Niall masih memeluk Liam, tak berniat melepaskannya meski ini sudah satu jam berlalu setelah kejadian tadi. Bahkan Damien pun sudah pulang, dan Niall serta Liam hanya berpindah posisi yang tadinya berdiri kini duduk di sofa.
"Kau tak lapar, Niall? Aku buatkan sesuatu untukmu." Liam belum berani menanyakan apapun mengenai kejadian hari ini pada Niall, khawatir jika memang Niall tak suka membahasnya.
Niall sendiri kini merengut di pelukan Liam. Tentu saja Niall lapar, dan Liam pun yang baru kembali dari urusan pekerjaannya pasti lapar juga. Niall tak bisa terus bersikap egois seperti ini, dengan ingin memeluk Liam sepanjang waktu. Tapi ia nyaman seperti ini, sudah lama ia tak memeluk Liam lama, dan juga dengan pelukan Liam ini Niall merasa seolah ketakutannya berkurang.
"Sebentar." Cicit Niall pelan.
Liam mengangguk. "Kau mau menceritakan lebih banyak mengenai kejadian hari ini padaku tidak? Mungkin saja Damien melewatkan sesuatu yang belum kau ceritakan." Ia mencoba menanyakannya, ingin melihat reaksi Niall.
Namun yang Niall lakukan hanya diam, tak menggelengkan kepalanya ataupun mengangguk.
"Niall, aku akan mengerti jika kau memang tak ingin mengatakannya karena dirimu tak nyaman. Tapi jika itu karena aku yang pernah tak ingin mendengarmu, aku minta maaf." Liam berujar lembut, tangannya mengusap punggung Niall.
"Aku harap kau menceritakan dan tak menyembunyikannya dariku."
"Semenjak kejadian di kantor uncle hari itu, kau tak lagi mengungkit Hugo, awalnya aku pikir ia sudah tak mengikutimu lagi. Tapi kejadian hari ini membuatku tau bahwa Hugo masih mengikutimu, dan kau menyembunyikan fakta itu dariku."
"Apa ini karena kau tak suka membahas Hugo lagi, atau karena aku?" Tanya Liam, memastikan kembali alasan Niall diam selama ini.
Niall menyembunyikan wajahnya di dada Liam, lalu berbisik. "Kau mengatakan aku berlebihan, dan kau juga membentakku."
Mendengar hal itu Liam menghela nafasnya, kesal pada dirinya sendiri karena berujung membuat Niall seperti ini. Andai ia tak membentak Niall hari itu, mungkin Niall akan terus menceritakan tentang Hugo padanya, lalu kejadian hari ini tak akan terjadi sebab Liam bisa lebih waspada dengan meminta bantuan Damien lebih awal.
"Maaf," Ujar Liam penuh sesal. "Aku minta maaf Niall sayang."
"Bentakanku hari itu membuatmu berpikir ceritamu menggangguku." Liam mengeratkan pelukannya.
"Aku ingin kita meluruskan hal ini sepenuhnya, bukan hanya tentang aku yang meminta maaf, tapi aku yang harus kembali membuatmu percaya padaku."
Niall diam, mendengarkan semua yang Liam katakan.
"Aku tak terganggu dengan ceritamu, jika kau mengatakannya saat aku tak dalam keadaan lelah. Aku akan mendengarkan semuanya."
"Kau bisa menceritakannya padaku setiap hari, apapun itu."
"Aku minta tolong padamu untuk ini, Niall. Aku tak ingin kau mendapat hal seperti hari ini. Aku tak ingin kau ketakutan lagi seperti ini." Liam merasakan Niall yang melonggarkan pelukannya lalu mendongak padanya.
Jemari Liam mengelus pipi Niall. "Tolong ya Niall?"
Niall menatap Liam lama sebelum kemudian. "Hugo mengikuti kita saat pemeran seni juga, ia mengikuti saat kita makan bersama, ia juga ada disana saat kita mencari beberapa kemeja untuk kau beli."
Mata Liam membesar tak percaya, menyadari bahwa sebanyak itu Niall menyimpannya sendirian. "Ya tuhan, Niall. Maafkan aku...aku membiarkanmu dengan ketakutan dan ketidaknyamanan itu begitu lama."
