"Papa dan baba yang membantu memilihkan pakaian ya? Baba tau banyak tentang itu." Liam menatap babanya.
Setelah makan malam bersama mereka pindah ke ruang tengah agar tempatnya lebih nyaman untuk membahas hal itu. Liam kini ganti menatap orangtua Niall.
"Nanti papi dan ayah bantu cari tempatnya, bagaimana?"
Ayah menyetujui itu, dan di waktu itu juga ia segera mencoba mencari tau lebih dulu tempat yang diinginkan anaknya lewat ponsel. Sementara Niallnya sendiri bersandar di bahu papinya dengan mata yang mulai mengantuk.
Jeno yang melihat bagaimana Liam bahkan sudah memiliki perencanaannya sendiri sebelum meminta pendapat padanya akhirnya bertanya.
"Liam, kau sudah memikirkannya hingga detail ini. Kenapa tidak disegerakan?"
Mendengar itu Liam menoleh pada Niall dengan hati-hati, khawatir Niall mendengarnya dan justru merasa tertekan akan itu. Tapi Niall bersama orangtuanya terlihat serius melihat-lihat tampilan gambar yang ditampilkan di layar ponsel ayah, mata Niall kembali segar melihat bagaimana tempat-tempat yang ada di ponsel semakin menghidupkan bayangan acara itu di kepalanya.
"Aku rasa Niall masih memikirkannya, aku tak ingin membuat ia merasa terpaksa dengan waktu yang terlalu dekat." Liam menjawab pertanyaan sang papa sepelan mungkin.
Jeno mengerutkan dahinya, melirik Niall dan mengingat bagaimana anak itu sejak tadi membahas berbagai perencanaan tak terlihat seperti menahan-nahan layaknya orang yang belum siap.
"Niall, bagaimana kalau pernikahan kalian diadakan musim semi tahun ini?" Papa bertanya tanpa menoleh pada Liam yang jelas tersentak panik karena papanya bertanya begitu saja.
"Tidak, tidak. Kau tidak perlu merasa dipaksa." Liam berujar panik pada Niall, khawatir Niall menganggap pertanyaan papanya adalah tekanan agar mereka melaksanakannya sesegera mungkin.
"Aku tak melihat adanya kendala, atau mungkin pekerjaanmu sedang cukup menyulitkan?" Jeno bukan sedang memaksa Niall, meski mungkin sekarang ia terdengar seperti sedang mendesak anak itu. Jeno hanya khawatir jika waktu perencanaannya terlalu lama, keantusiasan Liam dan Niall akan berkurang terhadap acara pernikahan mereka.
Niall menggelengkan kepalanya, rasa kantuknya sepenuhnya hilang begitu mendengar pertanyaan dari papa Liam itu.
Sebanarnya Niall tak tau apa yang mesti ucapkan untuk mengungkapkan bahwa ia bukan tak ingin semuanya diadakan dalam waktu dekat, ia hanya tak tau bagaimana harus merespon perkataan Liam malam itu ketika Liam pertama kalinya menyinggung soal pernikahan.
Saat itu Niall terkejut, dan Liam berpikir raut terkejut Niall adalah ketidak siapan. Maka Liam dengan panik segera mengatakan bahwa ia tak sedang menekan Niall, dan Niall pun berakhir mengikuti apa yang Liam katakan saja.
Liam menelan salivanya ketika Niall membuka mulut dan hendak menjawab papanya, ia akan sangat merasa bersalah jika yang keluar dari mulut Niall adalah persetujuan yang anak itu lakukan karena terpaksa.
"Aku hanya―"
Namun Niall hanya mengatakan dua kata itu tanpa melanjutkan apapun, dan yang menjawabnya justru pipi anak itu yang memerah.
Niall tak bisa membayangkan ia harus mengatakan bahwa ia sebenarnya tak keberatan jika menikah dengan Liam musim semi ini, dengan isi kepalanya yang berisi bayangan itu lah yang membawa rona kemerahan muncul di pipi Niall.
Dan Liam yang telah mengenal Niall cukup lama, telah mengetahui berbagai tingkah Niall pun menaikkan alisnya begitu mendapati pipi anak itu memerah saat papa Liam bertanya mengenai pernikahan mereka.
