29. at that time

2.2K 278 100
                                        

"Hami, aku tak tau kenapa kau bisa tau itu. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau, orang yang mengambil pekerjaan seperti itu bukan berarti ia orang yang buruk." Eric benar-benar tak tau bagaimana cara Hami tau kalau ia pernah memakai pelacur dulunya.

Gadis itu mendongak, dan mulai menatap Eric. Sejak tadi ia menunduk setelah mencoba menenangkan napasnya sendiri karena menangis setelah mendengar kemarahan kakaknya. Sekarang ia dan Eric duduk di ruangan yang menghadap ke halaman belakang rumah.

Eric menghela napasnya, merasa bahwa ini adalah cerita yang mungkin seharusnya tak usah ia sebarkan. Tapi kejadiannya sudah sejauh ini, ia jelas harus memberi lebih banyak cerita agar Hami tau seluruhnya.

"Aku benar pernah tidur dengan papi Niall, ia mendapat uang dariku dengan membiarkan tubuhnya aku nikmati." Eric membuka ceritanya dengan berat.

"Ia bukan hanya sekedar teman tidur, tapi juga teman berbicaraku." Ungkap Eric, karena memang dirinya cukup sering berbincang dengan orang yang sering ia tiduri juga. Biasanya itu hanya percakapan tak penting, semacam tempat liburan impian atau bisa juga jenis minuman yang disukai jika memang Eric berniat mengajaknya minum suatu hari nanti.

Tapi dengan papi Niall, ia merasa lebih tertarik mendengar cerita selain dari itu. Eric menanyakan alasan submisif itu mengambil pekerjaan serendah itu. Meskipun Eric cukup senang bisa mendapat pemuas napsu, tapi ia sadar kalau pekerjaan itu begitu rendah.

"Papi Niall hidup sendirian, adapun kakaknya saat itu telah mengalami kecelakaan lalu jatuh koma. Dan papi Niall perlu uang untuk semua biaya rumah sakit itu, juga untuk kehidupannya. Biaya kakaknya sejak kecelakaan tak kecil, sementara ia memerlukan uangnya secepat mungkin." Eric tak pernah melihat air mata kesedihan dari submisif itu, tapi ia bisa merasakan ketidak berdayaan papi Niall setiap menceritakan kehidupannya.

Eric jelas menaruh kasihan.

"Ia juga tak suka pekerjaannya, Hami. Ia hanya ingin mencari uang untuk biaya pengobatan kakaknya, tak ada pilihan lain karena bagaimanapun ia membutuhkan uang lebih juga."

"Ada beberapa kesempatan ia mengatakan tak bisa saat aku memanggilnya. Sampai suatu ketika aku memaksanya, lagi pula aku tau ia tak sedang bersama oranglain, dan aku mengatakan akan memberinya uang lebih dari biasanya. Ia pun datang padaku." Eric menatap Hami yang masih mendengarkannya.

"Hami, aku menemukan bekas cekikan di lehernya juga beberapa luka lebam lain di tubuhnya." Ia bisa melihat Hami yang menahan napas mendengar kalimat barusan, Eric pun sempat berdeham setelah sekelebat ingatan tentang mengerikannya luka di tubuh itu.

"Aku pikir ia mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang, dan aku baru tau kalau ia ternyata banyak bertemu pelanggan yang memiliki kebiasaan buruk saat bersetubuh."

Napas Hami memburu, rasanya ia tak sanggup mendengar lagi semuanya. "Uncle..." Lirihnya.

Eric tetap melanjutkan. "Kau pikir ia rela tubuhnya diperlakukan seperti itu? Tidak. Ia juga terlihat tak nyaman saat aku melihat luka di tubuhnya."

"Kau tetap melakukannya saat tau ia sedang terluka?" Hami ngilu membayangkan tubuh seseorang yang telah mengalami kekerasan memaksakan tetap bekerja.

Ini yang membuat Eric yakin kalau papi Niall bukan sosok seburuk pelacur lainnya. "Ia menolak menerima uang jika tak memberikan tubuhnya, ia bilang kalau ia pun sama harus membayar atas uang yang aku berikan."

"Itu sepetinya jadi terakhir kali aku menyentuhnya, karena beberapa minggu setelahnya aku tak bisa memanggilnya lagi. Wanita pemilik klubnya juga mengatakan ia telah berhenti bekerja disana."

"Hami, aku banyak berbicara dengannya. Dan aku bersumpah, ia bukan orang yang buruk. Ia tak sehina pikiranmu, pekerjaan itu ia lakukan dengan terpaksa." Eric menyelesaikan ceritanya, membuat Hami merasakan berat itu semakin memenuhi dadanya.

Membayangkan seseorang dengan terpaksa melakukan pekerjaan mengerikan, lalu mendapat penghinaan darinya? Pantas saja ayah Niall mengatakan ia begitu lancang.

Sekarang Hami meremas pakaiannya sendiri dengan tangan lemasnya, setelah menerima semua teguran-teguran itu.

"Aku sempat berpikir ia telah menemukan pekerjaan yang lebih baik, lalu kakaknya telah bangun dari komanya. Aku akan sangat bersyukur kalo seperti itu." Eric rasanya akan ikut senang kalau saat itu dipertemukan lagi sosok rapuh itu, lalu mendengar cerita lebih baik darinya. Namun sayangnya ia tak pernah bertemu lagi dengannya.

"Tapi hari itu di annecy, aku merasa tak asing dengan wajah Niall. Karena ia mengingatkanku padanya. Dan saat aku menanyakan nama orangtuanya, benar saja Niall anaknya. Aku terharu mengetahui ia bisa memiliki keluarga dan telah memiliki anak semanis Niall." Eric tersenyum, ia tak bohong saat mengatakan terharu. Ia rasanya lega mengetahui sosok itu bisa menemukan orang yang ia cintai dan juga memiliki keluarga.

Kini Hami menunduk, air matanya jatuh lagi. Tak ada isakan disana walau air matanya terus bercucuran. Ia semakin sakit menyadari telah menyakiti oranglain sebegitunya.

Tangan Eric meraih bahu gadis itu, menariknya dalam pelukan. "Minta maaf Hami, ia pasti akan memaafkanmu." Eric mengusap kepala Hami lembut.

Dan Hami pun menangis kencang mendengar itu, padahal ia sudah sejahat itu tapi unclenya meyakinkan bahwa ia akan dimaafkan. Sepercaya itu uncle nya pada papi Niall, dan mungkin karena ia tau papi Niall sebaik itu sampai unclenya menjamin maafnya diterima.

"Papi kak Niall kemarin memberiku senyum." Isak Hami.

Itu yang membuat Hami semakin sakit seiring semua cerita yang ia dapat dari Eric, karena senyum papi Niall tak terlihat memiliki kemarahan. Disaat Hami sudah menghinanya sekalipun.

                                'A story never told'

                                'A story never told'

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_________

Ini sebenernya di draft, ada lanjutan Hami ketemu ayah Niall. Tapi itu belum sempet aku edit, dan mataku sekarang udah berat...besok lagi aja ya aku updatenya

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang