"Kakek, tidak bisa bertemu dulu ya?" Niall menghubungi kakek Huang ketika ia dalam perjalanan menuju bandara dengan orangtuanya.
📞 "Maaf, Niall. Aku memiliki urusan hari ini."
Mendengar itu Niall menunduk kecil, kecewa karena tak bisa bertemu pria itu sebelum ia kembali ke Paris. "Aku belum berterimakasih."
Terdengar kekehan rendah kakek Huang, lalu ia bertanya ringan.
📞 "Itu perlu?"
Dan Niall mengangguk tanpa sadar, lalu berbisik sambil melirik hati-hati ke kursi penumpang depan dimana papinya duduk dan berbincang dengan ayahnya. "Tentu saja, papi mungkin akan mendengar hal buruk kemarin kalau tidak dibantu kakek."
📞 "Aku melakukannya juga atas permintaan baba, kau bisa berterimakasih padanya." Sahut tuan Huang.
"Aku akan melakukannya, tapi pada kakek juga." Niall kembali berujar.
Tuan Huang yang tak merasa Niall perlu melakukannya pun memilih mengalihkan pembicaraan.
📞 "Kau sedang menuju bandara, Niall?"
Niall sadar bahwa kakek dari Liam itu tengah mencoba mengalihkan pembicaraan, karena sudah pasti pria itu tau ia sedang menuju bandara dan akan segera berangkat ke Paris. Niall pun memutuskan tetap mengucapkan terimakasih lewat panggilan itu meski rasanya tak puas ketika bukan diucapkan secara langsung.
"Terimakasih kakek, aku tadinya berharap bertemu denganmu sebelum berangkat lagi ke Paris."
Di seberang sana tuan Huang tersenyum mendengarnya.
📞 "Sampai jumpa di pulangmu dan Liam nanti."
"Iya."
Setibanya di bandara, Liam sudah menunggu di sana. Sendirian. Karena mereka menolak diantar oleh orangtua Liam, mengingat baba baru sembuh.
Sebelum berpamitan Niall masih menyempatkan diri bermanja pada papinya. Ia memeluknya lama, dalam pelukannya ia mengusap punggung papinya. Dan diantara itu Niall berharap papinya benar-benar tak mendapat lagi seseorang yang akan mengusiknya lagi.
Setelah itu Niall beralih pada ayahnya, dan memeluknya juga. Dan ketika pelukan itu terlepas, ia berujar.
"Kencan yang sering ya, ayah dengan papi. Kencan yang jauh, yang belum papi tau tempatnya." Niall ingin kedua orangtuanya lebih banyak bepergian untuk menghindari jika saja Jaehee nekat mendatangi rumah. Niall benar-benar khawatir.
"Iya." Ayah Niall mengusap pipi putranya dan menekan pipi itu gemas.
Niall pun melepas pelukannya. "Sampai jumpa lagi."
"Lilou pasti rindu kalian, nanti kencan juga dengan Lilou." Niall melambaikan tangannya sambil mengatakan itu pada orangtuanya yang terkekeh gemas melihatnya.
"Kau khawatir?" Tanya Liam begitu melihat raut Niall sempat berubah begitu berbalik dari melambaikan tangan pada orangtuanya.
Niall memeluk lengan Liam. "Sedikit."
"Tapi kakek mengatakan aku bisa percaya padanya seperti kemarin." Senyum Niall sambil mendongak kecil.
Liam pun ikut tersenyum dan mengangguk. "Ya."
"Aku ingin bertemu kakek sebelum kita ke Paris, tapi kakek mengatakan tak bisa." Keluh Niall sambil merengut, ia masih merasa perlu berterimakasih secara langsung, Niall ingin memastikan kakek melihat ketulusannya.
"Baba mengatakan akan mengajak kakek juga nanti." Ujar Liam menenangkan.
Namun Niall ingat tadi ia juga sempat meminta kakek Huang agar mengunjungi ia dan Liam di Paris, dan jawaban tuan Huang tak sesuai.
