Warm Winds

3K 157 122
                                        

Suara tirai yang dibuka membuat Niall terbangun, matanya terbuka perlahan melihat Liam yang terlihat baru mandi dengan pakaiannya yang berbeda dengan kemarin juga rambutnya yang terlihat masih lembab. Liam belum menyadari ia yang sudah bangun, dan Niall hendak menggeliat saat merasakan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan seprai dan selimut Liam.

Ingatannya langsung memutar kejadian kemarin, berlanjut hingga malam. Dan Niall bisa merasakan pipinya memanas dengan dadanya yang berdebar.

Setelah membuka tirai, Liam hendak keluar dari kamar untuk sarapan saat melihat Niall yang langsung menyembunyikan wajahnya, bersembunyi di dalam selimut.

"Niall.." Liam memanggilnya sembari menghampirinya, dan ia bisa melihat jemari Niall yang sedikit menyembul dari selimut—anak itu memegang erat-erat selimut, seolah tak mau Liam membukanya.

Semua bayangan kegiatan kemarin terasa semakin membuat Niall malu, ia bertelanjang di hadapan Liam, ia mendesah kencang setiap Liam menyentuhnya, juga ia yang mengangguk iya saat Liam bertanya menginginkannya lagi atau tidak. Niall mengerang, sampai rasanya ingin menangis.

Liam yang kini duduk di sisi ranjang merasa khawatir saat mendengar Niall mengerang. "Apa begitu sakit?" Tanya Liam, mengingat kemarin adalah pertama untuk Niall.

"Kenapa bertanya itu..." Suara Niall terdengar frustasi, erangan menahan malu juga menahan tangisnya jadi satu.

"Karena kau pasti merasa tak nyaman setelah semuanya." Jawab Liam.

Tak ada sahutan lagi dari Niall, ia sibuk berpikir bagaimana ia akan menghadapi Liam setelah ini. Niall tak sanggup, selama ingatan tentang dirinya yang mendesah kencang dengan tangannya yang menahan kepala Liam agar tetap memulutinya masih berputar begitu jelas di kepalanya.

Sementara itu Liam yang belum tau penyebab Niall seperti ini, mencoba menawarkan bantuan selayaknya apa yang harus ia lakukan pada Niall setelah semua hal yang telah mereka lakukan. "Aku bantu kau mandi bagaimana?"

"Nooo.." Niall semakin merengek. Yang ada ia akan bertambah malu jika sekarang ia membuka selimut lalu dihadapkan dengan Liam yang hendak membantunya mandi.

Liam mengusap kepala Niall yang terlihat sedikit. "Baiklah, tapi tolong katakan kau baik-baik saja. Aku ingin tau keadaanmu setelah apa yang aku lakukan padamu—"

Niall kembali mengerang, kali ini air matanya ikut turun. Ia benar-benar tak tau tau harus seperti apa sekarang. "Aku baik-baik saja."

Terdengar isakan samar itu, dan Liam langsung mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Niall ingin mengetahui kondisi Niall. Tapi Niall langsung berujar rusuh.

"Tidak-tidak, Liam...aku malu."

"Tapi kau menangis."

"Iya, karena malu." Ada sedikit bentakan disana, luapan dari emosinya.

Hal itu membuat Liam terkekeh, ia mengusap jemari Niall yang masih sedikit menyembul dari balik selimut lalu mengecupnya. "Aku akan menunggu di luar kalau begitu, kau bisa pergi mandi."

"Aku akan menyiapkan makan untukmu, roti panggang kau mau?"

Niall mengangguk setuju.

Liam pun keluar dari kamar.

_____

"Apa Liam?" Erang Niall mendorong bahu Liam protes, kemudian ia menyembunyikan wajahnya pada punggung Liam setelahnya. Menolak ditatap lagi oleh Liam, ia memerlukan banyak waktu untuk berani keluar kamar Liam dan berharap Liam tak tetus memperhatikannya. Tapi kelasihnya itu justru mengajaknya sarapan di sofa, membuat mereka jauh lebih dekat. Dan juga Liam yang terus menatapnya lekat, seolah mencari sesuatu.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang