Setelah mengirim pesan tersebut Niall jadi semakin tak sabaran ingin bertemu Liam dan mengadukan semuanya secara langsung. Ia tak bisa menahan semua ketakutannya sendirian.
Keesokan harinya, ia sudah berencana akan menemui Liam setelah kelas yang ia ikuti selesai. Tapi begitu ia keluar dari gedung apartemennya, ia bisa melihat keberadaan Hugo yang duduk di depan cafe seberang apartemennya. Dada Niall berdebar, dengan gelisah ia kembali masuk ke lobby untuk mencoba menghubungi Liam. Niall tak berani berangkat sendirian jika seperti ini.
"Liam, kau dimana?"
Niall mengirim pesan pendek itu pada Liam, berharap kekasihnya itu memiliki kelas pagi juga dan bisa berangkat bersamanya.
Diantara keresahannya sambil menunggu balasan Liam, ia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di sisinya dengan bertanya. "Niall, kau disini?"
Damien jelas heran melihat Niall yang masih duduk di lobby, karena jarang ia melihat Niall disana. Niall selalu menghindari tempat yang memungkinkan ia harus menyapa orang, termasuk lobby apartemen.
"Damien, apa Liam masih sibuk?" Alih-alih menjawab pertanyaan Damien, Niall justru balik bertanya.
"Aku tak berani pergi sendirian." Niall mencicit.
"Kau akan kemana? Ada kelas hari ini?"
Niall mengangguk. "Iya, kebetulan Mara tak memiliki kelas hari ini. Jadi aku tak memiliki teman."
"Kau bisa denganku saja, aku juga ada kelas hari ini."
Hal itu membuat Niall merasakan kelegaan, karena ia memiliki teman pergi dan tak perlu merasakan takut.
Sementara itu Damien menyadari bagaimana Niall yang memang pemalu ini kerap menunduk, namun kali ini ia juga melihat bahwa tubuh Niall tampak tegang. Ini bukan gestur tubuh Niall pemalu yang biasanya, anak itu sekarang lebih terlihat takut.
Apa sebelum ini anak itu mengalami kecelakaan kecil yang tak ia ketahui? Damien mencoba mengangkat tangannya untuk mengusap punggung Niall menenangkan dari apapun yang membuatnya setegang ini.
"Liam masih di kantor." Niall mengatakan balasan yang ia dapat dari Liam ketika ia dalam perjalanan bersama Damien.
Niall mencerna baik-baik jawaban Liam itu, sepagi ini dan jawaban Liam adalah masih di kantor? Artinya Liam belum pulang sejak kemarin?
"Sepertinya ia lembur. Ia begitu sibuk akhir-akhir ini, aku dan Zach juga jarang bertemu dengannya." Damien menjawab pertanyaan yang terlihat jelas lewat wajah Niall itu.
Mendengarnya, Niall pun mengangguk paham.
Tak lama kemudian mereka tiba di tujuan, sebelum turun, Niall menyempatkan diri menatap Damien dan berujar tulus. "Terimakasih bayak, Damien."
Damien hanya mengangguk tanda tak keberatan, lalu ia teringat akan bagaimana tadi di Lobby Niall tampak tegang dengan pikiran bahwa ia akan pergi sendirian. Damien pikir Niall akan memerlukan tumpangan lagi nanti, dan ia akan menawarkan lagi dengan maksud membantu Niall jika memang anak itu tak berani pulang sendirian.
"Liam masih di kantor di jam seperti ini, kemungkinan ia tak bisa menjemputmu entah karena masih sibuk atau mungkin harus istirahat. Kalau kau tak ada teman pulang, kau bisa menghubungiku."
"Iya." Niall menjawab dengan anggukan yakin pada Damien, tapi ketika waktunya ia pulang ia ragu untuk menghubungi Damien. Bagaimana jika Damien sudah pulang? Atau bagaimana jika Damien justru masih memiliki kelas? Artinya ia akan mengganggunya. Tapi ia sungguh ingin memiliki teman pulang.
Diantara kegelisahannya sendiri, ponsel Niall bergetar dengan nama Damien yang tertera disana. Kebetulan yang membuat Niall lega karena Damien menghubunginya lebih dulu.
