"Kencan kemarin tidak beli gelato." Dahi Niall berkerut, kepalanya mendongak kecil pada Liam yang ia peluk.
Keduanya baru saja akan merencanakan kencan hari ini akan kemana saja, karena hari ini keduanya luang. Liam tadi menyarankan beberapa tempat, yang cukup jauh dari cafe tempat kesukaan Niall. Karena itu Niall mulai memprotes bahwa ia ingin pergi ke dekat cafe favoritnya walau sebentar untuk membeli gelato favoritnya.
Liam mengecup bibir Niall sekilas. "Jadi ingin ke sana saja?"
"Hm." Niall mengangguk.
Hal lain yang Liam sadari bahwa adanya hal baik yang terjadi pada Niall adalah anak itu mulai lebih berani mengatakan keinginannya dibanding hanya mengikuti apapun yang Liam tawarkan. Niall akan mengajukan protes ketika Liam menyarankan hal yang tak begitu ia setujui, dan itu benar-benar sebuah pencapaian lain yang Liam apresiasi dari Niall.
Kepala Liam kembali menunduk untuk mencium bibir Niall, kali ini membawa tubuhnya duduk tanpa melepas ciuman mereka. Liam memperdalam pagutannya, membuat Niall melenguh pelan sebelum kemudian balas menyesap bibir Liam.
Bahkan Niall mendorong tubuh Liam agar setengah berbaring dengan punggung yang tertahan sandaran sofa, tangan Liam memeluk pinggang Niall sementara yang satunya meraih rahang Niall.
Liam melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut tunangannya, dan Niall semakin terpejam merasakan bagaimana ciuman mereka yang semakin dalam.
Keduanya terlalu hanyut dalam ciuman hingga tak mendengar adanya yang membuka pintu apartemen mereka, yang bertamu seketika tak heran kenapa kedatangannya seolah tak terdengar.
"Maaf, tapi baba pikir kalian tak ada di rumah. Jadi kami membuka pintunya." Baba sedikit meringis dalam kalimatnya, merasa bersalah pada Niall yang paling mungkin terganggu dengan kedatangannya.
Mendengar suara itu, mata Niall melotot sebelum kemudian ia menyembunyikan wajahnya di dada Liam. Baba Liam datang di saat ia tengah dalam posisi seperti ini dengan putranya? Niall jelas-jelas luar biasa malu.
Sementara Liam terkejut dengan kedatangan kedua orangtuanya karena memang sebelumnya tak ada kabar apapun mengenai ini. Tangan Liam memeluk pinggang Niall hendak membetulkan posisi duduk mereka, tapi Niall justru mencengkram erat bajunya ketika merasa pergerakan Liam, Niall berpikir tunangannya itu hendak melepas pelukan mereka.
"Baba, kenapa tidak mengabariku akan kemari?" Liam akhirnya memutuskan tetap dengan posisinya.
Niall masih bersembunyi, rasanya tak akan sanggup menatap orangtua Liam. Baba juga papa sudah bisa membayangkan juga bagaimana perasaan Niall mengingat sifat anak itu yang pemalu, ditambah barusan kegiatan yang tengah Niall lakukan saat mereka masuk.
"Tidak ada rencana sebelumnya." Papa yang menjawab.
Pasangan itu tadinya hanya berniat menghabiskan hari libur di rumah ayah Renjun, ketika tuan Huang menyinggung bahwa ia penasaran dengan anak anjing milik Liam sekarang dan tiba-tiba ajakan itu diserukan Renjun. Papa mengiyakan namun tuan Huang mengatakan ia akan menemui Lilou lain kali. Dan berakhirlah mereka berdua yang terbang ke Paris.
Semenjak Liam dan Niall tinggal serumah, orangtua mereka tak perlu lagi mencari hotel untuk menginap selagi mengunjungi keduanya. Karena ada kamar lebih di rumah Liam dan Niall.
Keduanya memang sempat memiliki kamar masing-masing di apartemen itu, namun semakin kemari Niall akhirnya memutuskan pindah juga ke kamar Liam.
Renjun dan Jeno berjalan menuju sofa dekat Liam, membuat Niall yang mendengar suara langkah mendekat itu semakin mencengkram pakaian Liam. Niall benar-benar sedang berpikir keras bagaimana menghadapi mereka setelah ini.
