Almost finished

148 40 40
                                        

"Papimu itu adalah pelacur suamiku."

Baba melihat itu, bagaimana Jaehee menunjuk Niall dengan tangannya. Bagaimana mata Jaehee menyorot marah pada Niall, dan tanpa bisa dicegah ingatan lama baba kembali memenuhi kepalanya.

Jaehee yang marah begitu mengetahui hubungannya dengan Jeno, Jaehee yang menunjuknya sebagai orang tak tau malu yang justru berhubungan dengan kakaknya.

Tangan Renjun meraih lengan Jeno. "Pulang." Pintanya dengan mata yang enggan menatap ke arah Jaehee dan Niall.

Jeno yang tadi ikut terkejut dengan teriakan marah Jaehee seketika tersadar, ia segera meraih pinggang Renjun begitu menyadari nada lemah pada suaranya. Jeno menyadari adanya potongan masa lalu mereka yang terungkit begitu melihat kemarahan Jaehee, dan itu membuat Renjun meminta pulang.

Tanpa banyak bertanya Jeno membimbing tubuh Renjun untuk meninggalkan tempat itu, dan ia memanggil Hami yang masih berdiri di samping Angela.

"Hami, kita pulang." Jeno mengajak putrinya pulang, ia tak akan membiarkan keluarganya beraa di sini, dimana kekacauan sedang diperbuat adiknya.

Mendapati panggilan dari papanya Hami menghampiri dengan cepat, apalagi saat matanya melihat babanya yang terlihat lebih diam.

"Tapi kakak dan kak Niall." Hami menatap khawatir pada Niall, sementara Jeno pun sedang ikut mencari keberadaan Liam.

"Kita pulang, Hami." Ujar Renjun tanpa memberi waktu pada putrinya untuk menjawab.

Hami mengangguk, meraih tangan babanya sementara papanya memutuskan menghampiri Liam yang juga terlihat mengambil langkah lebar hendak menghampiri Niall.

"Liam, bawa Niall pulang."

"Iya." Jawab Liam singkat, nyaris tanpa menoleh pada papanya karena ia ingin segera tiba pada Niall yang sedang menghadapi Jaehee.

"Kemari, mobilku disini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kemari, mobilku disini." Liam menarik Niall yang justru melangkah berlawanan arah dengannya ketika mereka keluar dari rumah keluarga Lee.

Niall mengerutkan dahinya tak suka. "Aku tidak memintamu mengantarku."

Liam menghela nafasnya, melihat sudut mata Niall yang masih berair tapi kilat marah masih tersisa di mata anak itu Liam tau ia harus membujuk Niall dengan lebih lembut jika tak ingin emosi Niall semakin tak karuan.

"Niall, kau pulang denganku." Ujar Liam lembut.
Namun Niall justru menatap Liam marah, dengan nafas yang kembali memberat menunjukkan ada begitu banyak emosi yang ia rasakan saat ini.

"Aku sungguh ingin berhenti bersamamu, Liam."

Mata Liam terpejam sesaat mendengar ini, dua kali ia mendengar keinginan Niall untuk mengakhiri hubungan mereka dan penyebabnya adalah keluarganya. Dulu Hami dan sekarang Jaehee.

"Aku tak mau bersama dengan orang yang memiliki keluarga yang selalu menginjak oranglain dengan mudah." Niall menatap Liam dengan nyalang, ia benar-benar tak bisa jika terus bersama Liam dengan semua keluarga Liam yang seperti itu.

"Aku tak ingin hidup bersama orang yang bisa saja akan menghina orangtuaku juga."

Atas terulangnya hal serupa dan datangnya sama dari keluarga Liam, Niall takut jika suatu saat Liam pun bisa mengatakan hal demikian tentang orangtuanya.

Sementara mata Liam membesar terkejut mendengar kalimat Niall barusan. "Aku melakukannya?" Tanya Liam dengan tak percaya.

"Suatu hari kau mungkin akan!" Niall membentak melihat Liam seolah tak percaya akan ketakutannya, padahal ketakutannya juga didasari apa yang sudah ia terima dari keluarga Liam sendiri

"Aku sudah dua kali mendengarnya, dari keluargamu. Dan aku tak ingin mendengar hal serupa darimu, aku tak ingin mendengarnya lagi."

"Jadi aku tak ingin melanjutkan apapun denganmu, sebelum aku mendengar lagi apapun tentang hinaan yang sama." Niall mencoba melepas genggaman tangan Liam.

"Keluarga kalian, termasuk kau sendiri. Aku tak ingin bertemu kalian lagi." Ujar Niall degan isak tertahan menyadari bahwa seberapa besar cintanya untuk Liam, ia tetap harus melepasnya jika yang ia dapat adalah penghinaan untuk orangtuanya.

Liam tak membiarkan Niall lepas dari genggaman tangannya, sama halnya dengan hubungan mereka, Liam tak akan membiarkan ini berakhir.

"Hami dan aunty― apa kau melihatku mirip mereka? Ada sifat mereka padaku?" Tanya Liam, menantang Niall mengatakan kemiripan mereka.

"Mereka emosi dan tak tau kebenarannya." Sementara Liam sudah mendengar sendiri penjelasan papi, juga bagaimana dunia tak pernah bersikap baik pada papi.

Di mata Niall saat ini, cara Liam berbicara justru terdengar seperti membela orang-orang yang telah menghina papinya. Dan itu bukanlah apa yang Niall ingin dengar, maka ia kembali marah pada Liam dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

"Kau membela mereka karena mereka keluargamu. Dan tak menutup kemungkinan kau pun akan seperti mereka nantinya!" Pandangan Niall memburam karena air mata, ia menangis tanpa isakan.

"Aku tidak―"

"Aku juga sedang membela papi!" Jerit Niall lagi.

Liam menarik nafasnya, mencoba berpikir cepat bagaimana ia harusnya menghadapi Niall yang histeris seperti ini.

"Iya, aunty Jaehee salah. Ia harusnya tak mengatakan itu tentang papi." Liam mencoba mengatakannya, dan Niall tak mengatakan apapun, tak lagi terpancing emosinya.

Liam pun menarik lembut tubuh Niall agar bisa ia peluk. "Niall sayang..."

"Papi bukan pelacur, Liam." Tangis Niall pecah seluruhnya begitu ia ada di pelukan Liam, sejak tadi ia mencari perlindungan dan pembelaan berupa pelukan seperti ini. Karena yang tadi ia dengar begitu membuatnya luar biasa sakit hati juga marah, pelukan hangat Liam membuatnya lebih baik meski sakit hatinya masih begitu besar.

Mendapati bagaimana ada orang yang menghina orangtuanya terang-terangan, tepat di depannya jelas menyakitinya.

"Papi juga tak suka pekerjaannya saat itu." Niall mulai membalas pelukan Liam.

"Papi juga tak suka masa lalunya." Niall ingat betul bagaimana papinya menceritakan semuanya dengan susah payah, dengan seluruh luka yang terlihat di matanya, Niall bisa merasakan bagaimana papinya begitu kesakitan juga atas fakta di masa lalunya.

"Papi bahkan kadang tak menyukai dirinya sendiri, Liam." Isakan Niall mengencang mengingat banyaknya kejadian dimana ia melihat sendiri bagaimana papinya dihantui mimpi masa lalunya hingga membuatnya membeci dirinya sendiri.

Tangan Liam tak berhenti membelai lembut punggung Niall yang bergetar.

"Maaf karena kau terus mendengar kalimat menyakitkan itu dari keluargaku, maaf." Liam mengeratkan pelukannya, meminta maaf karena penyenan kesakitan Niall selalu berasal dari keluarganya.

"Maaf.."

Tak ada jawaban dari Niall, anak itu hanya menangis terisak di pelukan Liam. Dan Liam sempat melihat keluarga Hayden dan Lauren yang juga keluar dari rumah keluarga Lee.

Mereka menatap Liam dalam diam, semua orang tak tau harus mengatakan apa. Dan Liam pun hanya mengangguk pada Hayden yang berpamitan dalam diam padanya.

Setelah tangis Niall mereda, Liam mencoba mengajaknya berbicara lagi pelan-pelan. "Kita pulang sekarang?"

"Jangan pulang ke rumah papi." Jawab Niall sambil menjauhkan tubuhnya dari Liam.

Liam tadinya akan mengajak Niall ke rumah babanya, tapi dipikir lagi rasanya tidak tepat mengingat ada Hami di sana, dan beberapa waktu lalu mereka baru membahas kelakuan Hami dulu. Akan tak nyaman juga untuk Niall jika saat ini bertemu Hami disaat emosinya masih serapuh ini.

"Ke rumah kakek saja, ya?" Maksud Liam adalah rumah kakek Huang, dan Niall mengangguk setuju tanpa banyak bersuara lagi. Seluruh energinya rasanya sudah terserap habis karena menghadapi Jaehee, lalu pembicaraan tegangnya dengan Liam juga karena tangisnya.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang