereka disambut hangat oleh keluarga Ning Alena, adik bungsu Gus All, mantan suami Bilqis. Di sana juga ada Ning Alina.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," ucap Haikal dengan hormat saat memasuki rumah keluarga Alena.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Abi Rahmat dengan senyum.
Haikal disambut dengan hangat oleh keluarga Alena. Mereka menawarkan minuman dan kue tradisional.
"Mas Haikal, silakan duduk," ucap Ummi Maryam sambil menunjuk kursi di depannya.
Haikal mengucapkan terima kasih dan duduk di kursi yang ditunjuk.
"Mas Haikal, kami sudah mendengar cerita tentang kamu dan Alena dari sahabat-sahabat kamu. Mereka menceritakan tentang kebaikan hatimu dan kepribadianmu yang luar biasa," Abi Rahmat.
"Terima kasih, Abi. Saya sangat menghargai perkataan Abi. Saya berharap bisa menjadi suami yang baik untuk Alena," jawab Haikal dengan penuh kejujuran.
"Mas Haikal, kami sangat menyayangi Alena. Kami ingin melihat dia bahagia. Kami akan memberikan restu jika kamu benar-benar mencintai Alena dan ingin membina rumah tangga yang bahagia bersamanya," ucap Ummi Maryam.
Haikal mengangguk dengan penuh keyakinan. "Insya Allah, Ummi. Saya berjanji akan selalu menyayangi Alena dan membina rumah tangga yang bahagia bersamanya. Saya juga berjanji akan menghormati Abi dan Ummi sepanjang hidup saya."
Keluarga Alena terlihat tersentuh dengan perkataan Haikal. Mereka melihat kecerdasan dan ketulusan yang terpancar dari wajah Haikal. Mereka yakin bahwa Haikal adalah pria yang tepat untuk Alena.
Gus All merasa cemburu ketika mantan istrinya dan sang putri sangat dekat dengan Arkhan. Ia terlihat sedih dan murung. "Kenapa mereka dekat sekali?" Gumam Gus All dalam hati.
"Sini si kecilnya," ucap Arkhan pada Bilqis.
Bilqis menyerahkan Alyssya pada Arkhan. Alyssya tersenyum bahagia saat digendong oleh Arkhan.
"Alyssya, kamu lagi ngapain sih?" Tanya Arkhan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Beby Alyssya tersenyum melihat ayahnya, Arkhan. Ia memeluk leher sang ayah. Ocehan bayi Alyssya yang berusia enam bulan menggemaskan. Dia berceloteh dengan suara gembira, menggunakan bahasa bayi yang hanya bisa dimengerti oleh orang tua dan orang-orang terdekatnya.
"Alyssya mau minum susu, ya?" tanya Arkhan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Eee...aa..aa...uu..," jawab Alyssya dengan suara gembira. Ia mencoba mengajak bicara ayahnya.
Arkhan tersenyum melihat kelucuan Alyssya. "Kamu emang anak yang pintar dan lucu. Ayah bangga punya anak yang sebaik kamu," ucap Arkhan sambil mencium pipi Alyssya.
Bilqis terlihat terharu melihat kasih sayang Arkhan kepada Alyssya. "Kak, kamu itu ayah yang baik banget. Alyssya beruntung punya ayah seperti kamu," ucap Bilqis.
"Iya, Sayang. Aku akan selalu menyayangi Alyssya dan melindunginya sepanjang hidupku," jawab Arkhan dengan penuh cinta.
Gus All merasa sedih dan cemburu melihat keakraban Arkhan dan Alyssya. Ia teringat masa-masa ketika ia masih bersama dengan Bilqis dan Alyssya. Gus All menyesal telah melakukan kesalahan di masa lalu. Ia merasa salah telah menyakiti hati Bilqis dan meninggalkan mereka.
"Kenapa aku begini?" Gus All bergumam dalam hati. "Kenapa aku tidak bisa menjaga mereka?"
Gus All merasa kesepian dan kehilangan. Ia ingin kembali ke masa lalu dan membetulkan segalanya. Namun, ia tahu bahwa masa lalu tidak bisa diubah. Ia hanya bisa menerima kenyataan bahwa Bilqis sudah bahagia dengan Arkhan.
Di tengah keriuhan, Beby Alyssya yang sedang digendong Arkhan tiba-tiba menunjuk dengan jari mungilnya ke arah Haikal dan Alena.
"Ayah... Aaa...," oceh Alyssya dengan suara gembira.
"Alyssya mau ke Tante Alena? Yaudah ayo, kita samperin Tante Alena," ucap Arkhan sambil mendekati Haikal dan Alena.
Alyssya tersenyum lebar dan meraih tangan Alena saat Arkhan menyerahkannya. Alena pun langsung memeluk Alyssya dengan hangat.
"Alyssya cantik, mau main sama Tante?" tanya Alena.
Alyssya menangguk dengan gembira dan menunjuk-nunjuk mainan yang ada di dekat Alena.
Gus All melihat Alyssya yang bahagia bersama Alena, perasaannya bercampur adik. Ia ingin mendekati Alyssya dan memeluknya erat, tetapi ia takut menyakiti hati Bilqis dan Arkhan.
"Mungkin aku harus menunggu waktu yang tepat," gumam Gus All dalam hati.
Gus All menghampiri sang adiknya, Ning Alena, berniat untuk berbicara. Namun, sebelum ia bisa mengucapkan sepatah kata pun, Beby Alyssya yang sedang dipeluk Alena tiba-tiba menangis histeris ketika melihat wajah Gus All. Tangisannya keras dan menggelegar, membuat seisi ruangan terkejut.
Bilqis dan Arkhan menoleh dengan khawatir. Arkhan langsung berdiri dan berjalan menuju Alena dan Alyssya.
"Alyssya, kenapa kamu nangis? Ada apa?" tanya Arkhan dengan lembut.
Alyssya terus menangis dan menunjuk-nunjuk Gus All dengan jari mungilnya. Seakan ia merasa takut dan menolak kehadiran Gus All.
"Gus All, kenapa Alyssya nangis?" tanya Bilqis dengan nada bingung.
"Aku juga tidak tahu, Bilqis. Mungkin dia kaget melihatku," jawab Gus All dengan nada sedih.
Arkhan menarik Alyssya ke pelukannya dan menenangkan sang putri.
"Alyssya, tenanglah, Sayang. Ayah ada di sini," ucap Arkhan sambil mengusap air mata Alyssya.
Bilqis memandang Gus All dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia masih terluka dengan perbuatan Gus All di masa lalu.
"Gus All, mungkin lebih baik kamu pergi saja dari sini. Alyssya terlihat takut kepadamu," ucap Bilqis.
Gus All tertunduk lesu. Ia tahu bahwa Bilqis masih menaruh dendam padanya. Ia merasa salah telah melakukan kesalahan di masa lalu.
"Aku mengerti, Bilqis. Aku akan pergi," ucap Gus All dengan nada sedih.
Gus All berbalik dan berjalan keluar dari rumah keluarga Alena. Ia merasa terluka dan kesepian. Ia ingin memperbaiki segalanya, tetapi sepertinya waktu belum berpihak padanya.
Ning Alina yang menyaksikan kejadian itu sangat marah melihat Gus All sedih. Ia menghampiri Bilqis dan langsung menampar pipi Bilqis yang tertutup cadar. Arkhan sangat murka ketika perempuan yang ia cintai dilukainya.
"Kamu ini wanita rendahan! Kamu sudah menyakiti hati calon suami aku! Kamu berani melakukan itu padanya!" teriak Ning Alina.
Mereka akan menikah satu bulan lagi. Ning Alina merasa terancam dengan kehadiran Bilqis, mantan istri Gus All.
Arkhan langsung menarik Bilqis ke belakangnya dan menatap Ning Alina dengan tatapan amarah.
"Apa yang kamu lakukan ini? Beraninya kamu menampar Bilqis?" tanya Arkhan dengan suara bergetar marah.
"Dia wanita rendahan! Dia menyakiti hati calon suami aku!" bentak Ning Alina.
"Kamu tidak berhak menilai seseorang seperti itu! Dan kamu juga tidak berhak menyakiti orang lain!" bentak Arkhan kembali.
"Aku akan menikah dengan Gus All sebentar lagi! Aku tidak mau ada orang lain yang menghalangi hubungan kami!" teriak Ning Alina.
"Bilqis tidak menghalangi hubungan kamu! Dia tidak melakukan apapun kepadamu! Kamu yang mencari kesalahan! Kamu yang melakukan kekerasan terhadap Bilqis!" bentak Arkhan dengan marah.
"Aku tidak peduli! Aku akan melindungi calon suami aku! Dan aku akan melindungi hubungan kami!" teriak Ning Alina kembali.
Arkhan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan amarahnya. Ia menatap Ning Alina dengan tatapan tajam.
"Kamu ini wanita yang tidak bertanggung jawab! Kamu tidak bisa mengatasi masalah dengan kekerasan! Kamu harus belajar menghormati orang lain! Dan kamu harus belajar mengatasi masalah dengan baik!" ucap Arkhan dengan suara yang sangat keras.
Ning Alina terdiam, terkejut dengan kemarahan Arkhan. Ia tidak menyangka Arkhan akan se dengan tegas.
Bilqis memeluk Arkhan agar tenang. Ia tidak ingin Arkhan terbawa amarah. Ia mencoba menenangkan Arkhan dengan sentuhan lembutnya.
"Kak, tenanglah. Tidak perlu bertengkar dengannya. Dia hanya seorang wanita yang tidak berakal sehat," bisik Bilqis pada telinga Arkhan.
Arkhan menarik napas dalam-dalam dan melepaskan pelukan Bilqis. Ia menatap Ning Alina dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku tidak ingin lagi berdebat denganmu. Pergilah dari sini. Dan jangan pernah mendekati Bilqis lagi," ucap Arkhan dengan suara yang sangat keras.
Ning Alina terdiam sesaat. Ia menatap Arkhan dengan tatapan yang penuh kebencian.
"Kamu akan menyesal telah melakukan ini padaku!" teriak Ning Alina sebelum berbalik dan berjalan keluar dari rumah keluarga Alena.
Arkhan menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya. Ia menatap Bilqis dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.
"Bilqis, kamu baik-baik saja?" tanya Arkhan.
Bilqis tersenyum lembut pada Arkhan. "Aku baik-baik saja, Kak. Terima kasih telah melindungi aku."
Arkhan mengusap pipi Bilqis dengan lembut. "Aku akan selalu melindungi kamu, Sayang," jawab Arkhan.
Bilqis merasa terharu dengan perhatian Arkhan padanya. Ia sangat mencintai Arkhan dan sangat berterima kasih atas perhatian dan perlindungan yang diberikan Arkhan padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
RandomBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
