Liam tengah mengusap punggung Renjun, saat menyadari ada papanya di ambang pintu. Liam mengangkat halisnya, bertanya pada Jeno dengan tatapannya. Dan yang ia dapati justru gelengan kepala, papanya pun tak tau apa yang terjadi pada baba.
"Liam, Niall bagaimana?" Tanya Renjun, ia ingin tau keadaan anak itu dan juga ingin tau bagaimana perasaan Niall setelah mendapat ucapan tak menyenangkan dari Hami.
"Ia membaik." Jawab Liam, ia sedikit heran dengan pertanyaan yang keluar dari babanya setelah menangis adalah kondisi Niall— babanya tau tentang kejadian di klub tempo hari dari cerita papanya. Apa tangis babanya ada hubungannya dengan Niall?
Renjun meremas punggung Liam, saat ingatannya kembali membawa perasaan sedih ketika ia mendengar bentakan Jaehee dulu padanya. "Baba akan menemui Niall." Ujar Renjun menahan erangan sedihnya.
Dirinya pikir ia perlu menemui Niall dan meminta maaf soal kelakuan putrinya, dan berbicara padanya bahwa Niall tak akan ditolak sekeras itu olehnya.
Sementara Liam sekarang semakin yakin tentang kedatangan Renjun padanya ini memang ada hubungannya dengan Niall. "Baba, kau mendengar yang Hami katakan?" Tebaknya.
Renjun mengangguk, dan Jeno yang sejak tadi menunggu Renjun hanya bisa mengerutkan dahinya. Apa Renjun sekacau ini hanya karena ucapan putrinya? Memangnya apa yang dikatakan Hami? Jeno penasaran.
Tangan Liam berhenti mengusap punggung Renjun, ganti membalas pelukannya dengan sama eratnya. "Baba, Liam tau baba tak akan mendorongnya pergi dariku." Ujar Liam yakin, ia tau betul bagaimana babanya tak akan semenyebalkan Hami.
Pikir Liam tangis Renjun hanya karena merasa bersalah pada Niall, sebab Hami telah mengatakan hal buruk tentang Niall.
Mendengar ucapan Liam Renjun menggelengkan kepala keras. "Tentu tidak." Karena Renjun tau rasanya jika jadi Niall.
Setelah merasa lebih baik, Renjun mulai melepas pelukannya pada Liam. "Beritau tempat tinggal Niall." Pintanya, dan Liam mengangguk sembari mengulas senyum agar babanya mau ikut tersenyum. Renjun yang melihat itu merasakan hatinya lega seketika.
"Papa menunggumu." Liam mengedikkan bahunya menunjuk sang papa, Renjun menoleh dan berjalan pada Jeno yang menyambutnya dengan pelukan pada pinggangnya.
Setelah itu Renjun dan Jeno kembali ke kamar mereka, dengan Jeno yang mulai memikirkan beberapa penggal kalimat yang ia dengar dari Renjun dan Liam tadi. Penolakan Niall? Ucapan Hami? Jeno mengingat itu. Dan memikirkannya. Tapi ia belum berani mengajak Renjun berbicara sementara tadi saja submisifnya itu tak menjawab pertanyaannya dan hanya menyerukan nama Liam.
Hingga malam semakin larut, Renjun memeluk Jeno erat. Keduanya belum juga terlelap, dan akhirnya Renjun membuka suara tanpa melepas pelukan eratnya pada Jeno. Seolah dengan itu Renjun mendapat pegangan selagi ia menceritakan hal yang jadi pengingat luka di masa lalunya.
"Ketakutanmu dulu, tak salah." Renjun tak lagi sepenuhnya menyalahkan Jeno atas ketakutan yang dimiliki dominan itu dulu.
"Itu terjadi pada Liam." Lanjut Renjun.
Jeno menanti kelanjutan setiap kata yang akan Renjun ungkapkan lagi.
Tangan Renjun meremas pakaian Jeno, dalam pelukan itu rahangnya mengeras menahan tangis yang ingin ia keluarkan tiba-tiba. "Kekasih Liam mendapat penolakan dan penghinaan itu."
Suara Renjun terdengar lebih kaku, bahkan Jeno dapat merasakan kesal tertahan dan suara Renjun mulai bergetar saat mengatakan.
"Hami banyak mengambil sifat kalian."
Itu adalah pembuka dari semua ingatan Jeno yang ditarik lagi seiring cerita Renjun tentang Hami dan apa yang telah putri mereka lakukan. Setiap kejadian yang dulu menimpanya dan Renjun, air mata dan lelah yang dulu mereka rasakan seolah dikembalikan pada masa kini.
Dan sesak itu masih sama.
Yang Jeno kembali ulang dalam benaknya, ia tak akan pernah bisa mengganti luka Renjun dengan apapun dan waktu pun tak akan bisa sepenuhnya menyembuhkan mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Niall menunduk menatap makanannya dengan tak minat, ayahnya mengusap kepalanya lembut. "Ada apa? Kau begitu murung pagi ini."
"Ayah, aku sudah tak apa untuk pergi keluar kan?" Niall rasanya ingin menemui Liam, tapi sedetik kemudian ia teringat bahwa ini bukan di paris dimana ia bisa menemui Liam sesukanya.
Karena disini ada Hami yang bisa kapan saja muncul di hadapannya, dan Niall benar tak mau bertemu gadis itu.
"Cuaca semakin dingin, lebih baik tetap di rumah. Ayah juga akan di rumah, kita hias pohon natal bersama." Ucapan ayahnya kemudian diangguki Niall karena setelah dipikir kembali jika ia ingin bertemu Liam, mereka perlu membicarakan dulu tempat bertemu.
Tapi sejak pagi ia belum menemukan pesan dari kekasihnya itu yang mengucapkan selamat pagi, dan pesan Niall kemarin yang menanyakan apa Liam sampai rumah dengan selamat atau tidak— kemarin Rui menjenguknya, dan Niall melihat bekas luka baru pada pipinya. Saat Niall bertanya, Rui hanya mengatakan semuanya perbuatan Liam. Niall khawatir jika Liam pun mendapat luka serupa. Tapi kekasihnya itu tak juga membalas pesannya.
Hal itu langsung membuat pikiran Niall tertuju pada bagaimana sikap Liam kemarin setelah ia menceritakan tentangnya dan Rui. Juga keterlibatan tak langsung Hami dalam hubungannya.
Apa sekarang Liam mulai berpikir untuk tak lagi memberi cinta padanya? Apa Liam masih masih memikirkan kejadian malam dimana ia ada dalam pelukan Rui dengan keadaan yang tak seharusnya?
Papi Niall yang baru datang dengan membawa sweater milik Niall duduk di sampingnya, saling melempar tatap prihatin dengan dominannya. Karena sejak tadi Niall belum juga menyentuh sarapannya padahal ia dan ayah Niall telah selesai.
"Pakailah dulu, sejak tadi kau terus memakai pakaian tidurmu yang tipis." Papi Niall membantu anaknya mengenakan pakaian hangat itu.
"Niall..." Baru saja sosok itu hendak bertanya, Niall lebih dulu meraih tangannya dan meremasnya pelan. Papi Niall melihat kesenduan di mata anaknya.
"Papi, bagaimana kalau— " Niall terdiam sebentar memikirkan ingin mengatakan ketakutannya seperti apa. Ketakutan yang selalu dimilikinya atas diri Liam.
Pada akhirnya ia meminta sebuah peyakinan pada papinya. "... Liam akan tetap denganku kan, Papi?"
Tatapan Niall penuh harap saat menanyakan itu, dan papi Niall pun merasakan dadanya berdenyut nyeri melihat itu. Tiba-tiba ia teringat siapa sosok papa Liam, tapi ia juga cukup yakin tentang Liam yang tak mungkin sejahat itu pada Niall dan padanya.
Semoga saja papa Liam tak akan mengatakan apapun tentang masa lalunya pada Liam, karena ia tak ingin menghancurkan kisah cinta anaknya. Semoga papa Liam mengizinkan Liam tetap bersama Niall tanpa memandang siapa dirinya dulu.
Tanpa tau bahwa yang jadi masalah dalam hubungan Niall Liam bukanlah papa Liam, tapi adik dari Liam.
"Liam akan selalu denganmu, ia begitu menyayangimu Niall." Jawab papi Niall dengan tangan yang membalas genggaman tangan anaknya.
Iya, papi Niall sepercaya itu pada Liam.
Niall pun menghambur pada pelukan papinya, dengan pikiran yang tak seberisik tadi. Meski ia tetap bertanya-tanya alasan Liam belum menghubunginya juga.