Jaehee hendak berangkat menuju cafenya dengan cukup tergesa, ia memiliki hal yang tak bisa dilewatkan, sementara barusan ia mendengar mamanya yang panik ingin menghubungi kakaknya begitu mendengar kabar Renjun sakit.
Dan Jaehee juga ingin melihat keadaan Renjun, tapi menyadari ia perlu pergi ke cafe membuat suasana hatinya tak karuan. Ditambah memang dari beberapa hari lalu ia sudah tak bisa mendeskripsikan bagaimana kehidupannya.
Fakta yang muncul dari salah satu kenalannya tentang Eric, lalu pertengkarannya dengan sang kakak, tatap benci Liam, orangtuanya yang enggan berbicara dengannya, dan hubungannya dengan Eric yang dalam ketegangan tak nyaman.
Semua hal itu membuat Jaehee tak bisa fokus, pikirannya kemana-mana. Dan itu membawanya pada musibah, mobil yang dikendarainya menabrak mobil lain di depannya.
Dengan panik, Jaehee keluar dari mobilnya dan melihat keadaan pemilik mobil di depannya yang merupakan pasangan yang masih terlihat muda. Yang membuat Jaehee semakin panik adalah perut si perempuan yang tampak tengah hamil.
"Apa kau baik-baik saja?" Jaehee bertanya begitu wanita itu keluar dari mobilnya dengan keadaan tanpa luka satupun, Jaehee sedikit lega.
Sementara suami si wanita itu tengah mengecek kondisi mobilnya.
"Kau anak sekolah yang baru belajar menyetir? Tak bisa melihat kendaraan lain dengan benar." Si wanita terlihat marah pada Jaehee, tangannya memegang perutnya yang besar.
"Maaf, aku tadi buru-buru jadi tak begitu fokus." Jaehee menyatukan telapak tangannya, meminta maaf.
"Dan kau nyaris membuatku celaka dengan bayi dan istriku?" Sekarang di pria yang menegur Jaehee dengan tatap tak suka.
Jaehee kembali menunduk. "Aku minta maaf."
Si pria berdecak, mengabaikan permintaan maaf Jaehee, ia menoleh pada istrinya.
Jaehee ikut menatap wanita yang terlihat terus memegangi perutnya. "Kau tak merasakan apapun? Aku khawatir bayimu."
"Aku tak merasakan ia bergerak lagi." Si wanita meringis takut.
Dan Jaehee nyaris menangis mendengarnya, ia tau rasanya kehilangan anak yang ditunggu kelahirannya, dan jika ia sampai menjadi penyebab oranglain kehilangan bayinya Jaehee akan sangat dipenuhi rasa bersalah.
"Kita ke rumah sakit sekarang, aku akan menanggung biaya pemeriksaannya, sungguh." Jaehee berujar panik.
"Aku juga memang akan ke rumah sakit." Suami si wanita masih terlihat marah pada Jaehee, ia kemudian membimbing sang istri kembali ke mobil sebelum kembali pada Jaehee.
"Aku akan meminta uang ganti rugi, untuk kerusakan mobilku juga biaya pemeriksaan istriku."
"Tentu." Jaehee mangangguk, mulai mengeluarkan dompetnya.
Begitu si pria menyebutkan angka tak masuk akal, Jaehee menolak karena merasa diperas. Jaehee memiliki uang untuk membayar itu, tapi jika seperti ini Jaehee tak terima. Ia tengah dimanfaatkan. "Tak mungkin semahal itu biaya perbaikan mobilnya."
"Dan bagaimana dengan keadaan mental istriku setelah kejadian barusan?" Ucapan pria itu membuat Jaehee terdiam.
"Kalau kau tak mau membayar, aku bisa membawamu ke kantor polisi." Pria itu mengancam.
Jaehee tak mungkin juga pergi ke sana, dengan hubungannya dengan keluarganya yang sedang buruk, siapa yang akan menolongnya? Tak ada.
"Jaehee." Terdengar suara seseorang yang cukup tak asing.
Dan begitu menoleh Jaehee menemukan ayah dari Renjun yang turun dari mobil kemudian menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya tuan Huang, mencoba membaca situasi dengan melihat sekita.
