"Niall, dimana?" Liam celingukan sementara telinganya mencoba mendengar jawaban kekasihnya.
Mereka benar akan pergi kencan seperti yang Liam bicarakan kemarin, dan Niall mengajaknya bertemu di dekat restoran saja agar sekalian mereka makan siang lebih dulu sebelum pergi ke tempat lain.
Liam mengerutkan dahinya karena tak mendapat jawaban dari Niall, dan justru suara gemerisik tak jelas yang ia dengar. "Niall?"
Lalu tiba-tiba sebuah tangan memeluk lengannya, membuat Liam seketika menoleh dan menemukan Niall yang tersenyum lebar padanya. Liam bisa mencium wangi kekasihnya itu, dan ia pun mengecup puncak kepalanya lalu mengusap daun telinganya menahan gemas.
"Aku tadi melihat pelukis jalanan sebentar, kalau kau melihatnya pasti suka." Ujar Niall, ia tau kalau kekasihnya banyak tertarik pada hal tentang gambar dan lukisan.
"Dengan siapa kau melihatnya?" Tanya Liam.
"Sendiri, hari ini aku tak memiliki rencana dengan temanku karena akan pergi dengan Liam." Jawab Niall dengan senyum lebarnya.
"Kencan." Liam mengoreksi.
Dan Niall kini hanya mengangguk diiringi wajah yang mulai memerah, membuat Liam terkekeh. "Ayo masuk, aku sudah lapar."
Mendengar itu Niall mendongak menatap Liam. "Tadi sarapan tidak?" Tanyanya dengan pandangan tak suka.
"Sarapan." Jawab Liam.
"Bohong." Niall mendelik.
Liam meyakinkan. "Kalau kau tidak percaya tanyakan pada babaku, tadi aku sarapan ditemani baba." Maksud Liam saat ia sarapan, ditemani berbicara dengan babanya yang baru selesai makan siang dengan papanya.
Niall tersenyum dan mengangguk-angguk. "Tidak usah, aku percaya."
Lalu keduanya masuk ke dalam restoran yang sudah Liam pilih. "Kau ingin makan apa?" Ia menatap Niall yang duduk di sampingnya, mereka memang memilih tempat duduk yang mengarah ke luar jendela dengan kursi yang bersisian.
"Itu terserah Liam." Jawab Niall.
"Niall, kau yang pilih kali ini. Setiap kita makan kau hanya mengikuti mauku." Liam merasa itu tak adil untuk Niall, jadi sekarang ia sedikit memaksa.
"Tidak apa, lagi pula kau kan mengajakku makan pretzel hari ini. Itu artinya kau akan mengikuti mauku makan pretzel di dekat taman Luxembourg. Jadi makan siangnya terserah Liam." Ujar Niall meyakinkan kekasihnya, bahwa ia tak keberatan sama sekali dengan menu makan siang yang akan Liam pilih.
Liam yang mulai tak enak hati dengan pelayan yang menunggu akhirnya memesan makan siang sesuai kemauannya, lagi pula ia benar-benar tak tau makanan kesukaan Niall apa saja. Yang ia tau hanya sebatas cemilan itu, karena nyaris setiap mereka makan bersama Niall selalu memilih makanan yang Liam suka atau membiarkan Liam saja yang memilih.
Makanan yang kini tersaji di hadapan mereka adalah fillet daging sapi dengan salad bayam dan potongan asparagus disana. Liam selalu memperhatikan respon Niall saat menyantap makanannya jika saja kekasihnya itu tak suka atau tak puas dengan pilihannya.
Tapi selama ini ia tak pernah menemukan protes dalam ucapan Niall, dan sekarang ia menemukan Niall mengernyit.
"Kenapa? Kau tak suka asparagusnya?" Liam sedikit antusias, tapi juga khawatir.
Niall mengangguk. "Dibayanganku teksturnya akan seperti yang sering dimasakan papi untukku, ternyata berbeda. Aku agak kecewa." Bisiknya, agar tak terdengar banyak orang.
Tangan Liam dengan cepat menyingkirkan asparagusnya dari piring Niall. "Makan bayamnya saja, itu enak dengan daging sapinya."
"Liam, kau suka semua sayuran?" Tanya Niall.
