Planning it

196 40 3
                                        

"Kau ingin pernikahannya seperti milik baba dan papa?" Tanya Niall tiba-tiba ketika ia dan Liam sedang sarapan bersama.

Semenjak Liam menyinggung pernikahan, Niall tak bisa untuk tak terus memikirkannya meskipun Liam memintanya agar tak terbebani. Niall jadi membayangkan sendiri bagaimana acaranya, tapi kemudian ia ingat bagaimana potret milik papa dan baba Liam yang pernah ia lihat.

Pernikahan milik orangtua Liam terlihat megah sekaligus elegan, dan ia pun tau bagaimana Liam yang selalu menjadikan babanya sebagai siapa yang ia jadikan gambaran dalam hal apapun. Jadi Niall langsung menanyakannya pagi ini pada Liam yang justru langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak."

Meskipun Liam banyak memiliki kesamaan dengan babanya, tapi untuk hal ini Liam pun memiliki bayangannya sendiri. Sama seperti Niall yang pastinya memiliki apa yang ia inginkan untuk acara penting itu.

"Jadi seperti apa?" Niall mendekatkan tubuhnya pada Liam, mengabaikan piring sarapannya hanya untuk mendesak Liam agar memberitahunya.

Liam tersenyum geli merasakan bagaimana Niall begitu penasaran. "Kita tukar ponsel kita."

Tangan Liam menggeser ponselnya yang ada di atas meja ke hadapan Niall, sementara Niall mengerutkan dahinya. Meski tangannya ikut menggeser ponsel miliknya ke hadapan Liam.

"Untuk apa?" Tanya Niall.

Sebelum meraih ponsel Niall, Liam menatap mata tunangannya itu untuk balik bertanya.

"Kau sudah sempat mencarinya bukan? Pernikahan seperti apa yang kau inginkan?"

Niall mengangguk atas pertanyaan itu, Liam pun ikut tersenyum lalu melirik ponselnya agar segera Niall ambil.

"Kau bisa melihat riwayat pencarian milikku, dan aku akan melakukan hal yang sama." Liam melakukan ini agar Niall tak berakhir mengikuti keinginannya jika ia memberitahu lebih dulu, jadi lebih baik mereka mengetahui keinginan satu sama lain dalam waktu bersamaan.

"Bagus, Liam." Komentar Niall ketika melihat bahwa yang Liam cari adalah konsep di rumah kaca yang terkesan menyegarkan karena masih bisa melihat pemandangan luar dengan jelas.

Sementara Liam yang juga baru melihat apa yang Niall cari, tersentak menyadari perbedaan yang mereka bayangkan tak terlalu besar.

"Ini lebih baik." Liam setuju dengan bagaimana pilihan Niall yang berupa pernikahan di luar ruangan yang sederhana dan manis.

Niall menoleh tersenyum mendengar tanggapan Liam.

"Kita jadi harus mengadakannya di musim semi―tidak musim semi tahun ini." Liam menambahkan agar Niall tak merasa Liam sedang memaksanya melakukan secepatnya.

"Kapan pun. Yang pasti harus musim semi agar lebih banyak pilihan bunganya, juga suasananya lebih menyenangkan jika kita bisa berlama-lama di luar saat acaranya berlangsung." Liam masih menatap gambar yang ada di ponsel Niall, merasa bayangannya semakin jelas dengan itu.

"Kau sungguh setuju?" Niall berbinar, tangannya memegang lengan Liam dengan senyum tertahan namun wajahnya jelas menunjukkan keantusiasannya atas persetujuan Liam dengan konsep acara yang ia inginkan.

"Iya, amour." Liam mengusap pipi Niall lembut.

Sudah dua hari berlalu semenjak orangtua Niall tiba di Paris, keduanya tidak tinggal bersama Liam Niall dan memutuskan mencari hotel untuk mereka selama di Paris

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sudah dua hari berlalu semenjak orangtua Niall tiba di Paris, keduanya tidak tinggal bersama Liam Niall dan memutuskan mencari hotel untuk mereka selama di Paris. Namun hari itu orangtua Liam mengundang mereka ke rumahnya untuk makan malam bersama dan menginap juga.

"Hami tidak ada?" Tanya papi.

"Mungkin beberapa minggu lagi ia baru kembali kemari dengan kakek, menjelang natal."

Pembicaraan di meja makan itu hanya berisi hal ringan, ada pun ada satu pertanyaan dari papi yang sempat membuat mereka menelan saliva tanpa sadar.

"Aku pikir kalian tinggal sementara di Paris bersama Jaehee dan nyonya Lee."

Papa yang menjawab itu dengan jawaban singkat, sebelum mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Hingga akhirnya mereka selesai, kemudian Liam menyadari bahwa jika ia membuka suara ini tak akan mengganggu pembicaraan yang dimiliki orangtuanya dan Niall. Ia dan Niall sempat saling melirik sebelum kemudian Liam sungguh mengatakannya.

"Bisakah jika aku dan Niall membicarakan rencana pernikahan pada kalian?"

Tangan Niall yang berada di atas paha Liam sejak tadi, kini meremas meremas celana Liam menunggu reaksi setiap orang.

"Kalian akan melakukannya?" Papi yang pertama bereaksi terkejut, sebab sebelumnya mereka tak pernah membahas ini. Ia menatap Niall.

"Kita belum menentukan kapan tepatnya." Ujar Niall.

Liam mengangguk dan menambahkan. "Aku dan Niall hanya ingin kita mulai membicarakannya, mengingat untuk acara itu perlu persiapan yang sungguh-sungguh. Aku ingin mengetahui apa saja yang perlu aku dan Niall pikirkan sebelum melaksanakan acaranya, aku ingin perencanaannya tidak mendadak."

"Kalian sudah memiliki gambaran seperti apa acaranya? Mungkin itu yang harus lebih dulu kalian bicarakan." Renjun dulu tak terlalu mengurusi hal semacam itu saat Jeno mengajaknya menikah, ia menumpahkan semua itu pada Jeno yang juga tak menyarankan ia ikut andil selain mengatakan kecocokan konsepnya dengan keinginan Renjun.

Tapi sekarang ia mendapati putranya hendak melaksanakan acara pernikahan, Renjun ingin berusaha membantu.

"Sudah, aku dan Niall ingin acaranya di luar ruangan." Liam meminta ponsel Niall lalu menunjukkan maksud ucapannya berupa gambar yang beberapa hari lalu ia lihat juga dari ponsel Niall.

"Kau berencana mengundang berapa banyak teman, Liam?" Niall memeluk lengannya dan bertanya pelan, hati-hati.

Liam mengedikkan bahunya. "Tidak akan banyak."

"Kau sungguh tidak ingin seperti papa dan baba?" Niall kembali bertanya memastikan.

"Tidak, aku hanya ingin acara yang lebih dekat dengan keluarga." Liam tersenyum, mengatakan keinginannya.

Dan selain karena Liam ingin acara penting itu hanya dihadiri orang-orang terdekatnya, Liam juga tau Niall tak akan terlalu nyaman jika ia menemui terlalu banyak orang.

Mereka sama-sama hanya menginginkan pernikahan yang tidak mewah dan tidak terlalu ramai, cukup sederhana, manis dan dapat diingat dengan menyenangkan.

"Aku tidak ingin ada aunty Jaehee." Pinta Niall begitu saja, suaranya hanya bisa didengar oleh Liam.

Dan Liam yang mendengar permintaan itu jelas langsung mengiyakan tanpa pikir lanjang karena ia juga gak ingin ada adik dari papanya itu di acara sepenting itu. Liam tak ingin ada kekacauan apapun lagi, ini acaranya dan Niall, semuanya harus sesuai keinginan mereka, ini adalah acara orangtua mereka juga, Liam tak ingin ada orang yang sangat mungkin mengusik kenyamanan orangtua mereka.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang