Liam sengaja tak membuat janji untuk babanya dan Niall di rumah, karena disana akan ada Hami. Liam sudah memikirkannya, ia tak akan membiarkan Hami bertemu Niall lagi.
Kemarin ia sudah berbicara dengan Renjun, bahwa ia akan membawa seseorang bertemu babanya itu.
"Besok ada yang ingin aku tunjukkan pada baba dan papa." Ujar Liam pada kedua orang itu, ia sengaja mendatangi kamar mereka untuk mencegah Hami tau hal itu.
Renjun mengerutkan dahinya. "Apa?"
"Seseorang." Cengir Liam.
"Tapi aku tak ingin membawanya kemari, besok kita bertemu di luar saja ya?"
Dan sekarang disinilah Liam, menarik pelan tangan Niall memasuki butik babanya.
Begitu masuk, Niall melihat beberapa orang yang tengah memperhatikan sample kain juga yang tengah berbicara di sudut ruangan sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Kemudian Liam membawanya semakin masuk ke bagian dalam, dan ia melihat sosok itu. Berdiri dengan mata yang tertuju pada laptopnya, tubuhnya terlihat ramping dengan wajahnya yang menawan, bibirnya terkatup rapat. Renjun terlihat dingin
"Baba.."
Tapi begitu Liam memanggilnya, sosok itu mendongak dengan senyum hangatnya. Matanya berbinar, itu benar mengingatkan Niall pada Liam. Reflek ia melihat Liam yang tersenyum pada babanya itu. Dan Niall benar melihat kemiripan itu lewat mata mereka.
"Kenapa?" Liam menatap Niall saat menyadari kekasihnya terus menatapnya.
"Kau mirip baba." Meskipun Niall pernah bertemu Jeno dan melihat nyaris keseluruhan wajahnya memang sama dengan Liam. Tapi saat matanya bertemu dengan mata Renjun, Niall menemukan Liam juga disana.
Liam mengerutkan dahinya. "Padahal banyak yang mengatakan aku duplikat papa."
Niall mengangguk setuju, hal itu benar adanya. Tapi jika Niall hanya fokus pada cara Liam menatapnya dengan lembut, itu adalah milik baba Renjun.
Renjun menghampiri mereka, matanya menatap Niall dengan senyumnya. Kesan dingin yang tadi Niall lihat hilang.
"Kita pergi bersama, papa bilang akan menemui kita di restoran saja." Ujar Liam, ia memang tadi menjemput Niall lebih dulu sebelum menjemput babanya agar berangkat bersama.
Di dalam mobil, Niall mengambil tempat duduk di kursi penumpang belakang. Tadi ia mendahului Renjun yang hampir duduk disana, dengan semua perasaan berdebarnya Niall meminta Renjun yang duduk di depan dengan Liam.
"Tadi kan Niall yang duduk disini." Renjun sempat meminta Niall tetap di depan, tapi Niall tentu menolak keras hal itu.
Sekarang Niall duduk di belakang dengan tangan yang saling meremas, rasanya semua usapan menenangkan papinya tadi ingin ia temukan saat ini. Meskipun kesan dingin Renjun terasa hilang, tapi Niall tetap merasa segan pada baba Liam.
Sesekali Renjun melirik Niall, anak itu tak berbicara apapun. Maka ia memutuskan memanggilnya.
"Niall?"
Dan Niall tersentak mendengar suara halus itu memanggilnya, ia menatap ke depan dam menemukan Renjun tengah menatapnya. "Kau ingin makan apa?" Tanyanya.
Mata Niall bergerak gugup. "Aku tak akan menolak apapun, itu terserah kalian."
Renjun menggelengkan kepalanya tak setuju. "Tidak boleh, Liam bilang ini kepulangan pertamamu semenjak tinggal di paris. Kau harus makan apa yang ingin kau makan."
Niall mengerang mendengar cara bicara baba Liam yang penuh perhatian, pantas saja Liam pun memiliki sifat itu. Renjun pemberinya.
"Tidak perlu, aku sungguh akan mengikuti apapun yang kalian inginkan." Jawab Niall.
"Ikan bagaimana?" Renjun melirik Liam sekilas. Merasa bisa menemukan jika orang yang benar menyayangi putranya akan tau hal kecil yang kadang dianggap tak penting oleh oranglain.
Liam terlihat biasa saja mendengar hal itu, tapi Niall langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan.."
"Kenapa?" Tanya Renjun dengan senyumnya, ia mulai penasaran.
"Liam tak suka." Ujar Niall pelan.
Renjun terkekeh setelah mendengar itu. "Kau akan mengikuti apapun yang Liam inginkan?" Ia pikir sosok Niall lebih dari beberapa orang yang pernah bersama Liam sebelumnya.
Dan ia rasanya menemukan sosok yang mau memberikan, melakukan apapun untuk Liam selain Hami. Dan itu Niall.
"Kalau papa Liam yang menentukannya tidak apa?" Tanya Renjun kemudian setelah melihat Niall yang mengalihkan tatapannya dengan rona kemerahan di wajahnya, sepertinya anak itu malu karena ia tau bahwa Niall memperhatikan Liam sampai sebegitunya.
"Tentu." Niall menjawab pelan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melihat bagaimana Jeno memeluk pinggang Renjun kemudian memberi kecupan lembut pada bibirnya begitu ia sampai, Niall jadi tau dari mana kebiasaan manis milik liam itu berasal. Papa Liam selembut itu memperlakukan babanya.
Sementara Jeno saat melihat siapa sosok yang duduk di samping putranya itu, langsung tersenyum pada Niall. Renjun menyadari itu, Liam pun sama. Apalagi Niall meremas lengan Liam, dengan erangan tertahan.
"Ada apa?" Tanya Liam.
"Kita sudah bertemu sebelumnya." Jeno menahan senyum gelinya mengingat pertemuan pertama mereka, dimana Niall membicarakan Liam tanpa menyadari ada dirinya di belakangnya. Lalu wajahnya yang langsung memerah malu saat tau ada dirinya.
Liam mengerutkan dahinya. "Dimana?"
"Musim gugur saat papa disana, Liam." Jawab Jeno.
Niall menelan salivanya.
"Itu pertemuan tak disengaja, tapi keesokan harinya papa melihat kalian pergi bersama." Ujar Jeno mengingatkan.
Dan Liam pun ingat papanya yang terus menyinggung tentang temannya selama disana ternyata bukan hanya karena melihatnya dengan Niall saja. Tapi juga karena pernah bertemu Niall.
"Maaf saat itu aku langsung pergi tanpa menyapamu." Niall meminta maaf.
Ia sekarang menarik napasnya hendak membicarakan lebih banyak hal lagi, agar tak ada kesalah pahaman tentang Liam yang selama ini tak pernah bercerita tentang hubungan mereka.
"Dan juga maaf karena aku baru berani bertemu kalian, sebenarnya Liam sering mengajakku untuk menyapa kalian tapi aku.." Niall menelan salivanya.
"..belum berani." Lanjutnya pelan.
"Kenapa?" Renjun seolah mendapat kilasan balik, bagaimana dulu ia melihat Jeno yang selalu tak berani mengenalkannya pada orangtuanya.
Niall melipat bibirnya, tak tau mesti menjawab apa. Karena memang sebelumnya ia hanya merasa belum menemukan keberanian untuk menekan sifat pemalunya itu.
Tiba-tiba jari Liam mengusap pipinya lembut, membuat Niall menoleh. Menemukan Liam yang tersenyum padanya kemudian beralih lagi pada pada orangtuanya. "Ini, alasannya ini." Tunjuknya pada pipinya yang kembali terasa panas saat menyadari baba dan papa Liam menatapnya dengan senyum mereka.