7. Encounter

2.3K 312 121
                                        

Sejak dua hari lalu, Liam merasa papanya terus mencoba membahas tentang teman-temannya. Mungkin karena saat papanya datang kemari, Damien dan yang lainnya sedang ada di apartemennya. Jadi papanya penasaran tentang teman-temannya lebih banyak lagi.

"Kau tak perlu terus menemani papa selama disini Liam. Kau pasti ada kegiatan yang lain." Ujar Jeno.

Liam yang tengah memotong beberapa tomat ceri— untuk pelengkap makan malamnya dengan sang papa, menjawab. "Aku sudah meninggalkan papa selama aku memiliki kelas, jadi aku mrmang harus bersama papa. Dan juga besok papa akan pulang, aku tak mungkin membiarkan papa menghabiskan waktu disini sendirian sebelum pergi lagi."

Jeno mencoba bertanya hal yang bisa membuat putranya itu bercerita lagi. "Memangnya kau tak ada janji dengan teman-temanmu?"

"Tidak." Jawab Liam, ia kemudian berjalan menuju lemari pendingin untuk mengeluarkan makanan penutup.

"Kemarin kau pulang larut dan mengatakan sudah makan diluar, itu tak bohong kan Liam? Kau tak boleh melupakan jam makanmu." Jeno masih berusaha memancing Liam agar bercerita.

Tapi Liam justru mengangguk, matanya menatap sang papa meyakinkan. "Benar, pa. Tadinya aku pikir papa juga akan makan dengan beberapa klien papa, jadi aku pun memutuskan makan di luar juga."

Jeno mengangguk, mengedikkan bahunya lalu. "Sebenarnya kemarin papa melihatmu pergi dengan seseorang, papa hendak menyapanya karena merasa belum pernah melihatnya sebelumnya."

Iya, kemarin setelah Jeno bertemu salah satu rekan bisnisnya dan dalam perjalanan kembali. Ia melihat putranya berjalan dengan sosok yang ia temui tempo hari.

Sosok yang memiliki wajah kecil dengan mata teduh yang menyorot terkejut padanya, dan memberinya senyum kecil sebelum berjalan pergi darinya dengan wajah yang merona.

Yang membicarakan putranya semanis itu, yang menceritakan tentang putranya dengan semua pengetahuan yang ia ketahui. Dan di dalam nada bicaranya Jeno dapat merasakan kebahagiaan, sama seperti bagaimana ia jika membicarakan tentang Renjun.

Mengingat sosok itu terlihat terkejut saat melihatnya, menunjukkan ia mengenal Jeno dan jelas bahwa Liam yang dibicarakan anak itu adalah putranya. Ditambah, kemarin dengan kebetulannya, ia melihat Liam bersama sosok itu.

"Iyakah? Bukankah aku selalu memberitau tentang temanku pada papa dan baba?" Liam mencoba terlihat biasa saja.

Dirinya memang bisa membicarakan tentang Niall pada papanya tanpa kekasihnya itu ketahui, tapi mungkin nantinya Liam akan dilanda rasa bersalah jika Niall tau hal itu suatu hari nanti dan menganggapnya tak bisa dipercaya lagi. Lagi pula, Niall sudah mengatakan bahwa ia akan menemui orangtuanya di musim dingin nanti. Sekarang ia hanya tinggal menunggu waktu sebentar lagi.

Setelah mengucapkan itu Liam mengalihkan pembicaraan, Jeno sadar hal itu.

Tapi ia tak mungkin memaksa Liam bercerita. Karena putranya itu pasti memiliki alasan tentang sikapnya itu. Mengingat ia pun dulu sama seperti itu, menyembunyikan tentang Renjun dari keluarganya dengan alasan yang ia miliki.

Meskipun pada akhirnya alasan itu bukan hal yang seharusnya Jeno jadikan penghalang untuk mengenalkan hubungan mereka, karena setelahnya itu justru membuat Renjun memiliki banyak alasan untuk pergi darinya.

"Hami akan kemari di awal musim dingin, jadi nanti kau bisa pulang bersama Hami untuk liburan musim dinginmu ke rumah." Jeno sekarang hanya akan menunggu sampai Liam akan bercerita sendiri tentang sosok bernama, Niall? itu padanya.

Liam mengangguk. "Hami kemari dengan siapa?"

"Ia akan dengan Eric, kebetulan Eric pu ada keperluan." Jawab Jeno.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang