Niall bangun lebih dulu, ini cukup jarang terjadi karena lebih sering Liam yang bangun lebih awal kemudian ia akan membangunkan Niall saat ia sendiri sudah rapi.
Pernikahan mereka sudah terlewat cukup lama, tapi Niall masih merasakan perasaan membuncah yang sama setiap bangun tidur dan menyadari kenyataan bahwa ia dan Liam kini adalah pasangan menikah.
Meskipun sebelum pernikahan mereka sudah tinggal bersama, tapi perasaan yang timbul setelah menikah begitu berbeda. Debaran yang tak bisa dijelaskan itu terasa selalu menggelitik, terbangun setiap pagi dengan adanya cincin pernikahan yang terselip di jari rasanya seperti baru mendengar lagi fakta bahwa perasaan mereka saling berbalas.
Tak langsung beranjak dari kasur, Niall justru memperhatikan Liam yang masih tidur. Niall memiliki waktu untuk memperhatikan Liam tanpa harus tertangkap basah memerah malu.
Hubungan mereka sudah terjalin lama, tapi Niall masih tak bisa tertangkap oleh Liam tengah memperhatikannya. Niall akan kalah dengan mata indah Liam yang menatapnya, Niall tak pernah bisa menatap terlalu lama wajah Liam tanpa pipinya memerah.
Hingga kini Niall masih takjub setiap melihat wajah Liam, hidungnya persis milik papanya, sementara matanya adalah yang diwariskan babanya. Sejak pertemuan pertama mereka dulu Niall sudah memuji wajah rupawan Liam, dan sampai sekarang Niall masih mengagumi itu.
Tangan Niall menyentuh rambut Liam, kemudian menyugarnya. Melihat lebih jelas wajah Liam. Lalu perlahan ia mengecup hidung Liam sebelum kemudian bangun untuk mandi dan menyeduh minum hangat.
"Kau bangun sejak tadi, Niall?" Suara Liam yang baru keluar kamar membuat Niall menoleh dan mengangguk.
Niall baru saja membuka tirai jendela.
"Aku sudah membuat teh yang baba belikan saat itu." Niall berjalan menuju meja makan dan mengambil cangkir teh yang ia siapkan untuk Liam tadi, kemudian memberikannya pada Liam yang langsung menerimanya.
Mengenai baba dan papa, keduanya sudah pulang sejak dua bulan lalu setelah hampir dua tahun mereka tinggal di Paris. Keduanya memutuskan kembali meski tau di sana akan bertemu Jaehee lagi, karena bagaimana pun rumah mereka bukan di Paris.
Dan Jaehee, ia benar-benar tak dibiarkan kembali mengusik kehidupan keluarga kecil baba. Niall tau kakek Liam yang melakukannya, ditambah juga papa dari Liam pun terlihat sama muaknya pada Jaehee meskipun ia adik kandungnya.
"Bagaimana jika kita sarapan di luar? Sudah lama kita tidak makan pagi di luar." Liam menyimpan cangkir tehnya kemudian mengajukan usul tersebut.
Ditambah itu juga bisa mengurangi kesibukan di dapur mereka sebelum berangkat kerja.
Dan Niall pun mengangguk setuju. "Iya, boleh."
Liam tersenyum mendapat jawaban itu, ia pun mendekat pada Niall untuk mengecup pipinya. Niall mengerutkan dahinya ketika Liam menurunkan ciumannya ke leher hingga dekat dada. Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, hingga kemudian lidah hangat dan basah Liam menyapa kulitnya.
"Jangan digigit, Liam." Niall memperingatkan dengan erangan tertahan karena nafas hangat Liam membuatnya meremang.
Mendengar itu Liam terkekeh, lalu kembali mengecup bibir Niall. "Tunggu aku memakai dasi setelah itu kita berangkat."
____________
"Jangan ajak Lilou." Niall menjatuhkan dagunya pada bahu Liam, wajahnya merengut tak setuju ketika Liam mengatakan mereka akan kencan sore ini.
Alasan Niall tak ingin mengajak Lilou adalah karena beberapa menit yang lalu anak anjing itu melengos pergi ketika Niall hendak mengelus kepalanya. Inilah yang selalu terjadi antara Niall dan Lilou permusuhan kecil sebelum kemudian nantinya aka kembali saling menempel satu sama lain.
Liam terkekeh, melirik Lilou yang juga terlihat tertidur di bantal kecilnya.
"Kalau begitu ayo pergi selagi Lilou tidur." Tangan Liam meraih tangan Niall dan menggenggamnya.
Keduanya pun pergi keluar dengan tujuan untuk berjalan-jalan melihat-lihat tanaman hias juga pergi ke toko keramik untuk mendapat peralatan makan baru.
"Liam!" Niall memekik tertahan ketika matanya melihat sebuah piring keramik dengan kupu-kupu mungil sebagai hiasan gambar di pinggirnya.
"Kau ingin mengambilnya?" Tanya Liam karena biasanya Niall tertarik pada barang dengan hiasan manis seperti itu.
Tapi kali ini Niall justru menggelengkan kepalanya. "Tidak, piringnya terlalu besar. Kita tak pernah memiliki banyak tamu ke rumah." Karena memang piring itu memiliki ukuran untuk menyimpan masakan dalam jumlah yang banyak.
Keduanya pun memilih peralatan makan yang sesuai, lalu mata Niall melirik miniatur tanaman cantik di dekat kasir. Ia menoleh pada Liam lalu memberi senyum manjanya.
Liam terkekeh melihatnya, lalu mengangguk. "Kau sudah lama tak membeli miniatur untuk hiasan rak."
Setelah membayar semuanya, keduanya meninggalkan toko tersebut. Berniat untuk menbeli cemilan untuk mereka nikmati di taman sambil menikmati langit sore menjelang malam yang cantik.
Namun mata Niall lebih dulu melihat sebuah toko sepatu yang langsung membuatnya teringat pembicaraan mereka beberapa waktu lalu yang hendak membeli sepatu bersama.
"Liam, kita sudah lama tidak membeli sepatu yang sama. Sekarang beli yang sama ya?"
"Kalau memang ada yang sesuai kita beli." Liam mengusap tengkuk Niall yang senyumnya bertambah lebar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_______
Maaf ya partnya pendek, aku kayaknya mau demam deh gak enak bgt badannya. Kepalaku juga gk fungsi dengan baik 😭🙏🏻
Beberapa part ke depan narasinya akan ringan kayak gini, nyeritain keseharian Liam Niall lagi sebelum nnti ketemu badai lagi hihi