Cause of Winds

2.4K 225 107
                                        

"Kau ingin makan apa hari ini?" Liam mengelus pipi Niall gemas, ia masih bisa merasakan kulit kekasihnya yang dingin karena angin musim dingin yang masih tersisa menerpa kulit mereka.

Keduanya baru keluar dari perpustakaan, dan mulai merencanakan makan bersana. Ada yang membuat Liam tak bisa melepas senyum lebarnya sejak keluar perpustakaan, dan kini terus menyentuh wajah Niall juga membelai pipinya menahan gemas.

Liam duduk di samping Niall yang masih serius membaca bukunya, sementara Liam telah menyelesaikan bacaannya juga beberapa tugasnya. Liam melirik adanya jurnal Niall diantara buku tugas kekasihnya itu, ia pun memutuskan mengambilnya dan melihat-lihat isinya.

Niall sempat menoleh ingin tau, tapi setelah melihat apa yang Liam lakukan ia kembali fokus pada bacaannya. Jurnal miliknya bukan rahasia untuk Liam, kekasihnya sering melihat buku catatannya yang lain juga saat ke apartemen.

Sebuah gambar cangkir teh juga stiker lucu bergambar beberapa dessert menghiasi salah satu halaman yang tengah Liam buka, ia menemukan nama babanya juga disana. Niall menyebut bahwa baba Renjun pandai membuat dessert, kemudian Niall yang menyebut bahwa ia akan belajar membuat banyak hidangan dessert untuk Liam coba dan nanti akan ia buat dan kirim pada Renjun jika ia pulang.

Kepala Liam menoleh dengan senyumannya, ia ingat Niall pernah mengatakan kalau ia mirip baba dan menyebut bahwa mungkin saja selera baba Renjun pun mirip dengannya.

Dan Liam tersenyum atas hal itu, iya dirinya dan babanya memiliki kemiripan dalam menyukai banyak hal.

Tangan Liam meraih peralatan tulisanya, mencari sticky notes yang ia bawa kemudian menulis.

'Baba suka rasa vanilla.' Liam menempelnya di sampul buku jurnal milik Niall, kemudian menggeser buku itu ke hadapan Niall.

Kepala Niall mendongak, melihat tangan Liam yang menggeser bukunya yang tadi dipegang kekasihnya itu. Lalu Niall sadar ada sticky notes disana. Setelah membacanya, Niall menatap Liam yang memberinya anggukan pelan.

Dengan perlahan Liam mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah mereka kemudian berbisik di depan bibir Niall.

"Aku juga suka yang mirip kesukaan baba. Manis dan lembut." Liam meraih bibir Niall dan melumatnya dengan nikmat.

"It's similar to vanilla." Bisiknya diantara lumatan itu.

Bibir Niall tak beraroma vanilla, Niall memiliki wangi buah-buahan manis yang menyenangkan. Tapi Liam mendapati manis dari bibir Niall yang bisa menyamai manisnya rasa vanilla kesukaan babanya.

Merasakan lumatan Liam semakin dalam, Niall membalasnya. Tubuhnya bergeser maju pada tubuh Liam, suara ciuman mereka terdengar samar di salah satu sisi perpustakaan. Mata mereka sama-sama terpejam menikmati itu, saat rasa sesak mulai dirasa barulah keduanya memberi jarak antara bibir mereka.

Liam membelai pipi Niall, senyumnya menahan gemas menangkap warna kemerahan pada pipi kekasihnya itu.

Setelah itu Niall kembali meraih bukunya, tapi semua fokusnya tak lagi sama. Wajahnya terus terasa panas mengingat ucapan Liam soal vanilla.

Mendengar dehaman kecil Niall, Liam tersenyum lebar. Matanya mengintip wajah kekasihnya itu dari samping, menyentuh pipi lucu Niall dan mengusap-usapnya dengan lembut.

"Sama saja dengan Liam." Jawaban dari Niall membuat elusan Liam pada pipinya berhenti, ia menatap kekasihnya tak setuju.

"Tak lama ini kita baru saja memulai lagi hubungannya, aku ingin semuanya dimulai lagi dengan benar-benar. Dan ada yang sebelumnya terasa salah untukku, sejarang aku ingin kita perbaiki itu."

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang