"Kakek, aku akan memberi makan ikannya." Hami berlari menuju bagian belakang rumah sang kakek.
"Kau akan menggigil, Hami." Tuan Huang melarangnya, karena meskipun kolam ikannya ada di bagian teras belakangnya tapi itu tetaplah bagian luar rumah. Mereka bisa merasakan angin musim dingin yang berhembus.
Hami menoleh. "Sebentar saja, sekalian menunggu makan malamnya siap." Mereka memang tengah menunggu pelayan yang tengah menyiapkan makanan untuk mereka.
Setelah sosok Hami lenyap dari hadapannya karena kembali berlari mengikuti keinginannya, tuan Huang menatap ponselnya. Sebelumnya Renjun telah menghubunginya dan memberitaunya tentang situasi di rumah mereka, tuan Huang mengatakan pada Renjun bahwa ia akan menjaganya.
Tadi pun saat Hami sampai di rumahnya bersama Jeno yang mengatakan bahwa Hami begitu kukuh ingin kemari, dan tuan Huang pun memang sudah tau keinginan anak itu dari Hami langsung.
Jeno mengatakan ia tak tau alasan Hami begitu bersikeras ingin kemari, dan tuan Huang pun sama. Hingga setelah makan malam mereka, Hami menghampiri dirinya dan pindah duduk di sampingnya. Sementara para pelayan, membereskan meja makan mereka.
"Kakek, dulu kakek hukum papa." Ujar Hami.
"Karena kakek marah pada papa, sekarang kakek tidak akan hukum Hami?" Tanya anak itu.
Dan tuan Huang justru terkekeh. "Kenapa kau seolah mengharapkan sebuah hukuman, sayang."
Hami menunduk menatap jemarinya. "Aku membuat banyak kesalahan." Akunya pada sang kakek.
Kali ini tuan Huang menatap Hami serius. "Hami, hukumanmu itu bukan harus dari kakek, kau bahkan sudah menghukum dirimu sendiri."
Anak itu bergumam bingung.
"Kau menyesali semuanya." Ujar tuan Huang. "Penyesalanmu adalah hukumanmu." Jelasnya pada cucunya itu.
Hami menyetujui itu, ia memang merasa begitu sesak atas semua rasa bersalah yang menumpuk padanya. Ia merasa begitu lelah dengan kesedihan yang ia miliki karena belum juga mendapat maaf dari siapapun.
"Kakek, aku harus meminta maaf seperti apa?" Pertanyaan yang sama seperti yang diajukannya pada Renjun.
"Kakek tidak tau." Karena tuan Huang pun pernah jadi yang bersalah juga, ia menjadi orang yang ingin dimaafkan oleh anaknya sendiri. Kesalahannya jelas besar, dan ia berusaha meminta maaf sebisanya pada Renjun.
Hami pikir kakeknya akan tau karena pernah dipihak yang sulit memaafkan. "Kau pernah sulit memaafkan papa. Kau jadi memaafkan papa karena apa? Papa melakukan apa hingga kau mau memaafkannya?"
'Jeno sampai berani memberikan nyawanya sebagai peyakinan atas penyesalan dan permintaan maafnya.' Tuan Huang menjawab itu dalam hatinya, karena tak mungkin mengatakannya pada Hami.
Tuan Huang menatap Hami, ia tengah mencari tau bagaimana memberitau Hami tentang sebuah kesalahan yang kadang sulit dimaafkan. Tuan Huang juga mencari cara menjawab pertanyaan anak itu tanpa membuatnya merasa semakin sedih sebab belum bisa mendapat maaf.
"Hami, kalau begitu kenapa tidak letakkan dirimu di sisi orang yang kau sakiti itu. Pikirkan jika ada orang melakukan kesalahan seperti milikmu, lalu apa yang akan kau lakukan jika ia berusaha meminta maaf padamu?"
Gadis kecil itu mulai merasakan dadanya sakit lagi, tenggorokannya nyeri dengan matanya yang mulai perih. "Tidak ada, kakek." Jawabnya.
"Aku kalau jadi papi kak Niall tak akan mau memaafkan Hami, aku kalau jadi kak Niall pun akam melakukan hal yang sama, membenci Hami." Ujar anak itu dengan terisak.
