26. Wicked

2.4K 299 202
                                        

Setelah kejadian sore itu, Hami pulang dengan perasaan tak tenang. Ia jelas takut pada ayah Niall, dan ia terus dibayangi bagaimana senyum papi Niall yang benar terarah padanya. Dan Hami berpikir bahwa senyumnya justru penuh luka.

"Hami?" Panggilan papanya membuat Hami mengerjap, ia terlalu larut dalam pikirannya hingga tak sadar bahwa papanya sudah siap. Setelah tadi memintanya menunggu sang papa yang akan membersihkan diri selepas pulang dari kantor.

"Papa, tapi kakak dan baba belum pulang. Kita akan memberitau mereka kan?" Hami pikir kepergian babanya tadi pagi dengan sang kakak adalah menuju rumah Niall, tapi setelah tadi ia bertemu Niall dan saat pulang belum juga mendapati baba dan kakaknya, Hami jadi bertanya-tanya kemana perginya kedua orang itu.

Tangan Hami menyambut uluran tangan papanya agar mereka segera pergi. "Baba dan kakak juga ikut?" Tanya Hami, ia berharap seperti itu.

Karena ia merasa sudah begitu lama tak menghabiskan waktu berempat, sekarang untuk sekedar makan malam atau sarapan pun mereka mulai terpisah.

"Tidak, kakak dan baba juga sedang kencan." Jeno mencoba mengulas senyum, dengan dada yang sejak tadi berdebar mengingat ia akan menceritakan hal yang tak Hami ketahui.

Iya, Jeno hendak mengungkap semuanya pada putrinya. Cerita tentang dirinya, Renjun juga Liam dulu. Seingatnya ia tak pernah menjanjikan pada Renjun untuk tak akan bercerita pada Hami, ia hanya berjanji pada Renjun untuk tak menceritakannya pada Liam kecuali anak itu bertanya sendiri.

Setelah mendengar ucapan sang papa Hami pun tak berbicara lagi, ia hanya mengikuti kemana papanya akan mengajak dirinya pergi. Dan ternyata ke rumah neneknya?

Jeno banyak memikirkan semua hal setelah mendengar cerita Renjun semalam, dan ia pada kesimpulan bahwa submisif itu merasakan lagi kesedihan atas sikapnya dulu.

'Sekali lagi kau membuat anakku bersedih, aku akan menegurmu dengan keras.'

Kalimat itu kembali Jeno ingat, dan yang ada di pikirannya saat ini adalah Hami. Jeno mungkin akan menerima sepenuhnya teguran macam apa yang akan dilakukan tuan Huang padanya, tapi ia mengkhawatirkan Hami.

Jika ia membawa Hami ke sebuah restoran, Jeno takut racun itu mengincar Hami. Dan jika mereka berkendara terlalu jauh, Jeno takut bahaya yang bisa terjadi membuat Hami tak berdaya. Maka ia memutuskan mengajak Hami berbicara di rumah orangtuanya, Jeno tak bisa membicarakannya di rumahnya karena ada kemungkinan Liam datang dan mendengarnya sementara Jeno ingat peringatan Renjun untuk tak menceritakannya pada Liam. Dan ia memilih rumah orangtuanya, karena mungkin Hami akan aman disana.

"Papa, kita akan makan malam di rumah nenek?" Hami agak heran dengan tempat pilihan sang papa.

"Ya. Nanti setelah makan malam, kita berbicara ya?" Jeno merasakan dadanya semakin berdebar, mengingat sebentar lagi ia akan kembali memutar semua kejadian yang telah terlewat dalam kalimat yang akan ia ungkap pada putrinya.

Kedatangan Jeno dan Hami tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada nyonya dan tuan Lee, tapi mereka menyambut senang keduanya. "Dimana Liam dan Renjun?" Tanya nyonya Lee.

"Mereka tidak kemari." Jawab Jeno singkat, ia semakin tak karuan.

Setelah itu mereka menghabiskan makan malam dengan suasana yang tak sehangat biasanya saat keluarga kecil Jeno berkunjung. Jeno banyak diam karena mempersiapkan diri, dan Hami banyak melamun karena terngiang ucapan Niall yang mengatakan membencinya.

Dan akhirnya Jeno dengan Hami bisa duduk berdua dalam tenang, mereka menempati ruang keluarga sementara kedua orangtua Jeno masih menikmati makanan penutup.

"Papa, tak biasanya kau mengajakku berbicara seserius ini." Hami merasakan ketegangan papanya.

Jeno menelan salivanya, kemudian menatap putrinya. "Hami, papa dengar dari baba tentang kau yang menolak Niall."

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang