"Baba, aku ingin membuatnya untuk baba." Hami menyimpan satu piring berisi biskuit gurih yang ia buat sejak pagi.
Dan semuanya ia lakukan dengan bantuan babanya itu, padahal Renjun merasa sudah tak begitu menginginkannya karena telah puas melihat proses pembuatannya.
"Kau bilang akan memberikannya pada papi kak Niall." Renjun tersenyum geli, mencoba menggoda Hami. Anak itu jadi sedikit sulit menerima bercandaan orang, Hami jadi lebih teliti mendengar setiap kata yang orang lain ucapkan.
Renjun mendorong piring itu ke dekat putrinya lagi, agar sekalian anak itu susun untuk diberikan pada papi Niall. Dan benar, respon Hami langsung serius.
Hami merengut. "Aku tak mungkin melewatkanmu." Ia takut babanya merasa ia lebih mementingkan papi kak Niall dari padanya, padahal bukan seperti itu maksudnya.
"Lagi pula aku memang membuatnya untuk baba dan papi kak Niall. Dan tujuannya sama pula, untuk permintaan maafku." Ujarnya.
"Hami, baba bilang baba tak pernah marah padamu." Renjun kembali mengatakannya.
"Aku yang membuat baba kecewa, karena jadi anak yang nakal dan tak sopan. Aku membuatmu malu karena memiliki anak sepertiku."
"Tak mungkin baba tidak marah padaku." Suara Hami menyendu.
Renjun menghela napasnya, tangannya mengusap lembut kepala putrinya. "Hami memang salah, tapi baba tidak malu punya Hami. Yang membuat baba marah juga bukan Hami, tapi sifat Hami yang kemarin masih gegabah."
"Dan sekarang baba tau Hami akan memperbaiki kesalahan yang pernah Hami lakukan. Kakak Liam juga waktu itu bilang, Hami tak akan ulangi lagi itu." Renjun sengaja menyebut nama Liam karena hanya dengan mendengar nama kakaknya saja, suasana hati Hami selalu membaik dengan mudah.
"Iya, aku janji tak mengulanginya baba." Hami memeluk babanya erat.
Dalam pelukan itu, Hami kembali bercerita. "Baba, papi kak Niall selalu mengatakan aku tak salah, ia bilang aku tak perlu meminta maaf dengan begitu banyak padanya. Aku rasa dengan hal itu papi kak Niall mungkin memang belum mau memaafkanku." Hami berujar sedih.
"Papa bilang aku harus tetap meminta maaf, sampai aku benar-benar diampuni. Sama seperti papa dulu pada baba." Hami melepas pelukannya dan menatap babanya.
Renjun menimang sebentar apa yang hendak ia katakan pada anak bungsunya itu. "Hami, baba tau sedikit cerita papi kak Niall dari papa dan uncle Eric. Papi kak Niall memang orang yang baik, jadi baba rasa alasannya selalu mengatakan Hami tak salah bukan karena ia tak memaafkan Hami."
Sedikitnya Renjun bisa menempatkan dirinya jadi papi Niall bagaimana, seseorang dengan banyak luka yang tak tau mesti diobati dari bagian mana dulu. Hingga akhirnya ia hanya berakhir membiarkan orang lain untuk melukainya lagi, seolah luka yang sudah ia miliki sebelumnya tak penting. Atau seolah, sudah terlanjur banyak luka jadi ia tak keberatan ada luka lain yang bertambah padanya.
Renjun rasa jika dirinya dulu tak secepat itu kembali dipertemukan dengan Jeno yang mau memohon ampun padanya, Renjun pun bisa jadi seperti itu.
"Hami, mungkin saja ia butuh ucapan yang bisa membuatnya merasa lebih baik, dan bukan hanya permintaan maaf saja." Ujar Renjun.
.
.
.
Hami jadi cukup dekat dengan papi, karena ia masih sering menemuinya. Dan terkadang juga membawakan berbagai jenis dessert yang ia buat sendiri, dan papi selalu mengajak Hami untuk menikmatinya bersama. Membuat mereka semakin memiliki banyak waktu untuk berbicara.
Papi mendengar penjelasan anak itu tentang kesalah pahaman yang ia dengar. Hami mengatakan bahwa saat itu ia hanya mendengar sedikit kalimat dari Eric, dan langsung mengambil kesimpulan sendiri.
