"Aku masih mencintainya seperti awal dari semua perasaanku dulu tumbuh, dan perasaanku sama besarnya seperti bagaimana Niall padaku." Liam tak bohong, ia mencintai Niall masih seperti mereka memulai hubungan. Tak ada yang berubah dari perasaannya.
"Jadi aku merasa bahwa melamar Niall bukan hal yang harus aku pikir ulang. Apalagi hubunganku dan Niall sudah berjalan lebih dari dua tahun, aku sepenuhnya yakin atas keputusan ini."
Ayah Niall tersenyum tipis mendengarnya, tadi ia mendengar bagaimana Liam yang mengatakan ingin mencoba melamar Niall. Dan ia menyarankan Liam untuk berpikir ulang, dirinya bukan tak percaya pada Liam tapi ia hanya mengingatkan Liam untuk tak gegabah dan tergesa mengambil keputusan.
"Aku tak ragu untuk hal ini, dan aku tidak main-main atas hal sepenting ini." Liam kembali meyakinkan, ia sudah duduk di hadapan kedua orangtua Niall sejak beberapa menit yang lalu.
Mereka berada di sebuah restoran yang tak jauh dari apartemen Niall, kedua orangtua Niall berkunjung sejak dua hari yang lalu dan Liam baru memiliki kesempatan hari ini.
Sebenarnya beberapa waktu ini Liam merasa bahwa keinginannya untuk melamar Niall begitu memenuhi dirinya, dorongan untuk membawa Niall dalam hubungan yang lebih baik lagi menjadi bayangan Liam akhir-akhir ini.
Liam juga sempat berbicara kecil dengan babanya tentang hal ini, bertanya pendapatnya.
"Itu bukan pertanyaan untuk baba, Liam. Itu pertanyaan untuk Liam sendiri, bagaimana?" Babanya bertanya balik.
"Baba, bukankah bayangan yang akhir-akhir ini muncul juga wujud dari keinginanku?"
Dan iya, setelah Liam menelaah lagi perasaannya ia yakin untuk mengabulkan keinginan hatinya.
"Liam, aku tak menganggapmu sedang bermain-main. Aku tau kau serius untuk hal ini." Ayah Niall mengangguk kecil dengan senyum ramahnya. "Aku memberi restu untuk itu."
Ayah Niall tentu seperti kebanyakan orang yang merasa sedikit tak terima dengan kenyataan bahwa anaknya telah dewasa hingga menemukan seseorang yang ia cinta dan ingin memilikinya. Tapi ia juga sadar bahwa ia tak bisa terus hidup dengan menganggap Niall adalah miliknya saja, anaknya juga memiliki apa yang diinginkannya dan bahagianya bukan terletak pada dirinya dan papinya saja.
Ada alasan lain untuk bahagia Niall, dan ia tentu harus memberi jalan untuk bahagia anaknya bisa didapatnya. Lagi pula, Liam bukan sosok yang membuatnya ragu.
Meski ia pernah tau tentang masa lalu papa Liam dulu—yang jahat. Tapi ia tau Liam tak mewarisi itu, ia melihat bahwa Liam tak akan berani menyakiti Niall.
"Liam, aku juga tak mungkin untuk tak mengizinkanmu menarik Niall pada hubungan yang lebih serius. Aku tau letak bahagia Niall ada padamu." Papi Niall menarik napasnya, ia luar biasa lega mendengar bahwa Liam tak menjadikan Niall hanya sebagai tempat untuk bermain-main saja.
Papi Niall yang juga mengenal bagaimana liarnya dunia papa Liam dulu jelas memiliki sedikit prasangka buruk, karena bagaimana pun Liam adalah darah daging Jeno. Ada kekhawatiran tersendiri, meski ia melihat dan mendapati keseluruhan sikap Liam yang baik.
Dan ternyata kekhawatirannya sekarang lenyap setelah mengetahui Liam tak menjadikan Niall sebagai bagian bercandaan demi kesenangan sementaranya. Liam nyata mencintai Niall.
"Aku berterimakasih untuk itu." Liam tersenyum lega setelah mendapat restu dari kedua orangtua Niall.
"Liam, kalau aku bercerita sedikit tak apa?" Tiba-tiba papi Niall menatap Liam dengan sendu, Liam merasa sedikit berdebar karena ini seolah pembicaraan yang jauh lebih serius dari sebelumnya.
