Yielding to longing

52 19 10
                                        

Liam dan Niall sudah merapikan kamar di apartemen mereka sebelum kedatangan keluarga Liam itu, Hami menempati kamar tamu. Lalu papa dan baba menempati kamar yang tadinya miliki Niall sebelum Niall memutuskan pindah satu kamar dengan Liam.

Hari pertama hanya menjadi hari beristirahat, keesokan harinya baru semua orang mulai melakukan aktivitas. Setelah sarapan Hami langsung pergi menemui Lauren, Liam dan Niall pun perlu pergi bekerja karena baru beberapa minggu yang lalu mereka mengambil cuti.

Jeno dan Renjun memutuskan pergi keluar dengan membawa Lilou yang tersenyum senang begitu Jeno mengatakan akan mengajaknya keluar.

Lilou sudah mengenal papa dan baba karena keduanya kerap bermain dengan Lilou setiap berkunjung ke Paris.

Keduanya sempat membeli makanan ringan untuk Lilou juga, lalu mencari cafe yang juga membolehkan membawa hewan.

"Kau akan lebih menyukai tempat tinggal yang dekat dengan Liam?" Tanya Jeno ketika mereka tengah menikmati menu di cafe tersebut―Lilou bergelung di atas pangkuan Jeno.

Renjun berpikir sebentar. "Aku akan menyukainya jika seperti itu, tapi jika memang yang kita dapat jaraknya tak terlalu dekat dengan Liam juga aku tak keberatan."

Keduanya tengah membicarakan mencari tempat tinggal selama di paris, karena mereka pikir tak mungkin untuk terus menginap di tempat Liam dan Niall sementara mereka pun memiliki rencana tinggal cukup lama.

Memang Liam tak akan keberatan, tapi mengingat bagaimana Niall, mereka juga tak ingin membuat Niall tak nyaman.

Keduanya duduk cukup lama di cafe sambil mencari tempat yang sesuai dengan mereka lewat ponsel, namun mereka belum menemukan yang sesuai. Akhirnya mereka memutuskan untuk selesai mencari untuk hari ini, dan kembali ke tempat Liam Niall.

"Ayah mungkin mau menyusul jika aku memberitahunya kita sedang mencari tempat tinggal, bukan?" Renjun menghampiri Jeno setelah ia melepas ikatan di leher Lilou begitu tiba di rumah.

Jeno mengangguk. "Kau harus mencoba memberitahunya."

"Ayah, aku dan Jeno sedang mencari apartemen. Setelah aku dan Jeno menemukannya, kau bisa menyusul kemari tanpa segan tinggal serumah dengan Liam Niall."

📞 "Tidak, Renjun. Aku belum selesai dengan urusanku, dan sepertinya tak akan menyusul." Jawab tuan Huang, tetap pada keputusannya.

Renjun pun bergumam pelan sebagai jawaban sebelum kemudian tuan Huang berujar.

📞 "Bisakah kau memberikan ponselmu pada Jeno?"

"Ya." Renjun pun memberikan ponselnya pada Jeno.

"Ya, ayah?" Tanya Jeno.

📞 "Renjun akan lebih menyukai rumah, Jeno. Lebih baik mencari rumah daripada apartemen."

📞 "Aku akan membantu kalian mencarinya."

Dalam dua hari Jeno pun akhirnya menemukannya atas bantuan ayah mertuanya. Sebuah rumah di pinggiran kota Paris yang nuansanya nyaris mirip seperti rumah Renjun dan Jeno, yang memang lebih sesuai dengan Renjun yang menyukai kehangatan rumah semacam itu.

Jarak rumah itu dengan apartemen Liam Niall memang tak dekat, tapi juga tak terlalu jauh untuk dikunjungi setiap hari.

"Aku sudah menemukannya, Renjun akan menyukainya. Ini sesuai dengannya." Jeno memberitahu tuan Huang bahwa ia sudah menemukannya, ia memberitahu itu agar ayah mertuanya tau bahwa Jeno mengikuti sarannya.

Namun justru terdengar tuan Huang yang mengatakan hal yang tak Jeno setujui.

📞 "Aku yang akan melunasinya."

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang