Besok Liam akan kembali ke paris, maka ia pulang ke rumah malam itu juga. Ia tak menunggui Hami sampai adiknya bangun, karena memang ia tak berniat seperti itu juga. Liam tidak ingin Hami tau dan melihat kedatangannya kemari, ia tak ingin Hami berpikir bahwa rasa kesal yang adiknya itu berikan pada Liam sudah hilang. Karena Liam masih menyisakan rasa kesal itu.
Dan ia ternyata tak semudah itu luluh hanya dengan melihat Hami terbaring lemah di rumah sakit, kekhawatirannya dengan kekesalannya pada Hami terasa bisa dipisahkan. Dan Liam mengkhawatirkan Hami bukan berarti ia telah memaafkannya sepenuhnya.
"Besok katakan pada baba kalau ia tak perlu mengantarku, aku tak apa sendirian." Liam pun tak setega itu membiarkan adiknya sendirian, sementara babanya ia minta untuk mengantarnya ke bandara.
"Iya, papa nanti akan meminta kakek dan nenek yang menemani baba disini. Sementara papa antar Liam." Jawab Jeno.
Liam mengangguk, ia melirik babanya yang terlihat tak terusik dalam tidurnya. Anak sulung itu mendekat untuk mengecup pipi babanya, dan berbisik. "Aku akan pulang, besok aku akan menyempatkan diri lagi kemari." Setelahnya ia beranjak dan segera pulang malam itu juga.
Sementara Niall, di rumahnya tengah duduk berdempetan dengan ayah dan papinya. Mereka menonton sebuah film bersama, sebenarnya Niall tak fokus menonton karena pikirannya masih diisi hal tentang Hami.
"Papi, kalau papi tak suka Hami kemari kau tak usah menerimanya lagi saat ia kemari." Niall jadi sedikit kasihan mengingat seringnya Hami kemari dan mungkin mengalami kelelahan sampai jatuh sakit seperti sekarang.
Niall juga berpikir tentang maafnya yang telah ia beri pada Hami, tapi ia tak bisa melepas amarahnya dari penghinaan gadis itu pada papinya. Jika Niall saja bisa seyakin itu mengatakan tak bisa memaafkan Hami tentang yang satu itu, Niall tak bisa membayangkan bagaimana papinya sendiri yang mendapat penghinaannya. Jadi ia berharap papinya tak memaksakan diri menerima kedatangan Hami setiap kemari jika ia memang tak suka. Papinya bisa saja seolah teringat lukanya lagi setiap melihat Hami.
"Tidak, papi baik-baik saja dengan Hami. Tapi kalau mungkin kau yang tak suka— "
"Aku sudah memaafkannya, tapi untuk penghinaannya pada papi aku tak bisa memaafkannya papi." Potong Niall dengan suara pelannya, tangannya meremas tangan ayahnya. Ia masih tak percaya juga atas keputusannya untuk memaafkan Hami, sementara masih jelas diingataknnya ucapannya sendiri yang mengatakan begitu membenci Hami.
Tiba-tiba tangan papi menggenggam tangan Niall yang satunya. "Papi juga tak pernah marah pada Hami, atas apa yang ia katakan tentang papi. Yang membuat papi tak senang adalah karena ia menjadikanmu sasaran dari ketidak layakan papi, ia justru membuatmu kehilangan cintamu padahal yang tak ia sukai itu papi."
"Papi.." Suara ayah dan Niall menegur papi agar tak meneruskan kalimat itu, karena jika diteruskan mereka hanya akan sama-sama merasakan sakit.
"Niall, sama seperti Niall yang ingin memastikan perasaan papi baik-baik saja. Papi juga ingin memastikan Niall pun tak mendapat sedih juga, tapi papi tau yang selama ini banyak memberi kesulitan pada hidup Niall itu papi sendiri. Hingga membuat Niall sedih."
"Karena masa lalu milik papi selalu jadi hal yang menyulitkanmu, termasuk hubunganmu dengan Liam sekarang yang harus berakhir karena berawal dari terungkapnya masa lalu papi." Ujar papi dengan perih.
Niall melepas genggaman tangannya pada tangan ayahnya, ganti memeluk papinya. "Papi, hubunganku dan Liam menjadi seperti sekarang bukan salah papi. Aku— tak merasa mendapat kesulitan karena papi, aku dan ayah justru merasa payah. Karena tak bisa membantu kesulitanmu menghadapi jahatnya orang-orang pada papi hanya karena cerita lamamu yang sebenarnya adalah traumamu juga." Air mata Niall jatuh, tanpa isakan.
"Semuanya terjadi bukan untuk kau yang mengambil tanggung jawab sebagai yang disalahkan, karena kau juga kesakitan." Ayah mengusap air mata papi yang membasahi pipinya.
"Liam dan Niall mereka baik-baik saja." Lanjut ayah dengan meyakinkan, agar submisifnya tak terus merasa bersalah.
Papi selalu memikirkan itu semenjak hari itu, ucapan anaknya pada Hami yang penuh emosi menyampaikan ketidak relaannya untuk melepas Liam. Tapi terpaksa harus melakukannya karena tekanan dari Hami yang membuat tak nyaman.
Dulu papi tau bagaimana perlakuan Rui pada Niall, ia tau bagaimana mata Niall yang kadang terlihat tak bersemangat setelah pergi bersama Rui meski ia berangkat dengan senyum cerah. Karena Rui tak memberi cinta seperti bagaimana Niall memberikan itu pada Rui.
Tapi semenjak Niall bersama Liam, papi merasakan perbedaan yang mencolok. Dalam setiap ceritanya yang ia bagikan selama di paris. Ada satu nama yang saat disebut oleh Niall, pipi anaknya itu selalu memerah detik itu juga. Setelah bersama Liam, Niall jauh lebih banyak diliputi kebahagiaan.
"Niall dapat cinta dari Liam, papi." Ia ingat ucapan malu-malu Niall saat mengatakan hubungan mereka baru dimulai.
Bagaimana papi tau bahwa Niall suka mendapat cinta dari Liam, bagaimana Niall merasa balasan yang sama dari sosok yang ia cintai dengan tulus. Bagaimana tawa kecilnya menunjukkan bahwa Niall bahagia dengan Liam.
Luka yang Rui buat pada Niall telah tertutup oleh cinta yang Liam beri pada Niall, dan papi selalu senang mengetahui anaknya mendapat cinta dari sosok Liam yang setelah ia kenal adalah anak yang begitu penuh dengan perhatian manis.
Karena papi tau bagaimana Niall berusaha mempertahankan Liam diantara banyaknya ketakutan yang ia miliki— hasil dari luka Niall di masa lalu. Papi turut terluka saat Niall harus dihadapkan dengan keadaan dimana ia harus melepas yang selama ini ia dambakan.
Niall pasti begitu sakit saat cintanya yang baru kali ini mendapat balasan yang sama justru harus dilepas, padahal Niall begitu enggan untuk sekedar membayangkan tak bisa menggenggam Liam suatu hari nanti. Niall selalu takut kehilangan cinta Liam. Papi tau itu.
Seharusnya Niall tak perlu melepas cintanya hanya karena dirinya, karena apa yang telah Niall miliki sekarang adalah apa yang Niall harapkan setelah pernah mendapat kecewa saja. Liam itu senyum dan bahagianya Niall, jadi dengan Niall melepas Liam sama saja anaknya itu akan kehilangan alasan bahagianya.
Karena papi pun sadar, ia tak akan pernah sepenuhnya jadi alasan bahagianya Niall. Mengingat seperti apa dan bagaimana dirinya.
"Liam juga bilang ini bukan salah papi, jangan terus menyalahkan diri. Aku kemarin melepas Liam karena tak mungkin aku bersamanya jika itu membuat papi harus mendengar kata itu lagi." Ujar Niall, berusaha mengenyahkan pikiran papinya yang tetap disana.
"Cintamu bagaimana Niall?" Papi meremas tangan ayah yang menggenggamnya sementara Niall memeluknya. "Kau kehilangannya." Ucap papi sendu.
"Mereka tak saling kehilangan, karena mereka tak bisa saling melepas. Liam tak membiarkan itu." Bisik ayah pada papi, sebelum mengecup lembut dahi papi.
Niall pun mendengar itu, dan ia tak bisa menjawab apapun. Sekarang hubungan mereka masih seperti ini, tapi iya Niall tau Liam tak akan membiarkannya. Mengingat bagaimana ucapan Liam tempo hari saat mengatakan rencananya kembali ke paris. Liam bilang ia akan kembali menggenggam Niall.
Sebenarnya memang tak ada alasan mereka untuk saling melepas, apa yang mereka alami adalah diluar dari hubungan mereka. Tak ada yang bisa dijadikan salah dari masing-masing mereka, cinta mereka tak berubah dan masih sama. Seharusnya setelah semua hal diluar itu terselesaikan, hubungan mereka bisa kembali.
'A story never told'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.