Seingat Liam— setelah remaja. Setiap ia menemukan Rui tengah menemui Hami di rumah, saat liburan tiba. Liam selalu merasa yakin, dan tak akan salah menerka dari cara Rui menatap Hami. Karena ia juga kadang mendapat tatapan itu, tatapan suka— bahkan mungkin lebih dari suka.
Dan dengan mendengar ucapan Niall barusan Liam tau bahwa semua tebakannya dulu benar, Rui mencintai Hami. Tapi yang jadi fokusnya saat ini adalah, bagaimana bisa Rui sejahat itu pada Niall dulu?
Memang semakin kemari Liam dan Rui tak seakrab saat kecil lagi, karena Rui yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Hami. Tapi itu tak menjadi alasan Liam untuk mengacuhkan Rui, terkadang Liam dan Rui menyempatkan diri berbicara beberapa kata. Dan Liam benar tak pernah mendengar sekalipun Rui menyinggung tentang sosok lain yang dimilikinya setiap Liam mengusilinya bahwa ia semakin dekat dengan Hami.
Rui tak pernah mengelak, ia hanya selalu membalasnya dengan kekehan pelan. Dengan kata lain, Rui memang mengharapkan Hami disaat ia jelas-jelas telah memiliki Niall.
"Liam..." Niall menatap Liam yang masih duduk di sampingnya dengan kekhawatiran. Setelah ia mengungkap tentang hubungannya dengan Rui, tatapan Liam agaknya mulai membuat Niall resah.
Kenapa tatapan Liam tak sehangat saat tadi datang?
Tangan Liam menyugar rambutnya sendiri, setelah mengerjap pelan. Ia kembali menatap kekasihnya yang terlihat tegang, entah kenapa. Ia mengusap bahu Niall, lalu mengulas senyum simpul.
Setelah itu Niall hanya memperhatikan Liam dengan debaran tak tenang dalam hatinya, atas sikap Liam yang terasa tak biasa. Apa sekarang Liam mulai berpikir untuk tak memberinya cinta? Apa Liam tak suka dengan kenyataan ia pernah bersama Rui? Apa Liam menganggap—
"Niall.." Suara Liam mengembalikan Niall dari pikirannya yang begitu berantakan, ia tak sadar sejak tadi hanya menatap Liam tanpa menanggapinya.
Niall tak sadar ia sejak tadi hanya benar-benar memperhatikan kekasihnya dengan sorot khawatir.
Liam membelai pipinya. "Kau masih terlihat kurang baik, mungkin perlu istirahat lagi. Aku juga akan pulang."
"Aku akan meminta maaf pada Hami karena sempat menuduhnya." Ujar Liam kemudian Niall pun mengangguk kecil mendengarnya.
Jemari Liam yang masih mengusap pipinya diraih Niall, kemudian menggenggamnya. Matanya terkunci dalam mata Liam. "Liam, aku tak mencintai Rui lagi, sungguh."
Niall takut Liam memiliki pikiran bahwa dirinya masih mencintai Rui.
Liam tersenyum, mengangguk. "Iya, aku percaya." Ia mengecup ekor mata Niall.
Dan setelah itu Liam benar pulang dari rumah kekasihnya, namun saat dirinya hendak keluar dari halaman rumah Niall ia melihat kedatangan Rui.
Sejak mendengar cerita Niall tentang hubungannya dengan Rui, lalu adanya nama Hami diantara mereka Liam merasa— bersalah.
Liam merasa bersalah pada Niall, karena adiknya yang selalu jadi akar dari kesedihan Niall. Entah itu tanpa disadari Hami, juga atas kesadaran Hami sendiri.
Tapi bagaimana pun Hami tetap adiknya, Liam tak setega itu menumpahkan seluruh salah pada Hami. Karena nyatanya Rui pun salah satu yang menjadi penyebabnya. Maka sekarang ia mengajak berbicara teman kecilnya itu, ia ingin menegur Rui.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sementara itu, Hami pergi ke rumah Hayden tepat setelah selesai sarapan. Ia tak bisa berlama-lama duduk satu meja dengan kakaknya, sementara ingatannya terus memutar wajah marah sang kakak padanya. Sekarang ia tengah menangis di pelukan Hayden, mengadu dengan isakanya. "Kakak membentakku, ia marah padaku."
"Hami, aku tak tau apa yang membuat hubunganmu dan kak Liam jadi memburuk. Tapi bukankah biasanya kalian tak akan bertengkar begitu lama? Tenanglah, kak Liam tak mungkin bisa marah lama padamu." Ucapan Hayden bukan hanya kalimat penenang, itu juga kebenaran yang ia ketahui tentang kaka adik itu.
Dan adik kembar Hayden yang mendengar tangisan Hami menghampirinya dengan bingung. "Ada apa?"
Pertanyaan Lauren langsung membuat Hami menghentikan tangisnya, anak itu menoleh. Kemudian melepas pelukannya pada Hayden dan menghampiri Lauren dengan cepat. Ia teringat satu hal.
"Lauren, kau bilang menyukai kakakku kan? Sekarang aku mengizinkanmu mendekatinya." Hami berusaha menahan isakannya, tangannya menggenggam tangan gadis cantik dengan rambut bergelombang itu.
Lauren yang merasakan keanehan atas berubahnya pikiran Hami dengan tiba-tiba kini hanya mengerutkan dahinya.
Berbeda dengan Hayden yang langsung terlihat tak terima. "Hami, apa maksudmu?!"
Angela, mama dari anak kembar itu mendengar bahwa anak-anak itu semakin ribut maka ia pun menghampiri mereka. "Hami, ada apa?" Ia bertanya panik begitu melihat wajah cantik Hami yang memerah, matanya masih dengan linangan air matanya. Kesedihannya terlihat jelas.
Hami pun beralih mendekati Angela, menatapnya sendu. "Aunty, aku akan biarkan Lauren dengan kakak."
Mengenai hubungan Hayden dan Hami, juga bagaimana keduanya yang memiliki kisah cinta bagai dongeng anak-anak yang manis. Angela dan Renjun tau itu, mereka tau bagaimana keduanya yang seolah sudah saling terikat kuat bahkan di umur yang masih muda.
Dan mendengar Hami yang mau merelakan hubungannya dengan Hayden hanya demi Lauren dengan Liam, itu adalah hal yang tak mungkin. Apalagi sejak kecil pun Hami tak pernah suka akan kedekatan Lauren dengan Liam.
"Kau bilang mencintai Hayden..." Angela membenarkan helaian rambut Hami.
Mendengar ucapan Angela, membuat Hami kembali menitikan air matanya. Benar, ia begitu mencintai Hayden. Tapi, sekarang rasanya ia mau merelakan cintanya tak bisa digapai yang penting kakaknya tak bersama Niall.
"Tidak apa, Lauren saja dengan kakak. Aku tak mau kakak dengan orang lain." Matanya menatap Angela dengan sedih.
"Saat ini hanya Lauren yang bisa aku biarkan mendekati kakak." Lanjutnya, kemudian kembali menatap Lauren.
"Lauren, kembali kejar kakak Liam, tolong." Hami tak ingin kakaknya berakhir bersama orang yang membuat Liam jadi membencinya seperti saat ini.
Niall hanya membuat kakaknya jadi berani membentaknya dan menuduhnya sembarangan.
"Hami, tapi aku tak lagi menatap kak Liam seperti itu." Jawaban Lauren hanya membawa Hami pada tangisannya lagi, gadis itu menangis tak rela jika kakaknya berakhir pada sosok macam Niall.