12. Dear

2K 255 72
                                        

"Baba, hari ini tidak menemui Hana?" Tanya Liam saat mereka tengah menikmati sarapan. Seperti biasa Liam duduk di samping babanya, sementara di sebrangnya ada Hami yang duduk di samping papanya.

"Tidak, hari ini baba milik papa." Itu, suara Jeno yang menjawab. Memberitaukan bahwa seharian ini Renjun akan pergi dengan Jeno.

Liam seketika merengut mendengar ucapan papanya. "Tidak apa, aku juga akan pergi kencan hari ini." Ledeknya, kebiasaan Liam yang terkadang berebut baba dengan papanya masih ada.

Renjun menoleh penasaran. "Liam?"

Memang sebelumnya ia pernah mendengar bahwa putranya memiliki kekasih, tapi semenjak Liam kuliah ia tak mendengar apapun tentang seseorang yang bersama  dengan putranya kini. Jadi Renjun sekarang sangat penasaran.

Si sulung malah tersenyum lebar. "Bohong, aku akan menemui Hayden hari ini."

Liam belum menceritakan tentang Niall, ia berencana memberitau orangtuanya jika Niall sudah benar setuju mau bertemu dengan baba dan papanya. Karena sekarang ia belum mendengar apapun soal keputusan Niall, jadi Liam masih akan tutup mulut tentang itu.

Ah, ia bahkan belum tau kabar kepulangan kekasihnya itu. Sejak semalam pesannya pun tak dibalas.

Hami yang sejak tadi menatap sang kakak dengan sendu, kini ganti menatapnya tertarik, ia memberanikan diri berbicara lagi. "Aku ikut boleh, kak?"

Sejak kepulangan mereka, Hami benar-benar tak pernah mengobrol banyak lagi dengan kakaknya. Interaksi mereka begitu sedikit. Dan Hami mulai ragu memulai pembicaraan dengan kakaknya itu, tapi ia juga tak mau menarik ucapannya tentang Niall.

Tak ada jawaban dari Liam, ia hanya bergumam dan meneruskan sarapannya.

Jeno menyadari kekecewaan putrinya karena tak mendapat jawaban dari Liam, ia bisa melihat Hami menelan salivanya dengan kecewa. Jeno segera meraih tangan Hami di bawah meja, dan mengusapnya.

Ia sebenarnya tak tau apa yang terjadi pada anak-anaknya, tapi ia dan Renjun sudah membicarakan ini dan memutuskan tak akan ikut campur dulu. Namun jika acara marahan mereka terjadi lebih lama lagi, baru ia dan Renjun akan mencoba berbicara dengan anak-anaknya.

"Kau bilang ada janji bertemu Siena kan?" Jeno mencoba mengingatkan putrinya, tentang janjinya dengan putri tunggal Mark.

"Bukankah kalian berencana menghabiskan musim dingin dengan rajin? Uncle Mark bilang ia akan menyiapkan tempat yang nyaman untuk kalian belajar bersama." Jeno tau Hami dan Siena begitu serius ingin menjadi seorang dokter nantinya. Mereka berdua sering pergi menemui keluarga Guanlin untuk banyak bertanya ini itu.

Hami tak menyahut ucapan papanya, ia masih menatap kakaknya. Dirinya mulai ingin mengatakan apa yang membuatnya kepikiran dan merasa kesal, hanya karena sosok Niall kakaknya sampai mengabaikannya seperti ini. "Kak, kalau alasanmu tak berbicara— "

Mendengar sepenggal kalimat sang adik, Liam seketika  mendongak. Ia tau akan kemana arah pembicaraan anak itu, ia menatap sang adik dengan datar.

"Aku akan bertemu Hayden sendirian." Tegas Liam, memotong ucapan sang adik, enggan mengungkit semua ucapan menyebalkan adiknya saat di paris.

📞 "Kau sudah sampai?" Liam langsung menanyakan itu begitu Niall menelponnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

📞 "Kau sudah sampai?" Liam langsung menanyakan itu begitu Niall menelponnya.

Niall yang tengah duduk dengan coklat panas buatan papinya mengangguk. "Sudah, kemarin. Aku langsung tidur, jadi tak sempat memberitaumu."

📞 "Tidak apa." 

📞 "Papi suka kau pulang." Ujar Liam tiba-tiba.

Kepala Niall mengangguk dengan senyumnya. "Ada coklat panas dan croissant yang papi siapkan, ia bilang siapa tau aku masih ingin makanan Eropa karena aku lama tak pulang." Niall tertawa kecil.

📞 "Percayalah, ia ingin membuatmu nyaman selama di rumah, agar kau lebih sering pulang."

"Benar, aku jadi berpikir untuk pulang jika ada waktu libur lagi." Niall memang masih merasakan berat untuk pulang, padahal seharusnya ia lebih memikirkan kenyataan bahwa ia dan papinya baru saja memiliki hubungan hangat dalam waktu singkat.

Mestinya ia mengganti semua waktu sebelumnya— yang tak ia habiskan dengan papinya, sekarang. Tapi ia malah menuruti egonya dengan terus enggan pulang dan ragu untuk kembali kemari.

Suara Liam mengembalikan Niall dari lamunan singkatnya, ia tengah berbicara dengan kekasihnya itu.

📞 "Sudah merencanakan kencan dengan ayah dan papi?"

Liam terbiasa menyebut kencan, jika dirinya pergi menghabiskan waktu dengan orangtuanya. Dan Liam pun menerapkannya pada Niall.

"Belum." Jawab Niall, ia menegak sisa coklat panasnya. "Ayah masih ada jadwal ke rumah sakit besok. Aku berencana membicarakannya dengan papi nanti."

📞 "Ayah pasti sedang mengusahakan untuk bisa menemanimu dan papi di waktu sibuknya."

Niall mengangguk, papinya pun mengatakan itu.

📞 "Selamat bersenang-senang nantinya." Ujar Liam terdengar ikut senang sepertinya.

"Liam juga." Jawab Niall.

📞 "Lalu, kencan denganku kapan?"

Niall merasakan dadanya berdebar mendengar pertanyaan itu, pipinya memanas. Padahal ia cukup sering mendengar pertanyaan semacam itu dari Liam, tapi ia tetap merasakan sentakan menyenangkan itu. Dan juga mereka hanya tak bertemu beberapa hari, tapi ucapan kekasihnya itu seolah mereka tak bertemu cukup lama dan Liam terdengar merindukannya.

"Aku akan beritau nanti." Jawab Niall sambil mengulum senyumnya.

📞 "Aku menunggu ajakan kencanmu." Suara kekehan Liam terdengar.

"Kau sedang dimana Liam?" Tanya Niall penasaran, saat mendengar suara seseorang.

📞 "Aku dengan Hayden, bukan di rumahnya kami di luar. Kau tau? Tak buruk menghabiskan waktu dengan anak yang umurnya cukup jauh denganku, ia bisa menjadi temanku selagi aku menunggu ajakan kencan kekasihku."

Niall mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Katakan pada Hayden, temani kekasihku beberapa hari. Sebelum aku mengajaknya pergi kencan."

Di sebrang sana Liam mengerang pelan diantara senyum lebarnya.

📞 "Tentu. Kalau begitu sampai jumpa nanti, amour." 

Pipi Niall bersemu kemerahan, senyumnya semakin merekah, kepalanya menunduk malu seolah Liam mengucapkannya di hadapannya.

Panggilan sayang dari Liam untuknya, selalu terdengar tulus dan manis.






                                    'A story never told'


A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang