"Hari itu aku sudah berbicara dengan Jaehee, dan aku memutuskan kita sebaiknya tak bertemu dengannya lagi." Jeno menyimpan piring buah di atas meja, sebelum kemudian ia duduk di samping Renjun yang duduk bersandar di sofa.
Pagi tadi mereka langsung pulang ke rumah, bersama kedua anak mereka yang sekarang sedang tidur karena kurang tidur sejak kemarin. Sementara Jeno tetap menemani Renjun, setelah sejak kemarin ia tersiksa dengan ketidak sadaran Renjun, maka begitu Renjun kembali padanya Jeno tak menyia-nyiakan apa yang ia tunggu sejak kemarin.
"Ia mencoba menjengukmu kemarin, dan aku tak membiarkannya." Ujar Jeno.
"Jangan memaafkannya lagi, Renjun. Kau melihatnya sendiri, maafmu tak membuat ia berpikir bahwa perilakunya tetap bisa menyakitimu lagi. Ia tetap menyakitimu dengan caranya, tanpa berpikir bagaimana dulu ia pun mengemis maaf padamu."
Renjun mendengarkan, dan diam-diam menyetujui hal itu. Berbeda dengan Jeno yang mencoba menebus semuanya setelah mendapat maafnya, Jaehee justru mengembalikan lagi segaris luka yang pernah ia berikan pada Renjun.
Jeno menarik nafasnya, menatap Renjun dalam lalu berujar sendu. "Aku juga tak ingin kau seperti kemarin, memutuskan menghindari semuanya dengan membuatku khawatir dan ketakutan."
"Kau bisa menghindarinya dengan cara lain, Renjun. Aku akan membantumu, asal jangan meninggalkanku seperti kemarin lagi." Jemari Jeno menyentuh kelopak mata Renjun lembut, mengusapnya dan jemarinya turun mengusap pipinya.
Renjun menutup matanya sejak Jeno menyentuh kelopak matanya, menikmati sentuhan tangan Jeno di wajahnya. Dan tanpa membuka matanya ia berujar pelan.
"Itu mungkin apa yang tak bisa aku hindari bukan? Bagaimanapun caranya, kita akan tetap bertemu dengannya selama kita berada di lingkungan yang sama."
Mendengar hal itu Jeno menghentikan gerak jemarinya di wajah Renjun, tersentak akan pikiran yang tiba-tiba masuk di kepalanya begitu mendengar kalimat Renjun barusan. Renjun pun yang tak lagi merasakan sentuhan Jeno, membuka matanya.
"Kita pergi dengan Liam." Kata Jeno tanpa ragu.
Itu yang ada di pikirannya barusan. Mereka bisa pergi menghindari pertemuan dengan Jaehee, dan ikut ke Paris bersama Liam.
Jeno tau ini keputusan yang terlalu mendadak, tanpa diskusi panjang. Tapi rasanya untuk sekarang itu adalah jalan yang lebih baik.
"Selama apapun kau ingin menghindar, aku temani." Jeno menambahkan.
Dan Renjun hanya menatap Jeno mempertimbangkan, ia benar ingin menghindari apapun kemungkinan bertemu dengan Jaehee dan apa yang Jeno katakan rasanya bisa Renjun terima. Untuk sekarang Renjun hanya akan mengikuti apa yang Jeno beritahukan padanya, Renjun hanya ingin mengikuti semuanya tanpa ia harus berupaya dan berpikir sendiri cara lari dari semuanya.
Sejak dulu Renjun nyaris selalu memutuskan sendirian cara untuk menjauhi lukanya, dan sekarang rasanya melelahkan untuk mengembalikan sisi dirinya yang itu.
Renjun sudah lama menjalani kehidupannya dengan atas apa yang Jeno bawakan untuknya, kebahagiaan yang nyaris tak habis-habis. Dan akan sangat melelahkan untuk mengembalikan sisi dirinya yang berusaha menyembuhkan semua lukanya sendirian.
Dan karena sudah banyaknya kebahagiaan yang Jeno antar untuknya itulah Renjun memutuskan bahwa sekarang pun Jeno yang akan mengurus lukanya. Renjun tau Jeno akan menyembuhkannya, sama seperti sebelumnya.
Renjun baru menyuapkan potongan buah yang disiapkan Jeno tadi, ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.
"Sudah makan?" Tanya Liam, memastikan babanya tak melewatkannya.
