33. Reverse

2.2K 287 86
                                        

Niall menatap pohon natal yang sudah dihias oleh ayah dan papinya semalam, sementara Niall menonton mereka dengan lekat. Mudah ia menyadari ada yang berbeda dari papinya, karena itu cukup sering ia dan ayahnya temukan setiap papinya telah mendapat hal yang membuatnya sedih.

Papi akan terlihat lebih pendiam meski ia tetap menyahuti cerita ayah dan dirinya, papi akan terlihat begitu sedih meski senyumnya tetap terulas. Dan sejak kejadian Hami sore itu Niall melihat perubahan itu.

Karena sosok papinya yang biasa lebih ceria, dan senang mengusili ayah. Sementara kali ini, papi bahkan jarang turun untuk sekedar menawar pada ayah agar dibelikan yogurt. Atau untuk menanyakan apa Niall mengalami gejala flu saat cuaca semakin dingin.

Niall tak bisa terus menahan papinya dalam pelukan. Karena ia pun merasakannya sendiri, terkadang saat ia sedih, waktu sendirian adalah apa yang diinginkan. Tapi Niall dan ayahnya tetap memastikan papinya tak larut dalam kesendiriannya itu.

"Kau juga sama murung seperti papi." Ayahnya menyentuh dagunya sebelum duduk di samping Niall, dengan anak itu yang langsung menenggelamkan dirinya masuk dalam pelukan ayahnya.

"Ayah, papi seperti itu lagi." Niall mengadu sedih. "Hami harus bertanggung jawab untuk sedihnya papi."

"Lalu sedihmu bagaimana?" Tanya ayah perhatian, ia tau anaknya pun memiliki luka selain perkara papinya.

Dan Niall diam dalam pelukan itu, tak menjawab.

"Kau harus melepas Liam, itu adalah kesakitan untukmu." Nada bicara ayahnya terdengar menenangkan.

Meski yang dibicarakannya adalah luka Niall, Niall tak merasa lukanya tengah diberi perih lagi. Ayahnya justru terasa seperti meredam kesal yang masih dimilikinya. Apalagi dengan usapan lembut pada punggungnya, Niall semakin merasa ayahnya mencoba mengobati kesedihannya dengan itu semua.

"Liam tak bisa aku miliki, kalau Hami tetap mengungkit luka papi. Aku tak suka papi diingatkan lagi tentang semua itu, ayah." Niall mendongak sendu pada ayahnya.

Mereka berdua sering memiliki waktu untuk berbicara seperti ini, Niall lebih banyak bersama ayahnya sejak dulu. Dan kadang Niall selalu ingin mengganti waktu yang tak ia habiskan dengan papinya, tapi jangankan kengganti waktu yang telah berlalu sekarang saja papinya memilih bersembunyi di kamarnya.

"Kemarin ayah dan papi bertemu Hami, ia meminta maaf dengan tangis penyesalannya." Sosok itu mulai menceritakan pertelemuannya dengan Hami, dan ia merasakan respon Niall yang menghela napsnya tak suka.

Niall pikir maaf Hami tak berguna. "Percuma, ayah. Papi sudah mendapat sedihnya lagi."

Tapi ayah pun tetap melanjutkan ucapannya. "Jadi Hami tinggal meminta maaf padamu saja, karena tanggung jawabnya untuk minta maaf pada papi sudah selesai."

"Jangan dimaafkan." Ujar Niall, takut ayah dan papinya memaafkan Hami semudah itu.

"Kau juga tak akan memaafkannya?" Tanya ayah.

Dan anggukan pasti itu menjadi jawaban Niall, ayah mengusap punggungnya. "Meski ia meminta maaf kemari dan menunjukkan penyesalannya?" Ayah kembali menanyakan itu.

Sebenarnya tadi pagi ia menemukan kalau Hami balik menghubunginya seperti ia kemarin padanya, suara serak anak itu menyapa telinganya. Dan ia memohon untuk membiarkan dirinya bertemu Niall, Hami juga mengatakan ingin menjelaskan beberapa hal lagi pada papi.

"Ayah kau tau sendiri, Hami tak hanya kali ini mengacaukan hubunganku." Ujar Niall kesal mengingat semua andil Hami dalam kehidupannya.

Kalau dipikir kembali, Hami adalah penyebab ia bertemu Liam. Karena Hami, Niall ingin berhenti memcintai Rui. Karena Hami, Niall ingin pergi ke paris. Dan akhirnya bertemu Liam.

Tapi Hami jugalah penyebab semuanya berantakan, Hami yang menjadikan luka papinya kembali basah. Hami yang membuat Niall kembali harus melepas cintanya.

Niall tak bisa untuk tak kesal pada gadis itu.

"Kau sudah meminta penjelasan pada Hayden?" Liam menyimpan gelasnya, menatap sang adik yang baru turun dengan mantel yang siap ia kenakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kau sudah meminta penjelasan pada Hayden?" Liam menyimpan gelasnya, menatap sang adik yang baru turun dengan mantel yang siap ia kenakan. Entah akan pergi kemana anak itu.

Hami berhenti untuk menatap kakaknya yang tatapannya masih terasa begitu dingin, Hami tau dari itu bahwa kakaknya belum mau memaafkannya.

"Kak, aku ingin berhenti membahas Hayden. Aku ingin kau memaafkan kesalahanku, aku mohon." Mata gadis itu terlihat menampilkan sebuah permohonan, juga penyesalan.

"Aku benar menyesal karena begitu keras kepala dan tak mendengar ucapanmu, aku minta maaf untuk semua hal  buruk yang aku lakukan padamu." Si bungsu berusaha tetap menatap mata sang kakak.

Tapi Liam tak menjawab permintaan maaf itu, meski tatapan adiknya nyaris membuatnya luluh.

"Aku tak akan berhenti, Hami. Aku masih akan mengatakan buruknya Hayden padamu." Ujar si kakak.

"Kau tau ia pernah taruhan dengan temannya hanya untuk mendapat ciuman salah satu teman sekelasmu? Hayden kalah taruhan, tapi ia tetap mencium orang lain." Liam langsung menyerang Hami lagi.

Dan gadis itu kali ini melipat bibirnya, seolah menahan apa yang hendak ia ucapkan.

Liam mendengus sadar atas gelagat adiknya. "Aku tau kau punya argumen Hami." Lagi pula untuk hal ini, Liam yakin bahwa ini bukan rahasia milik Hayden. Ada kemungkinan Hami pun tau hal ini.

"Hayden saat itu tengah mabuk, ia mengatakan itu padaku." Hami ingat bagaimana kekasihnya yang memohon maaf padanya dan langsung menjelaskan kejadian sebenarnya.

"Dan?" Liam menunggu Hami agar melanjutkan ucapannya.

"Dan, itu sudah lama." Ucapan Hami itu mampu membuat sudut bibir Liam naik, ia berhasil membawa adiknya pada kalimat ini.

"Hayden seperti itu saat hubungan kami belum sejauh ini." Lanjut Hami. Sekarang Hayden sudah tak ikut teman-temannya yang selalu ingin mencoba hal yang disukai orang dewasa, Hami mengatakan ketidak sukaannya jika Hayden seperti itu.

Dan juga dulu Hayden sempat mengatakan bahwa alasan ia mabuk pun karena ia masih begitu meragukan Hami, mengingat ia lebih terlihat dekat dengan Rui. Dan semenjak Hayden mengatakan itu, Hami mulai jarang meladeni Rui dan menjaga jarak dengannya. Hayden pun tak pernah berbuat macam-macam lagi.

"Jadi kau tak mementingkan kejadian itu lagi?" Liam bertanya. "Karena semuanya sudah lama berlalu." Liam mengungkapkan kesimpulan dari ucapan Hami tadi.

Hami diam merasakan tatapan kakaknya terlihat kembali penuh kekesalan.

"Papa bilang kau kemarin bertemu orangtua Niall." Tapi suara Liam masih tenang. "Apa yang mereka katakan padamu? Mereka memberitaumu kebenarannya bukan?"

"Dan, yang terjadi pada papi sudah lama berlalu! Itu tak lagi penting Hami, sama seperti cerita Hayden di matamu." Liam mulai meluapkan lagi kekacauan yang dirasakannya.

"Kau hanya menambah kesedihan oranglain."

"Maaf kak." Hami mengucapkannya dengan suara seraknya.

Liam menatap adiknya dengan napas yang tak beraturan, emosinya sekarang selalu kacau mengingat apa yang ia alami. "Kembalikan hubunganku dan Niall. Sembuhkan sedihnya Niall dan papi."

              



    'A story never told'



A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang