Niall tengah memilih beberapa cemilan kesukaannya dengan papinya, mereka pergi berdua sekaligus untuk menghabiskan sisa hari sebelum besok Niall kembali ke Paris.
"Ini saja, jangan banyak-banyak. Liam juga sering beli makanan di rumah." Niall menolak ketika papinya hendak menambah cemilan untuk ia bawa bersama Niall besok.
"Kalau begitu sekarang tinggal beli untuk ayah setelah itu kita pulang." Ujar Papi.
Mendengar itu Niall mengangguk, mengikuti langkah papinya dan membeli sisa barang yang diperlukan. Ketika kemudian mereka hendak menuju kasir, Niall melihat di seberang toko tempat ia dan papinya berada sekarang ada Jaehee yang terlihat menunggu di depan sebua mobil yang Niall yakini adalah milik wanita itu.
Niall tak tau apakah keberadaan wanita itu sengaja mengikutinya dan papinya atau secara tak sengaja saja mereka berada di tempat yang sama. Tapi dilihat dari bagaimana gestur tubuh wanita itu yang terlihat tenang, Niall pikir memang wanita itu menunggu ia dan papinya keluar dari sini.
Dan ingatan Niall mundur pada bagaimana Hami dulu, mereka bertemu di luar seperti ini lalu Hami dengan lancang membicarakan hal buruk tentang papinya hingga membuat papinya sedih berhari-hari setelah itu.
Sekarang Niall takut hal itu terulang, Niall tak ingin papinya mendengar hal apapun lagi yang mengungkit masa lalunya. Tapi dilihat lagi sepertinya memang Jaehee tak seperti akan pergi dalam waktu dekat. Niall sekarang panik sendirian.
"Niall, giliran―" Papi yang hendak menyadarkan putranya bahwa antrian menuju kasir berikutnya adalah mereka. Namun Niall menyentuh lengannya.
"Sebentar, kita kembali ke dalam papi. Aku melupakan sesuatu."
"Apa?"
Tanpa menjawab papinya, Niall menggandeng lengan papinya untuk menjauhi kasir, Niall harus mengajak papinya berkeliling lagi―dengan harapan jika ia mengulur waktu lebih lama Jaehee sudah pergi.
Ketika kemudian Niall teringat Liam, dan memutuskan mengirim pesan pada tunangannya itu.
"Liam, kakek janji padaku tak akan membiarkan aunty Jaehee menemui papi kan?"
"Sebentar papi, aku ingat Liam ingin menitip sesuatu. Aku akan menghubunginya." Niall berbicara pada papinya setelah mengirim pesan pada Liam.
"Iya, lagipula papi tak memiliki rencana apapun setelah ini. Kita tak terburu-buru, sayang."
Niall sedikit bisa bernafas lega karena papinya secara tak langsung mau mengerti kekhawatirannya. "Benar, bukan? Kita bisa berkeliling lagi selagi menunggu balasan Liam."
"Ya." Papi mengangguk dan mulai melihat-lihat kembali barang, berpikir jika saja hal yang dilupakannya.
"Iya, kau bisa percaya padanya, Niall.
Balasan dari Liam telah Niall terima. Tak lama kemudian justru nomor baru yang menghubunginya, dan entah kenapa Niall tak curiga pada hal buruk untuk hal ini. Ia mengangkatnya dan mendengar suara tak asing di seberang sana.
📞 "Niall, ini aku."
"Papi sebentar, Liam menghubungiku." Niall bergerak beberapa langkah dari papinya, agar papinya tak mendengar pembicaraannya.
"Kakek, kau janji bukan?" Niall bertanya panik pada kakek Huang.
📞 "Aku janji, kau bisa percaya padaku sepenuhnya."
📞 "Atau, apa ia menemuimu lagi?"
"Tidak, tapi aku melihatnya. Aku sedang bersama papi juga, aku hendak pulang dengan papi tapi ada aunty." Niall memainkan jari tangannya dengan tak tenang.
