Bilqis, Rara, Ustadzah Annisa, dan Ning Alena sedang berkumpul di teras rumah, menikmati secangkir teh hangat dan kue kering. Beby Alyssya dan bayi Nura, yang sedang ditidurkan di dekat mereka, asyik bermain dengan mainan masing-masing.
"Rara, kamu harus tetap kuat," ucap Bilqis dengan nada yang penuh simpati. "Kamu jangan menyerah begitu saja. Allah akan selalu bersama kamu."
"Terima kasih, Iqiis," jawab Rara dengan suara yang terbata-bata. "Aku berusaha kuat, tapi aku merasa sangat sedih dan terpuruk."
"Aku mengerti perasaanmu, Rara," jawab Bilqis. "Tapi kamu harus ingat, kamu tidak sendiri. Kami semua akan mendukungmu."
"Iya, Rara," sambung Ustadzah Annisa. "Kamu harus tetap berharap pada rahmat Allah. Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan."
Ning Alena mengelus kepala Rara dengan lembut.
"Rara, kamu harus tetap kuat. Kamu masih muda dan masih banyak hal baik yang menunggu di depan. Kamu jangan menyerah pada takdir," ucap Ning Alena.
Rara menangis lagi. Ia merasa terharu mendengar kata-kata penuh dukungan dari Bilqis, Ustadzah Annisa, dan Ning Alena. Ia merasa tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini.
"Terima kasih, Iqiis, Ustadzah, Alena. Aku sangat beruntung memiliki kalian di sampingku," ucap Rara dengan nada yang penuh syukur.
"Sama-sama, Rara," jawab Bilqis, Ustadzah Annisa, dan Ning Alena bersama.
Mereka berbincang lama di teras rumah. Mereka membahas tentang hidup dan masalah yang sedang dihadapi Rara. Mereka saling memberikan dukungan dan harapan satu sama lain.
"Rara, aku sudah menghubungi seorang pengacara yang kompeten di bidang hukum keluarga," ucap Bilqis. "Ia akan membantu kamu untuk menyelesaikan masalah perceraianmu dengan Gus Yusuf."
"Terima kasih, Iqiis," jawab Rara. "Aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu."
"Sama-sama, Rara," jawab Bilqis. "Kita akan mengatasi masalah ini bersama."
"Ya, kita akan mendukung kamu sepenuhnya," sambung Ustadzah Annisa.
"Rara, kamu harus tetap kuat," ucap Ning Alena. "Kamu masih muda dan masih banyak hal baik yang menunggu di depan. Kamu jangan menyerah pada takdir."
Rara menangis lagi. Ia merasa terharu mendengar kata-kata penuh dukungan dari Bilqis, Ustadzah Annisa, dan Ning Alena. Ia merasa tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini.
"Terima kasih, Iqiis, Ustadzah, Ning Alena. Aku sangat beruntung memiliki kalian di sampingku," ucap Rara dengan nada yang penuh syukur. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini lebih tentram, seperti pelepasan beban yang lama menekan hatinya.
"Sama-sama, Rara," jawab Bilqis, Ustadzah Annisa, dan Ning Alena bersama. Mereka menatap Rara dengan tatapan yang penuh simpati dan kepedulian.
Mereka berbincang lama di teras rumah, menikmati hangatnya teh dan kue kering. Mereka membahas tentang hidup dan masalah yang sedang dihadapi Rara. Mereka saling memberikan dukungan dan harapan satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
RandomBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
