Unspoken Words

210 48 22
                                        

Setelah memastikan baba tidur, papa memutuskan kembali ke rumah orangtuanya untuk menemui Jaehee. Sejak tadi ia benar-benar ingin berbicara pada adiknya itu, sejak tadi Jeno benar-benar menahan diri agar tak menghubungi Jaehee untuk memarahinya.

Karena sejak kepulangan mereka, Renjun benar-benar terlihat tak tenang. Bahkan ia sempat melihat mata Renjun berkaca-kaca, dan itu juga yang membuatnya marah pada Jaehee. Sebab secara tak langsung Jaehee juga tengah mengulang luka Renjun.

Jeno sempat berbicara pada Hami bahwa ia akan kembali dan meminta Hami tetap di rumah dengan Renjun.

Begitu tiba di rumah orangtuanya itu, Liam dan Niall sudah tak ada, bahkan nyaris semua keluarga besar mereka juga sudah tak ada.

Hanya ada orangtuanya serta Jaehee dan Eric di sana, terlihat papanya memijat pelipis sementara mamanya berbicara pada Eric dan Jaehee yang masih terlihat melawan dan penuh emosi.

Jeno bersyukur karena sudah tak ada siapapun disana, karena ia bisa dengan leluasa menegur Jaehee tanpa menahan diri.

Langkah Jeno semakin mendekat pada Jaehee, dan yang ia katakan pertama kali adalah. "Kau berani mengatakan itu pada Niall?"

"Kau berani mengusik anak-anakku." Mata Jeno hanya tertuju pada Jaehee yang langsung berdiri begitu melihat keberadaannya. Membuat keduanya berdiri berhadapan.

Seolah tak peduli dengan tatap marah Jeno, Jaehee membela dirinya sendiri.

"Kak, kau pikir aku bisa hidup dengan melihat anak dari mantan pelacur suamiku sebagai bagian dari keluargaku?"

Jeno mengangguk dan berujar pasti. "Kau bisa."

"Kau begitu menganggap mudah semuanya. Niall itu bagai lukaku." Jaehee menjerit frustasi karena kakaknya tak mengerti penderitaannya.

Dan sama halnya seperti Jaehee yang tak peduli akan teguran Jeno, Jeno pun tak tersentuh sama sekali dengan tangis frustasi Jaehee. Jeno memiliki argumen untuk melawan Jaehee, untuk tetap menyalahkan adiknya karena berani mengembalikan luka Renjun.

"Aku menganggap mudah semuanya, karena aku sudah melihatnya sendiri." Ujar Jeno.

"Renjun juga bisa. la hidup bersama orang yang pernah meminta kematian putra kesayangannya, orang yang pernah tak mau mengenalkannya pada orangtuanya, orang yang pernah tak mau mengakui hubungannya dengan lantang." Jeno mengatakan kesalahannya dulu.

"Renjun hidup dengan orang yang telah membuatnya terluka." Jeno benar-benar mengunci tatapannya pada Jaehee, memberitau adiknya itu bahwa ia tak akan melepaskan Jaehee untuk masalah kali ini.

Jaehee berdecak tak terima. "Ini berbeda!"

"Berhenti menyamakannya, kak."

"Ini sama." Sahut Jeno tenang, juga tajam. "Itu masa lalu Jaehee, lupakan."

"Tidak bisa."

"Demi Tuhan itu sudah begitu lama." Jeno sempat melirik Eric yang terlihat frustasi karena tak menyangka hal ini bisa bocor dan diketahui Jaehee.

Yang lebih membuat Eric tak karuan adalah fakta bahwa Jaehee membentak Niall di depan banyak orang, dan Eric melihat sendiri bagaimana raut terluka anak itu. Eric benar-benar merasa bersalah pada anak itu.

"Tapi itu bukan hal yang bisa dilupakan, itu tak menutup kenyataan papinya pelacur suamiku." Jaehee tetap mempermasalahkan hal itu meski kejadiannya sudah lama berlalu sekalipun.

"Saat itu Eric dan kau bahkan belum memiliki hubungan." Ujar Jeno.

Lalu Jeno mulai menemukan apa yang mungkin bisa membuat Jaehee terdiam. "Kalau menurutmu masa lalu tak bisa dilupakan, dan harus dipermasalahkan. Maka aku harap Liam tak lupa kalau kau pernah menyakiti babanya, dan fakta bahwa sekarang kau menyakiti kekasihnya harusnya cukup membuat ia membencimu lebih dari kau membenci Niall "

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang