Niall tak lepas dari papinya sejak kejadian sore itu, bahkan setelah meninggalkan Hami saat itu Niall tak menjauh dari papinya. Ia memastikan dirinya tetap bersama papinya, malamnya pun Niall ingin tidur dengan papinya.
"Niall, papi tak akan kemanapun." Papi terkekeh merasakan anaknya dengan cepat meraih lagi tubuhnya untuk dipeluk, seolah takut dirinya kabur.
Anak itu justru mengeratkan pelukannya dalam posisi berbaring mereka. "Tak boleh sendirian." Karena sangat besar kemungkinan nanti papinya akan menangis sendirian jika ia lepas.
Dan juga Niall memeluk papinya sebagai upaya untuk memberi hangat pada sosok yang ia sayang itu, setelah mendengar kalimat mengerikan tadi. Niall berharap pelukannya bisa membuat papinya merasa lebih baik walau itu hanya sedikit.
Sejak mendengar kalimat yang dilontarkan Hami, papinya itu hanya terus mengusap punggungnya dan menenangkannya. Sementara ia sendiri tak menangis, tapi Niall tau hati papinya berdenyut perih. "Denganku saja menangisnya, tidak apa papi."
Suara lembut Niall membuat papinya mulai bergetar, tangannya meremas selimut yang dikenakan Niall dan air matanya turun.
"Niall, maaf karena papi adik Liam jadi tak menyukaimu." Dalam hatinya ia ingin mengatakan pada Niall kalau anaknya itu harusnya tak perlu sampai melepas Liam hanya agar ia tak mendengar kalimat itu lagi dari Hami.
Tapi kalau ia mengatakan untuk Niall mempertahankan Liam, sama saja dengan ia tak tau diri tentang masa lalunya yang sudah diketahui adik Liam begitu buruk, maka papi Niall pun tak mengatakan permintaannya agar Niall bertahan dengan Liam.
"Bukan karena papi, itu Hami saja yang menyebalkan." Niall merasakan hatinya kembali nyeri mendengar suara parau papi.
"Bagaimana besok Liam dan baba akan kemari." Papi mengingatkan janji Niall dengan baba yang akan membuat scone.
Niall menyembunyikan wajahnya dalam pelukan papinya, ia hanya diam enggan menjawab tentang itu. Hingga usapan itu kembali ia dapat dari papinya.
"Maaf karena papi kau dan Liam harus seperti ini." Tangisan papi tak seberisik Niall tadi, itu hanya tetes demi tetes yang keluar dari matanya.
"Bukan salah papi." Kukuh Niall.
Tapi papi masih merasa bersalah pada anaknya itu, karena ia tau bagaimana kisah Niall dan Rui sebelumnya lalu sekarang melihat Liam dan Niall seperti apa. "Niall, kau baru menemukan cinta berbalas dari Liam. Dan karena papi kau harus melepas Liam."
Kali ini Niall mendongakkan kepalanya menatap papinya. "Papi, aku dan papi baru bisa berbicara sedekat ini sebentar dan karena akulah papi mendengar kata itu lagi. Disini aku yang salah karena membiarkan oranglain menghinamu, padahal kau tak— "
"Tapi itu kenyataan Niall, kau tau sendiri bagaimana cerita papi dulu. Hami tak salah, papi orang yang buruk. Dan papi memang harus minta maaf karena Niall lahir dari papi. Padahal Niall begitu baik, tapi terkena imbas rendahnya papi."
Niall menggelengkan kepalanya tak suka mendengar papinya menghina dirinya sendiri. "Papi bukan orang seperti itu.." Tangis Niall kembali terdengar sedih. "Aku senang lahir dari papi." Lanjutnya dengan isakan.
Malam itu Niall banyak menangis dalam pelukan papinya, sampai ia jatuh tertidur karena kelelahan.
Pagi harinya, ia sempat terbangun sebentar untuk mengecek ponselnya. Tak ada pesan dari Liam. Niall pikir Hami belum mengatakan apa yang ia katakan kemarin. Karena ia yakin jika Hami telah menyampaikannya Liam akan meminta penjelasan lebih darinya.
Niall menggigit jarinya, berpikir bagaimana ia akan memberitau Liam tentang keinginannya berhenti atas hubungan mereka karena ia tak akan mau berhadapan dengan sifat menyebalkan Hami lagi.
