4. Adorn

2.9K 314 97
                                        

Niall berbaring di sofa apartemennya, setelah barusan melakukan panggilan dengan orangtuanya. Matanya menatap ke luar jendela yang ia biarkan terbuka, helaan napasnya keluar. Ini sudah hari kedua Liam pergi berlibur dengan teman-temannya, sisa satu hari maka Niall akan kembali bertemu kekasihnya.

Ajakan Liam saat itu Niall tolak, tentu saja. Ia tak akan mengganggu waktu Liam dengan teman-temannya, bahkan Niall mengatakan pada Liam untuk tak perlu menghubunginya selama liburan ke annecy. Niall tak ingin Liam jadi tak menikmati liburannya jika terus mengabarinya, ia ingin Liam memiliki liburan musim panas yang menyenangkan.

Sebelumnya Niall tak pernah merasakan cinta dari orang lain, selain orangtuanya yang menyayanginya begitu besar.

Dan begitu ia bertemu Liam yang begitu baik sejak pertemuan mereka, Niall merasa hatinya menghangat. Perhatiaannya Liam setelah mereka semakin dekat membuat Niall menatapnya lebih, pedulinya Liam padanya membuat Niall berharap banyak. Dan Niall ingin Liam untuknya dalam waktu yg lama, Niall tak ingin cintanya Liam padanya hilang sedikitpun.

Tapi Niall tau dirinya memiliki beberapa sikap yang tak Liam sukai.

Salah satunya sifat yang menurutnya pun akan cukup menyebalkan adalah sifat pemalunya. Dan ia tak tau bagaimana cara menghilangkan sifat pemalunya itu. Niall pikir sifatnya itu, kadang membuat Liam kesal. Niall pun sudah banyak memikirkannya bagaimana cara ia mengganti sikap menyebalkannya itu dengan hal yang bisa membuat Liam tak muak padanya. Niall benar takut cinta Liam padanya berkurang karena beberapa hal yang mungkin tak Liam harap ada padanya.

"Niall, kau masih tidur?" Suara temannya, Mara yang memasuki apartemen membuat Niall menoleh.

"Kenapa? Aku sudah bangun sejak tadi." Niall bangun dan melihat gadis berambut ikal itu menghampirinya.

Mara adalah teman Niall yang paling dekat dengannya, mungkin karena ia adalah orang pertama yang mau mengajaknya berbicara saat ia pertama kali ke paris.

"Apa kau menghubungiku?" Tanya Niall sambil mengecek ponselnya, takut-takut temannya itu menghubunginya saat tadi tapi ia tak menyadarinya.

"Tidak, aku ingin mengajakmu pergi. Temani aku membeli barang ya? Aku kehilangan beberapa gelasku beberapa minggu lalu." Mara memijit pelipisnya mengingat beberapa gelas wine pecah karena teman-temannya.

Niall bisa menangkap kefrustasian Mara, tapi itu salah Mara sendiri yang mengadakan pesta di apartemennya. "Apa pesta kalian seberantakan itu?"

"Ya, untungnya kau tak mengikuti ajakanku hari itu. Aku tak tau kalau kau datang, apa aku masih bisa menemuimu atau tidak." Mara cukup lega karena tak ada Niall disana, pasti itu akan jadi hari yang lebih kacau dari apa yang Mara hadapi kemarin.

"Dan bagaimana rumahmu?" Niall bertanya sambil meraih sepatunya, mulai bersiap mengantar temannya itu.

"Mamaku mengomel, tentu saja." Desah Mara.

Niall pun meringis membayangkan itu. Dan mereka pergi ke pusat perbelanjaan mengantar Mara yang selain kehilangan beberapa gelas, tapi juga kehabisan seluruh cemilannya.

Setelah dari sana, Mara mengajak Niall ke toko perabotan. Selama menemani Mara, tiba-tiba Niall melihat meja panjang di sudut ruangan. Saat ia menanyakan pada pemilik toko, itu memang pameran barang-barang dari kain buatan tangan. Dan ada satu hal yang menarik perhatian Niall karena membuatnya teringat Liam.

"Kenapa Niall? Kali ini kau tertarik pada anak anjing?" Tanya Mara penasaran saat melihat Niall yang memperhatikan miniatur dari bahan rajutan berbentuk anak anjing. Biasanya Niall membeli sesuatu saat ia sedang berminat pada hal itu.

"Hm? Tidak, hanya teringat Liam. Dulu ia pernah memiliki anak anjing." Niall ingat cerita Liam tentang anak anjing kesayangannya, shasha.

Mara tersenyum mendengar cerita Niall. "Apa yg kau bicarakan tak pernah lepas dari Liam."

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang