"Mana tanganmu?" Liam meminta tangan Niall untuk ia genggam, ia rindu semua hal tentang Niall.
Niall meremas tangannya sendiri sebelum menyimpan tangannya di atas telapak tangan Liam, sebenarnya sejak keberangkatannya dari rumah papinya sudah memintanya mengenakan sarung tangan tapi Niall menolaknya. Dan sekali ini ia senang karena tak menuruti papinya, ia bisa langsung merasakan hangatnya tangan Liam yang ia rindukan juga.
"Kau tadi makan dengan baik tidak?" Liam bertanya tentang perjalanan Niall kemari.
Keduanya berjalan bersisian dengan tangan Niall dalam genggaman tangan Liam, koper milik Niall Liam tarik dari tangan Niall yang satunya.
Sikap Liam tak berubah, Niall bisa saja lupa kalau sebenarnya diantara mereka pernah ada kata berakhir. Tapi Niall jelas ingat karena ia yang mengatakannya sendiri.
Liam seolah tak peduli dengan semua status hubungan mereka, Liam seolah lupa dengan semua kekacauan yang Hami perbuat. Dan itu jadi membuat Niall bingung menghadapinya.
"Iya." Niall mengangguk menjawab pertanyaan Liam.
"Kalau begitu coklat panas saja ya? Duduk dulu denganku ya, Niall?" Liam merasa harus melepas rindu lebih dari sekedar usapan pada pipi Niall juga genggaman tangan, Liam ingin menatap Niall lama-lama. Liam ingin menikmati duduk berdua lagi dengan Niall tanpa adanya keresahan ini itu.
Anggukan Niall membuat Liam tersenyum. "Baiklah."
Menyadari respon terbatas Niall padanya membuat Liam merasa seperti kembali pada bagaimana dulu mereka baru saling kenal. Tapi tidak apa, Liam memang berencana mendekati Niall lagi seperti dulu.
Dan setelah keduanya duduk di sebuah cafe, Niall masih sama diamnya. Sementara Liam tak memaksa mengajaknya berbicara karena Niall juga pasti kelelahan, niat Liam mengajaknya duduk minum coklat panas benar-benar hanya untuk menikmati lagi waktu berdua dengan Niall.
"Kalau kau ingin pulang sekarang, aku antar." Liam melihat coklat panas Niall telah habis dan satu potong kue yang ia pesankan habis setengahnya.
"Sebentar lagi saja Liam." Niall masih suka disini.
Liam mengangguk tak keberatan, lalu tiba-tiba ia berujar. "Aku akan mulai lagi ya, Niall? Mengembalikan hubungan kita yang sempat kau minta akhiri itu."
"Aku tak suka kalau kita tak tau kabar masing-masing seperti kemarin-kemarin, aku tak suka kenyataan kau bukan milikku." Ujar Liam.
"Tadinya aku tak berniat mengatakan ini sekarang, karena mungkin kau masih perlu waktu untuk menganggap apa yang pernah Hami katakan tentangmu adalah angin lalu. Tapi aku tak bisa diam saja tanpa mengatakan keinginanku untuk kita kembali."
"Jadi tidak apa kalau kau tak ingin kembali padaku sekarang juga, tapi aku akan tetap berada di sekitarmu dan terus mencoba membawamu dalam pelukanku lagi." Liam menutup ucapannya dengan senyumnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.