Stored storm

185 44 33
                                        

"Jika acaranya cukup lama dan sampai malam, aku mungkin akan membawa Niall ke rumah baba saja agar lebih dekat dan Niall tak kelelahan." Ujar Liam saat berpamitan pada ayah Niall.

Liam menjemput Niall untuk acara di rumah kakeknya yang sudah dibahas orangtuanya kala itu, acara itu memang acara keluarga Lee untuk semacam perayaan tahunan atas keberhasilan bisnis keluarga mereka.

"Iya, hati-hati." Ayah Niall mengangguk pada Liam.

Sementara Niall baru saja melepas pelukan papinya sambil berujar. "Tapi saat aku pulangnya lebih cepat, aku akan tidur dengan papi."

Papi Niall mengangguk sambil terkekeh mendapati anak manjanya, lagipula Niall dan Liam baru tiba kemarin, ia masih ingin melepas rindu dengan orangtuanya. Dan dengan itu sifat manjanya jadi jauh lebih banyak muncul.

"Tadi nenek sudah menghubungiku dan memintaku langsung mengantarmu padanya." Ujar Liam begitu mereka tiba di kediaman keluarga Lee, rumah orangtua Jeno.

Setelah memasuki rumah megah itu, mereka perlu berjalan lagi ke area belakang rumah karena memang acaranya diadakan di halaman belakang. Itu benar-benar khas acara musim panas yang dipenuhi buah-buahan juga makanan ringan.

Tangan Liam tak lepas menggenggam tangan Niall selama mereka mencari neneknya, hingga kemudian mereka bertemu orangtua Liam lebih dulu.

"Bajunya manis sekali dipakai olehmu." Baba memuji Niall yang langsung tersenyum dengan adanya taburan merah alami di pipi Niall setelah mendengar pujian itu.

"Terimakasih, baba."

"Liam, Niall."

Terdengar panggilan dari nyonya Lee yang membuat kedua anak itu menoleh dan menghampiri wanita yang duduk menempati salah satu meja.

"Duduklah. Aku memiliki sesuatu untukmu Niall." Nyonya Lee tersenyum pada kedua anak yang menghampirinya itu.

Sementara nyonya Lee mengeluarkan barang yang ingin ia berikan pada Niall, Liam pun menemukan Hayden di ujung sana. Ia yang sudah lama tak bertemu Hayden pun memutuskan menghampirinya.

"Niall, aku akan menemui Hayden sebentar." Liam berpamitan pada tunangannya itu, yang langsung diiyakan oleh Niall.

"Iya." Niall sudah cukup sering juga berbicara dengan nenek Liam dari pihak papa itu, jadi ia sudah tak terlalu canggung saat duduk berdua saja dengan wanita itu.

Niall memperhatikan bagaimana wanita itu mengeluarkan sebuah gelang dari kotak beludru abu-abu yang dibawanya, lalu tangannya meraih tangan Niall― memeriksa satu persatu tangan Niall mana yang kosong, karena Niall nyaris tak pernah meninggalkan pergelangan tangannya kosong.

"Aku belum pernah mengunjungi rumah kalian." Ujar wanita itu diantara kegiatannya.

"Nanti nenek harus ke sana, dan bertemu Lilou." Niall menyahut.

Nyonya Lee menemukan tangan kanan Niall tak mengenakan gelang, dan hanya mengenakan cincin kecil di telunjuknya. Wanita itu pun memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan kanan Niall.

"Bagaimana?" Nyonya Lee tersenyum puas melihat bagaimana gelang perak itu begitu indah melingkar di pergelangan tangan Niall yang memiliki kulit putih bersih.

"Bagus." Niall pun menyukai itu, ia tersenyum lebar. "Terimakasih nenek."

"Tentu, little muffin." Nyonya Lee membelai pipi Niall.

Kemudian mereka berbincang kecil sambil menikmati jus buah yang ada di atas meja, ketika kemudian nyonya Lee melihat putrinya berjalan ke arah mereka dengan dahi menukik marah.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang