Annoyed Winds

1.8K 154 56
                                        

"Aku sudah mengatakannya Liam, aku tak begitu suka harus berpikir ingin makan apa. Aku hanya akan mengikutimu." Niall mengatakannya setelah Liam memaksanya memberitau ingin makan apa untuk makan siang mereka kali ini.

Liam bersidekap dada, tak terusik dengan ucapan Niall. "Kemarin kita baru makan dengan menu sesuai mauku."

"Sekarang gantian." Lanjut Liam dengan nada kukuh.

"Liam..." Niall merengek kecil, wajahnya ia sembunyikan pada punggung Liam yang duduk di sampingnya.

"Kita tak akan pergi, Niall." Jawab Liam.

Setelah itu hening, Niall benar-benar menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan menu makan untuk mereka. "Kau tidak alergi makanan laut kan?" Niall meyakinkan ingatannya.

Liam menggelengkan kepalanya, ia tak alergi pada itu. "Aku hanya tak terlalu menyukai ikan."

"Kau ingin makan seafood?"

"Spagetti seafood kau mau tidak Liam? Atau makanan chineese saja? " Tanya Niall ragu, takut Liam tak setuju.

"Jangan melempar balik pertanyaannya, sekarang giliranmu."

Niall akhirnya mengambil keputusan setelah beberapa saat. "Makanan chineese saja ya?"

Liam mengangguk. "Kau tau tempat yang bagus?"

"Aku ada." Jawab Niall.

"Aku menyukai hal ini. Kau ikut andil dalam kencan kita." Liam terkekeh, kadang ia tak enak hati jika Niall hanya mengikuti kemauannya. Meskipun dulu pun pernah mengatakan alasannya, salah satunya adalah sikap Rui dulu—yang membuat Niall ragu untuk mengatakannya.

"Hami juga menyukai seafood kan?"

Imbas dari apa yang telah Rui lakukan seperti ini.

"Kau tau?" Liam mencoba bersikap seolah baru tau bahwa Niall mengetahui hal tentang Hami. Ia menanyakan itu sembari berjalan keluar dari tempat Niall diikuti Niall yang menutup pintu.

"Rui memberitau banyak hal tentang Hami." Jawab Niall jujur.

Liam menoleh dan menghentikan langkahnya, tangannya mengusap pipi Niall perlahan, sementara matanya menatap mata Niall. "Kenapa Rui begitu buruk padamu?" Tanya Liam tak habis pikir.

"Tidak apa, aku jadi bisa bertemu Liam." Niall mengulas senyum.

Kecewanya pada Rui mungkin sekarang perlahan menghilang, karena ia menemuman sebuah akhir yang baik dari apa yang telah Rui perbuat. Dengan itu membuat Niall ingin pergi menjauh, dan memilih paris. Kemudian disinilah ia bertemu Liam, yang selain mengganti kecewa dan sakit yang pernah Niall rasakan. Liam juga memberi cinta yang banyak.

"Mana ada, harusnya ia tetap memperlakukanmu dengan baik." Ujar Liam tak setuju.

Keduanya kembali melanjutkan langkah. "Tapi mungkin kita tak akan bertemu." Niall dengan pelan meraih lengan Liam dan memeluknya.

"Tetap akan bertemu, dengan atau tanpa Rui menyakitimu." Balas Liam dengan yakin.

"Kenapa seperti itu?"

"Takdirnya memang sudah mengharuskan kita bertemu, jadi bagaimana dulu Rui menyadari semuanya lebih awal ataupun tidak kita tetap akan berakhir seperti sekarang, dengan cara apapun." Liam memberi satu kecupan ringan pada pelipis Niall.

Sementara itu Niall mendengus tersenyum dengan apa yang Liam ucapkan. "Kata siapa Liam?"

"Baba." Cengir Liam dengan senyum lucunya.

"Jadi aku menyayangkan Rui yang tak memperlakukanmu dengan begitu baik." Liam berdecak kecil di akhir kalimatnya mengingat sosok masa lalu Niall itu.

Mereka pergi dengan naik bis, Liam yang masuk lebih dulu diikuti Niall.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang