Semenjak Niall merasakan semua keanehan Hugo terhadapnya, ia sudah mulai tertekan. Lalu ketika mengetahui bahwa Liam tak memiliki pemikiran yang sama atas ketakutannya, Niall pikir dirinya mulai merasakan stress akibat dari kegelisahannya yang ia tahan sendirian. Dan saat ia mendapati Hugo sungguh nekat membawanya pergi secara paksa dan terus berusaha menyentuhnya, itu adalah puncak dari semua pertahanan dirinya.
Liam yang panik dengan suhu tubuh Niall yang tak normal segera membawa Niall ke rumah sakit, dan Niall perlu dirawat hingga demamnya turun.
Kini Liam duduk di sisi ranjang tempat Niall dirawat, tangannya melingkupi tangan Niall yang terlampau hangat. Liam mengusapnya lembut.
"Maaf, amour." Bisiknya.
Penculikan Niall kemarin membuat Liam semakin merasa bersalah, selain karena sebelumnya mengabaikan aduan Niall atas kegelisahannya mengenai Hugo. Liam juga ingat bagaimana cerita papi dulu bahwa Niall kecil pun mengalami kejadian mirip penculikan, karena Niall kecil diambil paksa dari papinya.
Liam tau bagaimana Niall menyimpan trauma itu meski anak itu tak ingat kejadiannya, dan sekarang Niall mengalami kejadian buruk semacam itu juga. Liam tak tau bagaimana Niall kedepannya, karena bahkan sekarang pun Niall langsung jatuh sakit begitu ia menceritakan apa saja yang Hugo lakukan terhadapnya.
Bagaimana kedepannya Niall akan mengingat semua kejadian itu? Liam khawatir.
Mengenai kekhawatiran, Liam yakin jika orangtua Niall pun pasti mengkhawatirkan Niall sejak kemarin karena tak ada kabar. Sekarang Liam tak tau dimana ponsel Niall, Liam mengeluarkan ponselnya sendiri dan ia juga ternyata mendapati orangtua Niall yang mencoba menghubunginya semalam. Tapi sejak kemarin mendengar kabar Niall diculik, Liam tak memiliki waktu untuk mengecek ponselnya.
Liam melihat jam, memastikan jika ia menghubungi orangtua Niall saat ini ia tak akan mengganggunya. Liam pun menelpon papi, sebab jika ia menghubungi ayah, khawatir ayah tengah ada jadwal di rumah sakit.
"Papi.."
📞 "Liam, disana masih pagi kan? Kau sudah sarapan?"
Pertanyaan itu bukan apa yang ingin ditanyakan papi padanya, Liam tau itu. Papi khawatir pada Niall dan ingin menanyakannya, namun tetap menghargainya dengan bertanya mengenai dirinya lebih dulu.
"Papi, mencari Niall?" Liam menarik nafasnya, ada berat dalam dadanya membayangkan akan seperti apa reaksi papi nantinya.
📞 "Ya." Papi menjawab cepat, terdengar sekali sejak tadi ia menahan diri.
📞 "Apa Niall bersamamu? Sejak kemarin ia tak membalas pesan papi ataupun ayah, terakhir ia memberitau bahwa ia akan pergi ke toko di siang hari."
📞 "Apa ia sibuk dengan tugasnya? Kudengar kalian mulai lebih sibuk karena sebentar lagi lulus."
Mendengar seluruh kalimat papi, Liam sempat berpikir untuk mengurungkan niatnya menceritakan keadaan Niall. Ia tak sampai hati merusak prasangka baik papi.
"Niall saat ini bersamaku dan sedang istirahat." Liam menelan salivanya.
📞 "Sungguh? Papi lega mendengarnya. Tolong jaga Niall ya? Ini mulai memasuki musim panas, Niall mungkin akan meminta banyak ice cream padamu. Jangan diberi banyak-banyak, ia mudah terkena batuk dan flu."
Liam tak tega, tapi ia juga tak mungkin menyembunyikannya.
"Papi, maaf." Lirih Liam.
📞 "Ya?"
"Niall istirahat karena ia sakit, maaf karena aku tak bisa mencegah semuanya." Liam melirik Niall yang terlelap.
📞 "Niall sakit?" Papi terkesiap dengan khawatir, tapi kemudian kembali menambahkan ketika mengingat suara penuh sesal Liam.
