Perjalanan ke annecy direncanakan oleh Liam hanya akan dua hari, karena tak lama setelah itu ia dan Hami harus segera pulang menemui orangtua mereka lagi. Niall pun hanya mengikuti rencana itu tanpa protes.
Sejak keberangkatan mereka, Niall menolak bersama-sama Liam. Ia tak mungkin membiarkan Hami melewati liburannya tanpa sosok kakaknya yang menjadi tujuan utamanya pergi ke prancis. Niall sejak tiba terus sibuk dengan kamera kecilnya, ia membawanya untuk mengambil gambar yang nantinya akan ia cetak dan tempel di jurnalnya. Beberapa pemandangan yang mungkin masih bisa Niall gambar dengan tangannya akan ia gambar sebisanya, tapi beberapa pemandangan yang menurutnya akan sulit ia pilih memotretnya.
Sungai yang ada di hadapannya terlihat bersih dengan airnya yang jernih, bangunan-bangunan di sekitarnya memiliki khasnya sendiri. Pemandangannya benar menarik perhatian Niall sebegitunya. Kalau ia meminta Liam menggambarnya mungkin kekasihnya itu akan bisa melakukannya dengan mudah.
Liam, Niall nyaris lupa ia kemari dengan kekasihnya itu.
Kepalanya menoleh melihat Liam yang tengah membetulkan mantel Hami. Niall tersenyum melihat Hami menatap kakaknya dengan senyum lebarnya, dan Liam yang menyempatkan diri mengusak surainya.
Hami terlihat sekali bersemangat dari mulai berangkat, hingga dalam perjalanan juga setelah sampai. Dan memang tak ada hal yang merepotkan dari gadis kecil itu, sudah ia katakan Hami bukan sosok manja yang rewel. Hanya saja ia begitu aktif.
Dua hari ini ia berinteraksi dengan adik kekasihnya itu, Niall melihat bagaimana Hami memang seperti apa yang sebelum-sebelumnya selalu ia dengar tentang gadis itu. Penuh hal menyenangkan, penuh dengan hal menarik. Dari parasnya sampai kepribadiannya.
Padahal tadinya yang ada di bayangan Niall, berhadapan dengan Hami secara langsung akan begitu canggung dan kaku.
Atau mungkin karena memang Niall yang sejak awal selalu berpikir bertemu Hami akan jadi sebuah hal besar untuknya. Dan begitu kenyataannya tak seperti itu, Niall agak lega. Walau tetap ada setitik rasa tak nyaman dalam dirinya.
"Kalau kau kemari di musim semi, akan banyak bunga berwarna-warni disana." Suara Eric membuat Niall tersentak, ia baru sadar bahwa sejak tadi sosok dewasa itu berada di dekatnya.
Niall mengikuti arah tangan Eric, dan melihat jembatan yang menurut lelaki itu selalu dipenuhi bunga cantik di musim semi dan musim panas. "Oh, aku tidak sempat kemari sebelumnya." Jawab Niall pelan.
Sebenarnya dari tadi Niall tak membiarkan Liam dengannya, ia terus ditemani Eric yang mencoba mengajaknya berbicara apapun itu. Niall yang canggung hanya menjawab seadanya.
"Aku sepertinya tak asing denganmu." Ujar Eric tiba-tiba, sejak tadi ia memperhatikan sosok yang Hami bilang adalah kekasih Liam. Eric merasa familiar dengannya, entah kenapa.
Niall yang barusan mengalihkan tatapannya pada air sungai, kini menoleh bingung pada Eric.
"Kau mengingatkanku pada seseorang." Eric mengulang ucapannya.
Dan Niall tak tau mesti menjawab apa, selain bergumam. Lalu akhirnya memutuskan berbicara asal. "Mungkin bertemu di bandara? Atau tempat lain?" Niall tak tau juga alasan lelaki dengan bibir tipis itu mengatakan tak asing dengannya, padahal Niall tak merasa seperti itu. Ini kali pertama mereka bertemu.
"Boleh aku tau orangtuamu?" Pertanyaan Eric sekarang mengundang kerutan di dahi Niall.
"Mungkin saja aku mengenal mereka, karena sungguh kau mengingatkanku pada—seseorang." Ujar Eric, suaranya memelan di akhir kalimatnya.
.
.
.
Setelah berkeliling di jalanan, melihat beberapa toko, juga penjual makanan dan menikmati coklat panas bersama. Keempatnya pulang ke sebuah penginapan yang sudah Eric pesan, penginapannya berupa pondok sederhana yang memiliki suasana pegunungan yang tenang.
