Niall pikir sekarang ia kembali pada kebiasaannya di awal ia tinggal di Paris, memilih berdiam di rumah daripada keluar. Padahal beberapa waktu ini ia mulai berani keluar sendiri tanpa perlu ditemani siapapun, tapi karena kejanggalan yang Niall rasakan terhadap Hugo, ia pun memilih tetap di rumah jika tak ada teman.
Hari ini Niall tak memiliki kelas, ia cukup lega karena rasanya ia malas bertemu Liam―jika kekasihnya juga ada kelas. Niall masih sakit hati dengan respon Liam pada ceritanya kemarin, dan ia tak berniat berbicara dengan Liam dalam beberapa waktu kedepan. Bahkan panggilan suara dari Liam pun tak ia jawab, pesan yang menanyakan dimana ia berada pun tak ia balas.
Suara bell aprtemennya yang berbunyi sempat membuat Niall tersentak kaget, semenjak Hugo yang tiba-tiba datang kesana dan memencet bell apartemennya Niall jadi begitu waspada dengan siapapun yang hendak bertamu.
Melihat ponselnya yang menampilkan nama Liam, serta pesan yang sebelumnya berbunyi bahwa kekasihnya itu datang, Niall tau bahwa yang sekarang memencet bellnya adalah Liam. Tapi ia tak berniat membukakan pintu, dan ia tak khawatir Liam akan masuk tanpa izinnya.
. .
Liam selalu membunyikan bell ketika datang ke apartemennya sekalipun ia sudah tau pinnya. Itu untuk alasan kesopanan, sementara ia diberitau pinnya jika saja ada hal mendesak terjadi dan ia sudah diberitau itu.
Tapi kali ini Liam menatap pintu rumah Niall yang tak juga terbuka dan pesannya yang tak juga dibalas, ia sedang mempertimbangkan untuk membuka pintu itu. Tapi berpikir lagi tentang bagaimana sikapnya kemarin pada Niall, Niall pasti tak suka jika ia masuk begitu saja tanpa izinnya. Liam tau Niall ada di rumah, karena Niall tak memiliki kelas hari ini. Ia tau jadwal kelas Niall.
"Niall.." Liam mencoba memanggilnya. Tak ada sahutan, jelas Niall marah dan kecewa padanya.
"Niall, aku kemari untuk minta maaf." Liam masih menatap pintu itu, matanya sesekali memperhatikan ponselnya, berharap Niall membalas salah satu dari rentetan pesan darinya.
Liam kembali memanggil kekasihnya. "Niall..."
"Kita bicara ya?"
"Kalau kau tidak ingin bertemu, balas pesanku atau angkat panggilannya sebentar." Karena memang sekarang Liam kembali mencoba melakukan panggilan telpon pada kekasihnya itu.
Dan sepertinya Niall sungguh mendengarkannya, meski enggan menyahut. Karena kali ini Niall sungguh menjawab teleponnya.
📞 "Aku tidak mau bertemu." Niall mencicit, Liam bisa membayangkan wajah merengut Niall ketika marah.
"Kau pasti membenciku dengan sikapku kemarin, aku minta maaf, Niall. Aku tak seharusnya membentakmu padahal saat itu kau sedang mengatakan keresahanmu."
Niall diam tak menyahut ucapannya sama sekali, dan Liam tau sejauh mana kesalahannya membuat Niall kesal. Liam menunduk penuh sesal, seolah Niall sungguh berada di hadapannya.
"Aku salah, Niall. Maaf.."
Tak ada jawaban, Niall justru mematikan sambungan teleponnya dan Liam pun menghela nafas. Hari ini ia belum bisa mendapat maaf dari Niall, besok ia akan kembali meminta maaf pada Niall sampai ia dimaafkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.