2. Pretzel

5.3K 398 133
                                        

Liam membuka pintu apartemennya untuk menemukan sosok Niall di hadapannya yang tersenyum lalu menunjukkan bingkisan di tangangannya. "Aku membeli baguette."

Melihat senyum itu, Liam seketika mengusak surai Niall gemas kemudian membawanya masuk. "Aku juga baru saja akan membuat omelette. Biar aku buatkan satu lagi untukmu."

"Dengan bantuan babamu lagi?" Tanya Niall sambil berjalan menuju dapur Liam, melihat sendiri sayuran yang telah di potong dan beberapa telur di atas meja.

Liam tak sebuta itu tentang hal-hal dapur, tapi juga tak begitu kenal dengan semuanya. Jadi kadang ia akan menghubungi babanya, untuk meminta bantuan jika ia ingin memasak sendiri.

"Tidak, kali ini aku membuatnya sendiri." Jawab Liam, mengekori Niall yang mulai mengeluarkan roti berbentuk panjang khas prancis itu. Lalu Liam teringat sesuatu saat membahas makanan. "Niall, kemarin papa mengatakan akan mengunjungiku musim gugur nanti, dan aku mengatakan akan membuatkannya makanan begitu ia datang."

"Papamu pasti senang." Niall ikut tersenyum melihat senyum Liam, tapi Niall juga tersipu setiap menatap lama wajah kekasihnya itu. Sempurnanya wajah Liam selalu membuatnya merona, sedikit tak mempercayai kenyataan bahwa Liam adalah kekasihnya yang memberinya banyak cinta.

"Iya, jadi selama musim panas ini kau harus membantuku lebih sering lagi." Liam kembali melanjutkan kegiatannya tadi.

Niall mengangguk tak keberatan, ia selalu suka setiap menghabiskan waktu bersama Liam. "Aku mau, tapi bukankah kau ada janji dengan teman-temanmu?"

Seingatnya Liam pernah mengatakan bahwa setelah kembalinya ia dari rumah orangtuanya, Liam akan pergi berlibur dengan teman-temannya. Liam sengaja mengunjungi orangtuanya lebih awal karena memiliki janji dengan beberapa temannya.

Teman Liam di paris tak begitu banyak, ia hanya menemukan beberapa semenjak dua tahun lalu ia tinggal di paris untuk kuliah.

"Aku hanya akan pergi tiga hari dengan mereka, sisa liburannya aku akan memilikimu di sisiku." Liam menoleh pada Niall yang kini tengah memotong roti, dan menyimpannya di atas piring.

"Kau ingin ikut nanti? Damien mengatakan kita akan ke Annecy, dan berenang juga. Kau belum pernah kesana bukan?" Liam berhenti sebentar untuk menunggu jawaban Niall, matanya menatap kekasihnya dengan binar matanya yang serupa milik babanya.

Niall memang belum pernah sekalipun pergi ke annecy, yang terkenal dengan pemandangan gunung dan air danaunya yang cantik. Ia pernah berencana pergi dengan temannya, tapi selalu batal. "Belum, tapi nanti saja aku perginya lain kali. Kau bisa pergi dengan temanmu nanti."

Liam merasa tak puas dengan jawaban yang Niall berikan. "Niall, kau tidak ingin tau pemandangan annecy lebih awal?" Ia berusaha memanasi.

Mendengar pertanyaan Liam, Niall terdiam kemudian mengangguk, ia ingin tau.

Dan Liam pun mengangguk. "Nah, jadi ikut saja. Temanku tak akan keberatan kau ikut. Kau juga sudah kenal Damien, aku hanya bersama dua teman lainnya yang mungkin belum kau kenal. Tapi tak apa, kau denganku."

"Aku akan memikirkannya." Jawab Niall pada akhirnya.

Setelah itu, keduanya menikmati sarapan yang mereka buat bersama tadi. Niall selesai lebih awal, sementara Liam masih menikmati potongan apel yang mendampingi menu sarapan mereka.

"Liam, bagaimana tidurmu tadi malam?" Tanya Niall, mengingat semalam ia langsung pulang setelah kekastikan Liam sampai di apartemennya.

"Nyenyak, berkat Niall yang menyambutku dengan kecupan rindu." Liam mengulas senyum sementara Niall menolak menatap langsung mata kekasihnya, menahan rasa ingin bersembunyinya dari Liam karena malu.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang