10. Befogged

2.1K 296 179
                                        

Setelah Niall pergi dari penginapan dengan langkah cepat, Liam hanya bisa mengerang bingung. Ia pun memilih mendekat pada sang adik yang tengah mencuci lengannya yang tergores pisau tadi, tanpa mengatakan apapun Liam menarik sang adik agar duduk. Membongkar tasnya untuk mencari wadah obat-obatan kecil yang dibawanya, kemudian mengobati lengan Hami dalam keheningan.

"Kak- "

"Kita pulang hari ini juga, perjalanan ke annecy nya selesai." Ujar Liam tanpa ingin dibantah.

Hami pun hanya bisa menunduk mendengar ucapan tajam sang kakak, ia menuruti permintaan Liam untuk segera berkemas dan kembali ke apartemennya.

Sesampainya di tempat tinggal sang kakak, Hami menatap bingung pada Liam yang terlihat akan kembali keluar setelah menyimpan barang-barang mereka. "Kemana kak?"

"Menemui Niall." Jawab Liam, tangannya mencari ransel kecil milik Niall yang tertinggal di penginapan dan Liam hendak mengantarkannya.

Mendengar nama Niall disebut, Hami mendekat pada sang kakak. "Kak, kau tidak dengar kataku tadi?"

Liam menatap sang adik dengan jengah. "Apa? Niall anak pelacur?" Si sulung menghela napasnya, mencoba tak membuat hubungan antara ia dan sang adik memburuk. Ia hanya akan memberi pengertian, dan akan meminta sang adik meminta maaf nanti pada Niall.

"Hami dengar, kakak kenal orangtua kak Niall. Dan mereka tak seperti yang kau katakan, ayah Niall seorang dokter dan kalau yang kau tuduh adalah papinya yang melahirkannya. Kakak tau baik bagaimana papi Niall, ia bukan orang buruk seperti tuduhanmu itu." Ujar Liam.

Gadis itu masih kukuh. "Uncle Eric bukti nyatanya, kak. Aku berani menanyakannya langsung kalau kau tak percaya."

Liam menggelengkan kepalanya, ia tak peduli hal itu. "Kali ini kakak menolak usulanmu untuk mengakhiri hubungan dengan orang yang kakak sayangi." Kalau dulu Liam akan mempertimbangkan saran sang adik, sekarang rasanya ia tak bisa. Niall bukan sosok yang bisa Liam tinggal.

Niall itu cintanya Liam.

"Kak, aku tak tau kenapa kau begitu membela kak Niall- " Hami mengusap wajahnya, lalu ia kembali menatap sang kakak.

"Kak, sungguh aku tak mungkin membiarkan kau mendapat seseorang yang buruk seperti kak Niall." Hami melihat kakaknya begitu sempurna, dan ia tak akan rela jika Liam justru mendapat pasangan yang buruk.

"Selama ini mungkin ia tak mencintaimu, kak. Ia hanya memanfaatkanmu, Ia juga pasti memberikan tubuhnya padamu dengan mudah kan? Aku bisa membayangkan ia seperti Elena dulu." Hami mengungkit salah satu perempuan yang mendekati kakaknya dan ia seorang perempuan nakal yang Hami tau sering menyeret beberapa orang untuk dimanfaatkan. Dan kakaknya nyaris dimanfaatkan juga.

"Pantas saja ia menolak kau mengenalkannya pada papa dan baba, ia takut identitasnya sebagai orang yang memiliki sangkut paut dengan pelacuran diketahui papa. Kak Niall berasal dari orang tak benar, ia pun pasti memiliki setidaknya sifat yang sama."

Mendengar ucapan Hami yang semakin jauh, Liam merasakan gejolak tak suka atas semua kalimat itu

"Kak, selama ini ia menggodamu kan? Kau sampai sejauh ini membelanya."

Rahang Liam mengeras, matanya menatap sang adik dengan tajam. Suara beratnya menyebut nama sang adik penuh peringatan. "Hami.."

"Semua ucapanmu hanya menunjukkan kalau kau tak mengenal Niall, jadi berhenti mengatakan semua pikiran burukmu tentang Niall." Matanya tak lepas dari Hami yang semakin terlihat kesal, sementara Liam pun tak peduli ia pun begitu marah akan semua yang keluar dari mulut sang adik sejak tadi.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang