21. Chaotic

2K 261 138
                                        

Liam pulang dengan pikiran yang ingin segera menemui sang adik dan meminta maaf, karena benar setelah ia berbicara dengan Rui pun ia diberitau kalau Hami tak ada sangkut pautnya dengan kejadian kemarin malam. Dan Liam merasa bersalah pada adiknya, karena telah ia tuduh. Meski memang ia masih memiliki beberapa kekecewaan juga pada Hami, dengan penolakannya terhadap Niall dan semua ucapan buruknya tentang papi Niall.

Begitu memasuki rumah, Liam langsung disambut Hami yang berlari menghampirinya, kemudian menyodorkan ponselnya.

"Siapa?" Tanya Liam sambil meraih ponsel adiknya itu.

"Uncle Eric.." Jawab Hami. "Aku barusan bertanya padanya agar yakin lagi tentang semuanya. Jadi, kalau kau tak percaya padaku, tanyakan pada uncle eric tentang papi kak Niall."

Mendengar hal itu Liam mengepalkan tangannya erat, menahan kesal. Baru saja ia hendak meminta maaf pada adiknya ini, tapi Hami justru menyambutnya dengan tingkahnya yang menyebalkan.

Mengabaikan suara Eric yang sudah panik sejak mendapat pertanyaan Hami tentang papi Niall.

Kini Liam menatap adiknya dengan tatapan tajamnya. Hami benar bergidik takut melihatnya, ia belum pernah mendapat tatapan semacam itu dari Liam.

"Lalu maksudmu terus mencari tau tentang hal itu untuk apa?" Tanya Liam masih mencoba menahan agar dirinya tak lagi membentak sang adik.

"Aku tak suka kau bersama anak dari orang yang pernah jadi seorang pel—  "

Liam membanting ponsel Hami yang ada di genggamannya, ia tak bisa lagi menahan kemarahannya.

"Kau terus mengungkit hal itu, sadar tidak kalau kau tengah menjelek-jelekkan orang yang sama sekali tak kau kenal!" Liam bahkan sekarang tak ingat tentang kenyataan bahwa ia marah pada Hami masih di ruang depan, babanya pasti ada di dalam dan mendengar pertengkarannya dengan Hami saat ini.

Hami menelan salivanya kuat, sebelum bersuara dengan bergetar. Takut tapi ia ingin kakaknya sadar maksudnya. "Kak, kau masih membela Niall juga. Dengar, apa yang kau lihat tentang Niall kemarin dengan Rui harusnya jadi penyadar bahwa Niall turunan nyata dari papinya."

Napas Liam makin memburu, kali ini emosinya tak bisa ia lampiaskan dengan kepalan tangan. Berbeda dengan tadi saat bersama Rui, Liam tak segan memberinya pukulan lagi. Yang sekarang ada di hadapannya adalah, Hami. Adiknya, seorang perempuan. Liam tak mungkin untuk memukulnya.

"Tanya pada Rui sekarang juga. Ia yang menyerang Niall, ia yang mabuk karena sedih tak bisa mendapatkanmu lalu melampiaskannya pada Niall!" Suara Liam makin mengeras, menunjukkan seberapa ia frustasi akan kelakuan sang adik.

Hami berkedip dengan tetesan air mata yang mulai keluar. "Kenapa kau terus menyalahkanku." Isakannya tertahan.

"Memang semuanya berawal dari kau!" Bentak Liam. Ia masih memikirkan bagaimana sedihnya Niall dulu yang tak mendapat cinta seharusnya dari Rui, dan justru mendapati Rui mencintai orang lain saat bersamanya.

"Kak!" Hami pun makin histeris melihat kemarahan sang kakak padanya.

Liam mengabaikan tangisan sang adik, ia segera pergi menuju kamarnya dengan napasnya yang cepat juga tangannya yang terkepal.

Renjun menatap Hami yang makan malam dengan wajah sembab, tanda ia telah menangis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Renjun menatap Hami yang makan malam dengan wajah sembab, tanda ia telah menangis. Jeno belum pulang, sementara Liam mengatakan telah makan di rumah Niall. Padahal Renjun tau alasan Liam tak ingin keluar kamar adalah karena pertengkarannya dengan Hami tadi.

Membuat Renjun hanya makan malam berdua dengan putrinya, bahkan itu terasa kosong karena Hami yang banyak diam.

Setelah makan malam, Renjun mengajak Hami duduk berdua. "Sayang..kau bertengkar lagi dengan kakak?" Tanya Renjun lembut.

Pertanyaan itu seketika membuat Hami merasakan lagi dadanya sakit mengingat bentakan keras kakaknya tadi. Bibirnya kembali melengkung ke bawah, matanya kembali berkaca-kaca. Ia pun mulai menatap babanya, dengan menahan tangis. "Baba, kakak terus membentakku."

Babanya mengangguk, mengusap kepalanya lembut. "Hami, sebenarnya apa yang terjadi?" Renjun sudah merasa bahwa pertengkaran anak-anaknya sering terjadi, padahal biasanya tak seperti ini.

Hami menunduk. "Baba mungkin akan memarahiku juga." Karena Hami tau bagaimana kakaknya begitu persis babanya, apa yang membuat kakaknya marah bisa membuat babanya marah juga.

"Apa?" Tanya Renjun, masih mengusap kepala Hami sayang.

Gadis kecil itu mulai memberanikan menatap lagi mata babanya. "Ini tentang kak Niall.." Lalu Renjun menaikan halisnya, belum mengerti. "Kau menyukainya." Lanjut Hami.

"Ada apa dengan Niall?" Renjun belum menemukan masalahnya.

"Baba... kau tidak tau kan? Papi kak Niall pernah jadi pelacurnya uncle eric, aku jelas tak suka kalau kakak berakhir dengan anak dari orang seperti itu. Kakak harus dapat yang baik, kak Niall tak boleh dengan kakak."

Ada keterkejutan dari mata Renjun saat mendengar penuturan putrinya. "Hami kau mungkin salah." Renjun menurunkan tangannya, ganti menggenggam tangan Hami.

Hami menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah tanya uncle eric dan memang papi kak Niall bukan orang baik-baik."

Renjun bisa merasakan dadanya berdebar cepat saat mendengar lagi suara putrinya mengatakan semuanya.

"Padahal kemarin kakak melihat kak Niall ada di klub, tapi kakak malah menuduhku. Baba, aku tak suka kak Niall." Anak itu mengadu.

Sementara Renjun menatap mata Hami lekat, napasnya agak memberat. "Hami, kau tak mengatakan ketidak sukaanmu ini pada Niall kan?"

Ada ingatan buruk yang muncul di kepala Renjun setelah mengetahui cerita Hami.

"Saat di paris aku mengatakannya." Lirih Hami, entah kenapa ia mulai merasakan tatapan babanya terasa membuatnya tak berani menatapnya balik.

Jawaban pelan Hami membuat Renjun tertegun di tempatnya. Hami ini terlalu banyak mengambil Jeno dalam dirinya.

Renjun meremas tangan Hami tanpa menyakitinya, ia mengambil napasnya sebelum memeluk putrinya itu. Renjun jelas menolak menatap Hami, karena ia—  takut.

Tak bisa dibohongi, ia sekarang merasa takut pada putrinya sendiri. Mengingat ia pun pernah mendapat penolakan yang semacam ini dari anggota keluarga Jeno sendiri, Jaehee.

Dan mungkin, jika dulu ia berhadapan dengan sosok Hami yang seperti ini entah apa yang akan terjadi juga padanya.

Renjun seolah bisa melihat bayangan jika dulu ia dan Jeno nekat menemui keluarga Lee, mengenalkan diri dan mendapat penolakan seperti yang Hami lakukan. Melihat bagaimana kerasnya penolakan itu. Karena dari melihat tatap tak suka Hami saat menceritakan Niall, Renjun membayangkan tatapan itu tertuju untuknya. Jelas ia ketakutan dengan kenyataan bahwa..

Hami jauh lebih keras dari Jaehee.



                                   'A story never told'









__________

Kalo gak salah inget aku pernah ada kasih spoiler ke beberapa reader, kalo Hami nih 'lebih' dari Jaehee. Karena dampak dari apa yang Hami buat tuh gak cuman ke Liam sama Niall aja, tapi ke babanya juga. Hayden sama Eric pun keseret..

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang