Karena letak tempat acara pernikahan Liam dan Niall cukup jauh dari apartemen mereka, maka Liam dan Niall pun sama menginap di hotel seperti anggota keluarga yang lain.
Pihak hotel sempat akan memberi hiasan khas untuk pengantin di kamar mereka, namun Liam menolaknya karena ia pikir setelah acara nanti ia dan Niall hanya ingin beristirahat di kamar. Ia tak ingin mereka justru disambut dekorasi yang berakhir harus mereka bereskan sebelum tidur.
Dan memang begitu keduanya tiba di kamar hotel, tak ada pembicaraan atau kegiatan mereka yang mengarah pada hubungan intim setelah pernikahan. Liam lebih fokus memastikan Niall baik-baik saja.
"Kemari." Liam meminta Niall mendekat padanya untuk membantu membuka jas milik Niall.
"Kau lapar tidak, Niall?" Tanya Liam sementara tangannya mengusap pipi Niall yang sedikit memerah, ini bukan karena merona malu. Ini karena tadi Niall meminum wine, sementara anak itu tak begitu menyukainya.
Dan karena Niall sangat jarang meminum wine selain untuk menghargai acara seperti tadi, membuatnya mudah mabuk. Kenyataan bahwa Niall tadi kesulitan untuk sekedar membuka jasnya adalah bukti bahwa anak itu sedikit mabuk.
"Kau ingin minum?"
Bukannya menjawab, Niall justru memeluk tubuh Liam dan memejamkan matanya sementara kepalanya bersandar di dada Liam. Anak itu tidak tidur, nafasnya masih berat, menandakan ia masih merasakan tak nyaman dan hanya sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Liam yakin Niall mulai merasakan pusing kecil.
"Aku meminta dibawakan jus lemon untuk membuatmu sedikit lebih baik, setelah meminum itu kita berendam air hangat." Liam mengusap punggung Niall.
Tak lama kemudian staff hotel datang membawa segelas jus lemon juga sepiring biskuit, Liam membawa tubuh Niall duduk pelan-pelan dan memintanya meminum air itu.
"Kau akan membaik setelah meminum ini, Niall sayang." Liam meyakinkan Niall dengan lembut.
Niall pun mengikuti semua yang Liam minta, meminum jus lemon, memakan dua keping biskuit sebelum kemudian kembali menjatuhkan kepalanya pada bahu Liam yang berjongkok di hadapannya yang duduk di atas sofa.
Liam perlahan berdiri, menyugar rambut Niall. "Kita harus membersihkan tubuh sebelum tidur."
Tangan Niall menyentuh pangkal hidungnya sendiri sebelum mendongak pada Liam. "Kepalaku sakit." Rengeknya.
Mendengar itu Liam mengangguk. "Aku tau, amour. Itu akan hilang setelah tidur, tapi sebelum tidur kita harus mandi lebih dulu, ya?"
"Aku akan membantumu." Liam berujar lembut.
Kali ini Niall mengulurkan tangannya meminta Liam membantunya berjalan menuju kamar mandi. "Jangan air dingin."
Liam mengangguk, membantu Niall menanggalkan pakaiannya. "Iya, kita akan berendam air hangat. Aku akan memijat kepalamu."
Semua hal yang seharusnya bisa Niall lakukan sendiri kali ini Liam yang melakukannya, dari mencuci muka hingga membilas tubuh. Tadi Liam sempat mengajak Niall berendam air hangat sebentar untuk merileks kan tubuh mereka yang sejak pagi lebih banyak berdiri. Liam juga memijat lembut kepala Niall sebelum kemudian beranjak dan membilas tubuh mereka.
Setelah berendam dan mandi, Niall mulai merasakan sedikit membaik. Ia pun memakai baju sendiri, namun begitu selesai ia langsung merangkak naik ke atas ranjang untuk berbaring.
Melihat hal itu Liam mengikutinya untuk kemudian mengecek lagi wajah Niall yang kali ini tak sekacau tadi, kali ini wajah Niall lebih terlihat menahan kantuk.
"Maaf Niall sayang." Tangan Liam membelai wajah Niall lembut, sementara Niall pun mengerang nyaman merasakan itu.
"Ini akan sembuh kan, Liam?" Niall bertanya mengenai rasa pusingnya.
