"Kau terlihat lebih baik setelah bertemu baba Liam." Papi Niall mencubit pelan pipi anaknya saat mereka baru keluar dari toko peralatan kue, Niall dan baba Liam tadi sudah memiliki rencana untuk membuat Scone besok.
Tadi Renjun banyak berbicara dengan Niall dan mulai mengetahui anak itu menyukai kue itu saat Renjun mengatakan ia sempat belajar membuat pastry dan beberapa makanan penutup lainnya.
Niall mengangguk merespon ucapan papinya, tentu saja ia merasa lebih baik setelah bertemu Liam. Juga mendengar kalimat manis dari kekasihnya itu. Ditambah baba Liam yang mengatakan terang-terangan bahwa ia telah menerima Niall.
"Baba begitu baik padaku, padahal tadinya aku kira ia orang yang dingin." Ujar Niall jujur. Baba memiliki tatapan yang terkesan sinis seolah tak suka jika orang lain mendekat padanya, maka Niall pernah berpikir hal itu.
"Liam mengambil sifat lembutnya." Papi Niall sempat berbicara juga dengan sosok yang menjadi pasangan dari Jeno itu. Dan hal yang pertama ia temukan dari sosok itu adalah menawannya rupa baba Liam.
Seperti yang anaknya katakan, baba Liam memiliki kesan dingin dalam dirinya. Mengatakan ia tak akan suka jika diganggu, tapi ia berhasil menemukan kelembutan dari tutur katanya. Caranya tersenyum dan berbicara tak ada jejak dingin dan sinis.
Niall mengangguk setuju atas ucapan papinya. "Perhatiannya Liam juga dari babanya."
"Ayah belum kemari juga." Keluh Niall saat matanya belum juga melihat kedatangan ayahnya yang mengatakan akan menyusul mereka, setelah memesan makanan dari restoran untuk makan malam mereka. Letak restorannya tak jauh dari toko peralatan kue yang Niall dan papinya datangi.
Papi Niall meraih tangan anaknya yang tak mengenakan sarung tangan, padahal cuaca semakin dingin. Ia mengusap-usapnya dengan hangat. Kemudian menyimpan kunci mobil di tangannya. "Kau tunggu di mobil saja, papi akan menyusul ayah. Ia mungkin masih berbicara dengan temannya." Karena memang restoran yang didatangi ayah Niall adalah milik salah satu temannya.
"Baiklah, jangan lama." Niall memperingatkan dengan senyum gelinya, karena tau bahwa papinya pun kadang ikut larut dalam obrolan ayahnya. Atau papinya justru akan dengan mengusili teman ayahnya itu.
Sebelum memasuki mobil ayahnya yang terparkir dekat toko kue yang ia datangi, Niall memastikan dulu papinya telah memasuki restoran— jaraknya terhalang tiga bangunan dari tempatnya. Niall selalu tau bagaimana ayahnya yang nyaris tak pernah mengizinkan papi pergi keluar sendirian, karena ayahnya begitu mengkhawatirkan papi. Sama dengan Niall, ia ingin memastikan papinya tak mendapat hal mengerikan lagi.
Setelah melihat papinya telah memasuki restoran itu, Niall hendak membuka pintu mobil. Saat matanya bertemu dengan mata yang mirip milik baba, tapi jelas jenis tatapan yang terarah padanya berbeda.
Gadis itu terlihat bersama seorang gadis lain yang memiliki wajah manis dengan mata bulatnya. Niall sudah merasakan firasat buruk sejak mata mereka bertemu, apalagi sekarang ia melihat Hami berjalan menghampirinya.
Niall cepat-cepat memasuki mobil ayahnya, menutupnya tanpa menoleh pada Hami lagi. Ia hanya membenahi posisi duduknya, setelah menyimpan barang yang telah ia beli tadi. Mengabaikan suara Hami yang mulai terdengar memarahinya atas kemarahan kakaknya, tapi Niall tak peduli. Baru beberapa jam yang lalu ia mendengar baba dari Hami sendiri mengatakan untuk tak mendengarkan ucapan gadis itu.
Matanya menatap ke arah restoran, menanti ayah dan papinya keluar. Niall ingin segera pergi dari hadapan gadis itu.
Senyumnya langsung terulas senang melihat papi dan ayahnya keluar dan tengah berjalan ke arahnya.
Hingga...
"Kau harus tau kakakku sekarang memusuhiku gara-gara kau anak pelacur." Jeritan Hami terdengar jelas dalam telinganya.
