8. as regards

2.1K 269 67
                                        

Dahi hami berkerut, ia mencoba mengingat ingat sesuatu. Ia yakin dirinya bukan sosok pelupa, dan diingatannya tak ada percakapan antara dirinya dan sang kakak yang menyebutkan telah memiliki seseorang. Bahkan seingatnya, ia belum pernah mendengar nama Niall disebut. Tapi, melihat bagaimana kakaknya terlihat nyaman bersama Niall, Hami yakin mereka memiliki hubungan bukan dalam waktu dekat. Apalagi saat mendapati sosok Niall pun menatap kakaknya sedalam itu, mereka pasti telah melewati waktu bersama yang cukup lama.

Gadis itu kembali menoleh ke arah dapur, melihat interaksi kakaknya dengan kesayangannya.

Niall mengerang mendengar Liam memintanya tetap disini, tangannya yang baru menuangkan cola berhenti dan kini ia menatap kekasihnya itu. "Liam, aku akan pulang setelah ini."

"Apa yang membuatmu ingin pulang? Kau sudah berhasil bertemu Hami, dan tak ada hal yang perlu kau sembunyikan lagi darinya. Hami tau siapa kau untukku." Liam mengusap kepala Niall, kemudian mengulas senyum hangat.

Kemudian Liam melirik ke arah sofa, dimana adiknya berada. Tatapannya mengarah pada keduanya, matanya meneliti semuanya. Dan ada senyum tertahan di bibir sang adik, entah apa alasannya.

Liam kembali beralih pada Niall. "Dan aku beritau dari sekarang, kau tidak akan bisa pulang dengan mudah." Liam sejak awal melihat tatapan Hami tak bisa lepas dari Niall, kekasihnya itu memiliki hal yang Hami sukai.

"Hami memperhatikanmu sejak tadi." Kekeh Liam.

Hami memperhatikan semuanya dengan senyum tertahan. Ia melihat sejauh mana kakaknya memberi afeksi pada sosok itu, mencoba menerka besarnya kasih sayang kakaknya yang jatuh pada Niall.

"Aku akan pulang, Hami aku—" Niall belum menyelesaikan kalimatnya, saat Hami langsung bangun dari posisi duduknya.

"Pulang? Kenapa?"

Mendengar itu, Niall bingung menjawab. Ia melirik Liam yang menatapnya, kekasihnya itu menunggu kelanjutan semuanya. Dan ingin membuktikan apa yang ia sebutkan tadi akan sesuai kenyataan yang akan terjadi.

"Kita belum makan pizzanya, kak Niall sudah menyiapkan minumnya barusan. Kenapa pulang?" Tanya Hami sekali lagi.

"Kalian saja yang makan pizzanya, lagi pula aku tak ada dalam rencana makan siang bersama—" Niall mengucapkannya dengan susah payah, tenggorokannya rasanya tercekat.

Hami menggelengkan kepalanya, ia berjalan menghampiri Niall dan menarik lengannya untuk duduk. "Tidak boleh pulang dulu, kak Niall harus makan pizzanya juga."

Mendapati Hami yang menariknya untuk duduk bersama, Niall menahan napas. Sementara Liam mengekori keduanya dengan tangan yang mengambilkan minum mereka.

Posisi duduk mereka adalah dengan Liam yang bersisian dengan Niall, sementara Hami di sofa yang terpisah.

Si bungsu sengaja mengambil tempat terpisah, untuk diam-diam memperhatikan Niall. Hami melihat bagaimana mata Niall terlihat indah— meski ada sorot malu-malu disana. Dahinya tertutup poni yang membuatnya terlihat lucu, ia memiliki kesan lebih mungil dari Hami, padahal saat Hami berdiri di sisinya Niall lebih tinggi darinya. Mungkin karena tadi Hami melihat bagaimana sosok Niall berada di samping kakaknya, dan itu terlihat lebih mungil.

"Aku tak pernah mendengar kakak berbicara tentang kak Niall." Akhirnya Hami mengatakan kebingungannya, dan ia bisa langsung melihat Niall yang menoleh cepat padanya.

"Itu, aku yang memintanya." Ujar Niall pelan.

Hami pun mengerutkan dahinya. "Kenapa? Padahal aku—" Saat menatap Niall, Hami teringat kucingnya tiba-tiba.

"Kak Niall, suka kucing?"

Niall sedikit bingung atas perubahan pembahasan Hami, tapi ia tetap menjawab singkat disertai anggukan. "Suka."

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang