"Papa, kau merasakan sesuatu?" Niall segera bertanya ketika melihat papa dari Liam membuka matanya.
Jeno mengerutkan dahinya mencoba menyesuaikan penglihatannya, lalu menggelengkan kepalanya pada Niall. Ia terbaring di salah satu ruangan yang pastinya di rumah sakit.
Tadi Niall baru tiba dengan ayahnya hendak menjenguk baba, ketika mereka justru menemukan seorang perawat yang tengah mencoba membantu sosok tak asing bagi mereka. Dan akhirnya ayah Niall meminta bantuan perawat itu juga untuk mencari dokter yang sedang berjaga untuk memeriksa keadaan Jeno.
"Kau belum makan, bukan?" Ujar Niall pada Jeno yang dibantu duduk oleh ayah Niall.
Keduanya tak berani memberitahu Jeno mengenai perkataan dokter tadi mengenai kemungkinan Jeno sedang tertekan―selain dari memang tubuhnya yang belum mendapat asupan apapun.
Niall tau pasti alasan papa tertekan adalah mengenai keadaan baba, tadi ia sudah mendapat pesan dari Liam bahwa ternyata baba justru tak sadarkan diri. Dan Niall yang tau bagaimana papa begitu bergantung pada baba, bisa mengerti kenapa papa bisa jatuh pingsan disini.
Dan Niall tak berani memberitahu Liam mengenai ia yang menemukan papa dalam keadaan lemah seperti ini, karena itu akan membuat Liam semakin khawatir dengan keadaan kedua orangtuanya.
Lagipula ayahnya tadi mengatakan bahwa fisik Jeno akan cepat membaik setelah makan, dan dengan itu papa bisa menemui Liam lagi setelahnya. Mengenai apa yang membuatnya tertekan mereka tak bisa melakukan apapun, selain berharap baba membaik agar papa pun demikian.
Tangan Niall menyiapkan meja kecil di atas ranjang, kemudian menyimpan baki berisi minum serta makan untuk papa.
"Kau harus makan dulu, aku akan menemui Liam sebentar."
Papa hanya mengangguk, rasanya ia belum memiliki kesadaran cukup untuk mengatakan apapun. Tapi ia menyempatkan diri menahan Niall dan meminta.
"Jangan beritau Liam."
Niall mengerti, ia mengangguk karena ia pun seja awal tak berniat memberitahu Liam.
Ia pun meninggalkan papa di sana yang juga dalam pengawasan ayahnya serta perawat yang tadi menemukan papa.
Tadi Niall sudah bertanya pada Liam ruangan tempat baba dirawat, dan sekarang ia dapat mendengar dari luar ruangan tersebut suara Liam yang tengah membujuk Hami agar mau pergi makan.
"Kau belum makan sejak pagi, Hami." Liam menggenggam tangan sang adik dan berusaha membuatnya beranjak. Ini sudah lewat tengah hari, dan adiknya masih belum makan.
"Aku membawa kue, papi memintaku membeli untuk kalian tadi."
Liam dan Hami menoleh begitu mendengar suara Niall yang membuka pintu dan memasuki ruangan kemudian menyimpan satu bingkisan dari sebuah toko kue tempat ia mampir tadi.
Tangan Liam yang satunya kini terulur meraih tangan Niall dan mengusapnya lembut, ada rasa ringan di dadanya melihat kedatangan tunangannya itu di antara kekhawatirannya akan kondisi baba dan juga kesedihan sang adik.
"Niall, kau mengatakan dengan ayah." Liam menggenggam tangan Niall dan memintanya duduk di sebelah Liam yang kosong. Sofa yang ada di ruangan itu cukup untuk tiga orang.
"Tadi ayah bertemu papa dan mengatakan akan berbicara sebentar." Niall melihat bagaimana mata Liam saat inipun ia terlihat tak terlalu hidup, jelas sekali Liam dipenuhi kekhawatiran.
Niall melepas genggaman tangan Liam untuk kemudian membuka bingkisan yang ia bawa, mengeluarkan biskuit juga roti yang ia beli.
"Hami, ini." Niall menatap Hami yang terlihat jelas dari wajahnya ia begitu sedih.
