"Liam, kau menyimpan miniaturnya kan?" Niall melirik Liam yang duduk disisinya, mereka baru selesai membaca buku di perpustakaan.
Mendengar pertanyaan Niall, Liam menoleh kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Niall. Lalu menggesekkan hidungnya pada hidung Niall dengan gemas. "Lihat ke kamarku, kau akan menemukannya dengan mudah."
Niall terkekeh. "Aku percaya." Karena Niall tau Liam benar mencintainya, ucapannya tak mungkin bohong.
Mengenai alasan Niall bertanya karena ia ingin memastikan saja.
"Kalau tidak suka atau kau bosan, kembalikan saja padaku ya? Siapa tau nanti aku jadi tiba-tiba berpikir memelihara anak anjing juga, yang mirip shasha. Aku akan memiliki anak anjingnya sekaligus miniaturnya." Senyum Niall terulas lebar.
"Kurasa kau tak akan menemukan yang sama sepeti shasha." Liam mengedikkan bahunya.
"Kan yang mirip, aku bilang." Niall meremas lengan Liam gemas, hidungnya berkerut tanda kesal. Raut itu membuat Liam tertawa pelan, sebelum mengusap-usap pipi kekasihnya lalu mengajaknya keluar dari sana.
"Nanti kalau kau ingin memelihara anak anjing, ajak aku saat kau hendak melihat-lihatnya." Ujar Liam.
Niall mengangguk-anggukkan kepalanya, lagi pula ia belum kepikiran untuk memiliki peliharaan. "Kau tidak teringat Hami yang ingin memelihara kucing juga?"
"Hami?" Gumam Liam.
"Dia sudah mendapat anak kucing yang ia inginkan, tapi ia menyimpannya di rumah Lauren. Karena Lauren bisa mengurusnya, juga tak ada yang memiliki alergi disana." Liam tau kalau adiknya telah memiliki anak kucing berwarna abu, namun memilih tak menyimpannya di rumah meskipun Liam tak disana.
Mata Liam melihat cafe ice cream, dan mulai menarik tangan Niall ke arah sana. "Kau ingin ice cream tidak?"
"Katakan, kau ingin rasa apa?" Liam bersiap memesan rasa yang akan Niall sebutkan, namun Niall maju mendahuinya. "Liam rasa coklat kan? Samakan saja." Niall tersenyum dan meminta pemilik toko membawa dua ice cream coklat untuk mereka.
"Kau benar suka rasa coklat kan?" Tanya Liam.
Niall mengangguk, lalu tangannya menerima satu ice cream sementara satu lainnya Liam yang ambil. Liam juga yang membayarnya, setelah itu ia kembali menatap Niall. "Niall..." Liam belum mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Liam, kalau aku tidak suka aku tak mungkin memakannya." Niall terkekeh, kemudian melanjutkan langkahnya dengan Liam.
"Jangan seperti Hami, Niall."
Mendengar ucapan Liam itu, langkah Niall langsung terhenti, matanya menatap kekasihnya dengan tatapan yang tak bisa Liam tebak apa artinya. Tapi Liam melihat keterkejutan disana, entah karena apa.
"Aku ingin tau semua kesukaanmu, bukan ingin kau mengikuti kesukaanku." Liam melanjutkan ucapannya, dan sekarang ia bisa menemukan tatapan haru Niall dengan pipinya yang mulai memerah seiring senyumnya yang mengembang.
"Aku benar menyukai rasa coklat, Liam." Niall mengangguk meyakinkan, dan Liam lega mendengarnya.
Karena mereka yang berhenti di tempat yang cukup panas, Liam menarik Niall ke tempat yang teduh. "Duduklah." Liam menyuruh Niall duduk mengikutinya.
"Liam, annecy menyenangkan?" Tanya Niall teringat liburan kekasihnya itu minggu lalu.
Anggukan itu Liam berikan. "Ya, kau harusnya ikut denganku saat itu. Dengan begitu kau akan tau secantik apa annecy, dan mungkin aku bisa melanjutkan perjalanan meskipun tanpa Damien dan Zach." Liam tertawa saat Niall mengerutkan dahinya dan mengatakan kalau Liam terdengar jahat jika sampai tetap melanjutkan liburannya padahal temannya sakit.
