Another story never told

102 29 23
                                        

Sejak orangtua juga kakeknya jadi tinggal di Paris, Liam dan Niall jadi lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di sana. Yang nantinya mereka akan merencanakan bepergian bersama atas tempat yang Hami sebutkan sebagai tempat yang ingin ia kunjungi.

Jika lebih banyak yang menyarankan di rumah, maka mereka akan tetap di rumah untuk bermain bersama Lilou ataupun menonton film bersama.

"Aku yang memintanya tak menerima makanan sembarangan." Ujar Liam ketika melihat Hami yang mengeluh karena Lilou tak pernah mau langsung menerima cemilan yang Hami sodorkan.

"Lilou." Kakek Huang mencoba memanggilnya, dan menunjukkan snack serupa yang Hami berikan tadi.

Niall menepuk pelan tubuh Lilou. "Itu kakek, Lilou. Boleh." Ujarnya lembut.

Dan anak anjing itu pun melompat turun dari pelukan Niall kemudian berlari menghampiri kakek Huang untuk menerima snack itu.

Kakek Huang meraih tubuh mungil Lilou dan menyuapinya dengan tubuhnya yang ia gendong hangat. Sementara matanya melirik geli pada Hami yang masih kesal pada Lilou.

Liam tersenyum melihatnya, mengingat dulu pun shasha banyak mendapat kasih sayang dari kakeknya itu.

Bagaimana cara kakeknya mengusap bulu hewan peliharaan, Liam tau kakeknya penuh kasih sayang. Dirinya pun adalah salah satu yang mendapat kasih sayang itu, dan Liam pun balas menyayangi kakeknya sebesar itu.

Sejak ia kecil, ia selalu diberi limpahan itu. Dalam bentuk hadiah atau juga usapan dan tatapan lembut.

Sebenarnya ada waktu dimana kakeknya itu memiliki tatapan tajam dan tak tersentuh, tapi yang selalu tertuju padanya tentu sebuah tatapan lembut. Satu hal itu adalah apa yang jadi kesamaan antara kakeknya dengan babanya.

Karena dari wajah mereka Liam tak banyak menemukan kemiripan, tapi jika dilihat dari dekat memang tak bisa diabaikan bahwa mereka tetap ada hal yang mirip dalam diri mereka.

Wajah babanya cantik dengan mata yang didiami binar indah disana, alisnya tergaris apik diatas kulit putihnya. Surai hitamnya nampak sehat dan lembut, dan dengan potongan rambut yang sedikit panjang membuat babanya nampak lebih cantik.

Sementara kakeknya tak memiliki kesan anggun seperti babanya, karena ia memiliki rahang yang tegas. Ketampanannya masih terlihat dengan hidung tingginya, ah dan satu lagi kesamaan baba dan kakeknya, hidung mereka.

Rambut kakeknya sekarang masih terlihat segar meski usianya sudah diatas lima puluhan. Tubuhnya pun masih terlihat bugar, satu-satunya keluhan kakeknya dengan pertambahan usia adalah ia yang harus sesekali memakai kacamata untuk membaca.

"Lilou sekarang kenal kakek juga." Ujar Niall melihat anak anjing itu betah berada dalam pelukan kakek huang.

Hami yang mendengar itu langsung bergerak mendekat ke arah kakeknya dan menatap Lilou.

"Lilou, kemarin kau juga lama di pelukanku tapi tadi kau tak mau lagi menerima snack dariku. Dan sekarang kau pindah pada kakek." Hami merajuk, anak itu memegang bagian pipi Lilou- seolah hendak mencubitnya.

Liam terkekeh melihat itu.

.
.
.

Siang itu Liam bersama kakeknya pergi ke museum, atas permintaan kakek Huang yang ingin pergi dengan Liam. Dan setelah dari museum, mereka hendak mampir ke sebuah cafe untuk membeli beberapa makanan yang bisa mereka bawa pulang ke rumah untuk baba dan yang lain.

Ketika keduanya menyusuri jalanan Paris, tiba-tiba Liam teringat bahwa barusan mereka melewati cafe milik keluarga Zach.

"Kakek, apa kau ingin tau cafe keluarga Zach? Kita baru saja melewatinya." Tadinya Liam sudah berencana kemati bersama Hami, namun mereka belum juga menemukan waktu yang tepat.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang