Liam beranjak cepat meninggalkan kelasnya ketika mendengar kabar dari Damien bahwa Niall dibawa pergi oleh Hugo, dan sekarang tengah dikejar oleh orang Damien yang lainnya.
Disaat ia panik mencoba menelpon Damien, ia melihat Damien pun ikut berlari dari lorong lain di universitas, tampak tergesa juga ingin memberitahu detailnya pada Liam.
"Mereka masih mengikuti Niall, dan sebaiknya kita mengikutinya juga sekarang." Damien berjalan menuju area parkiran.
"Dibawa kemana Niall?" Liam bertanya panik sambil mengikuti Damien.
Tak ada jawaban, karena Damien pun tak tau Niall hendak dibawa kemana. Tadi salah satu anak buahnya hanya memberitaunya bahwa mereka tengah mencoba mengejar penculik Niall, setelahnya anak buahnya tak memiliki waktu berbicara lebih banyak padanya. Damien pun berinisiatif melacak keberadaan anak buahnya, dan mengikutinya bersama Liam.
Damien melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga kemudian panggilan masuk dari salah satu anak buahnya yang memberitau jika mereka kehilangan jejak namun tengah berusaha mencarinya juga.
"Damien, yang benar saja." Liam yang sudah begitu khawatir jelas tak terima mendengar kabar bahwa anak buah Damien justru kehilangan jejak Niall, lalu bagaimana mereka bisa menyelamatkan Niall?
Mendengar nada frustasi Liam, Damien hanya menghela nafas. "Anak buahku akan menemukannya, Liam. Kau bisa sedikit menekan khawatirmu."
"Dengan waktu yang menjadi lebih lama untuk menemuman Hugo seperti ini aku tidak tau apa yang akan Hugo lakukan pada Niall, dengan ia yang sering menguntit Niall hingga berani menculiknya, kau pikir pikiranku sekarang berisi apa selain kekhawatiran?!"
Damien memilih tak meladeni Liam, karena jika ia membalasnya ini hanya akan menjadi pertengkaran tak berguna. Liam hanya tengah kalut.
"Selagi menunggu mereka menemukan tempat Hugo membawa Niall, kita ke rumahku dulu." Damien membelokkan arah laju mobilnya, membuat Liam semakin kehabisan kata-kata.
"Untuk apa Damien? Kita tak memiliki waktu untuk bersantai." Liam menyugar rambutnya frustasi.
Sementara Damien menanggapi dengan tenang. "Aku tak membawa apapun saat ini, dan aku juga tak mungkin membiarkanmu menemui Hugo tanpa membawa apapun."
"Semua pistolku di rumah." Lanjut Damien sambil melirik Liam yang terdiam seketika.
Liam terdiam mendengar kata pistol, benar, dengan Hugo yang berani bersikap kurang ajar pada Niall, Liam tak akan puas hanya dengan menggertaknya atau sekedar memberinya pukulan. Liam dan amarahnya menginginkan hal lebih untuk bisa menyiksa Hugo.
Dan mengingat Damien yang seorang mafia, dan memiliki banyak senjata, Liam tak akan menolak tawaran Damien untuk membawa salah satu senjata miliknya.
Yang dimaksud Damien rumah saat ini, bukanlah unit apartemen yang bertetanggaan dengan Niall, melainkan rumah tempat Damien jadi dirinya.
Ini kali pertama Liam ke rumah Damien yang satu ini, dan ia bisa melihat banyak pintu kamar di lantai satu―mungkin itu tempat beristirahatnya anak buah Damien. Atau mungkin juga ruangan berisi semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan tersembunyi Damien. Sebab sekarang Damien memasuki salah satu ruangan itu dan keluar dengan membawa dua buah pistol di tangannya,.
"Liam." Damien melempar sebuah pistol yang langsung Liam tangkap.
"Cara menggunakannya persis seperti yang diajarkan di kelas menembak." Kata Damien sambil berjalan mendekat pada Liam.
Liam menatap lama pistol dalam genggamannya, menelan salivanya memikirkan kali ini sasarannya bukanlah sebuah papan atau buah seperti yang ada di kelas menembak yang kerap ia ikuti sejak high school, dan sesekali juga ia mengikuti kelas tersebut bersama Damien ketika di Paris.
