Collapsing pillars

172 46 22
                                        

"Mataku baik-baik saja, Liam?" Tanya Niall begitu mereka selesai sarapan.

Liam meraih wajah Niall dan mengusap ekor matanya. "Tidak terlihat seperti sudah menangis."

Semalam Niall terus mengompres matanya karena ia ingin bisa pulang pada papi hari ini, sebab jika ia tak pulang lagi pagi ini papinya akan curiga. Dan juga ia hanya memiliki beberapa hari lagi waktu sebelum kembali ke Paris dengan Liam, ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan orangtuanya.

"Kau sungguh akan pulang sekarang, Niall?" Tanya tuan Huang.

Niall mengangguk. "Aku harus pulang."

"Maaf ya untuk hari kemarin." Liam menggenggam tangan Niall dan mengusap punggung tangannya itu sambil menatapnya dengan penuh sesal.

Yang Niall lakukan hanya mengangguk. Ketika kemudian ponsel Liam menyala tanda ada panggilan masuk, Niall dan tuan Huang ikut penasaran ketika melihat Liam yang tadinya terlihat biasa tiba-tiba tampak panik begitu ia mendengar suara dari seberang panggilan itu.

"Aku akan menyusul kesana dengan kakek." Ujar Liam sebelum menutup panggilan telepon, dan menatap kakeknya.

"Baba sakit."

Tuan Huang dan Niall terkejut mendengar kabar itu, mereka ikut beranjak seperti Liam. Ketika Liam menoleh pada Niall.

"Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu sebelum menemui baba."

"Aku tidak boleh ikut?" Tanya Niall sedikit tak terima.

Liam mencoba menjelaskan tanpa terdengar melarang. "Pulang dulu, Niall. Setelah itu kau bisa mendengar kabar baba dariku. Ya?"

Niall pun mengangguk setuju.

Karena masa lalunya ikut terungkit, lukanya ikut terbuka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Karena masa lalunya ikut terungkit, lukanya ikut terbuka. Renjun berakhir mengalami tekanan yang membuatnya jatuh sakit dan pingsan. Demam tinggi yang dialami Renjun membuat Jeno panik.

"Renjun.." Jeno mencoba memanggil Renjun di tengah perjalanan mereka menuju rumah sakit, dan tak ada sahutan dari Renjun.

Hami yang menemani kedua orangtuanya itu tak kalah panik, ia merasakan bagaimana suhu tubuh babanya yang tak normal. Hami sudah menghubungi Liam yang sejak kemarin belum pulang, dan kakaknya itu terdengar panik juga mengatakan akan segera menyusul dengan tuan Huang.

Tepat setelah Renjun mendapat penanganan singkat, Liam dan tuan Huang tiba. Hami tanpa pikir panjang menghampiri sang kakak dan memeluknya takut.

"Bukankah kemarin baik-baik saja?" Liam membalas pelukan sang adik, sementara matanya menatap babanya yang tak sadarkan diri.

Pertanyaan Liam tertuju pada Jeno yang masih belum tenang karena Renjun belum juga membuka matanya. "Semalam demam tinggi, dan setelah meminum obat tak ada perubahan. Pagi tadi justru pingsan."

"Ini karena kejadian kemarin?" Tuan Huang bertanya dan menatap bagaimana mata putranya terpejam.

Beberapa menit setelah menengok putranya, tuan huang pun berpamitan keluar dengan alasan menemui dokternya untuk menanyakan detail keadaan Renjun.

Sementara Hami mulai diam-diam menangis sedih menyadari ia pun pernah jadi alasan babanya teringat masa lalunya yang menyakitkan. Dan Liam hanya menggenggam tangan sang adik dengan hangat.

"Liam, kau di sini dengan Hami." Ujar Jeno sebelum ia beranjak menjauh untuk mengangkat panggilan dari mamanya.

📞 "Jeno? Mama dengar Renjun sakit?" Nyonya Lee bertanya khawatir.

"Hm." Jeno bergumam sebagai jawaban, ia berada di lorong yang berbeda dengan ruangan tempat Renjun dirawat. Ia memilih mengangkat panggilan dari mamanya jauh dari tempat Liam dan Hami berada, untuk menghindari jika Jeno kelepasan berbicara buruk karena terpancing emosi.

📞 "Beritahu dimana, mama akan ke sana."

"Tidak." Jawab Jeno tanpa pikir panjang.

📞 "Jeno.."

"Aku tak akan mengizinkan siapapun kemari." Lebih tepatnya keluarga Jeno saja yang tak akan ia izinkan menemui Renjun, karena semua penyebab luka Renjun ada di keluarganya, jadi Jeno tidak akan membiarkan penyebab luka itu menemui Renjun.

Bahkan mamanya yang tak ada urusan dengan kejadian Jaehee kemarin sekalipun, Jeno tetap tak akan membiarkan mamanya menemui Renjun. Sebab orangtua Jeno dulu pernah jadi alasan Jeno mengambil keputusan salah untuk Renjun.

"Ia sakit setelah kejadian kemarin, harusnya mama tau alasan aku tak akan mengizinkanmu kemari." Jeno pun menutup panggilan tanpa menunggu mamanya menjawab.

Jeno rasanya tak memiliki banyak keinginan untuk berinteraksi sering dengan keluarganya setelah semua kejadian yang terus menambah goresan luka di keluarga barunya.

Kesedihan yang tadinya Jeno pikir tak akan didapat lagi ternyata tetap menghampirinya dan Renjun. Yang Jeno pikirkan sejak kemarin adalah Renjun yang kembali terlihat lemah dan tak berdaya atas semua ingatan lukanya. Jeno tak suka melihat Renjun seperti itu.

Dan sebenarnya, diantara semua itu Jeno pun sama rapuhnya. Sama tak berdayanya. Lukanya ikut terbuka seiring kesedihan Renjun terlihat oleh matanya, lukanya ikut terbuka mengetahui Renjun masih menyimpan trauma atas kejadian di masa lalu yang melibatkan keluarganya.

Sejak menyadari Renjun terserang demam semalam, Jeno sudah tak bisa berpikir jernih, rasanya semua dunianya menyempit hanya dengan melihat Renjun merintih tak nyaman atas keadaan tubuhnya. Rasanya dadanya sesak melihat dampak dari kejadian kecil yang mengingatkan Renjun pada kejadian masa lalu bisa membuat tubuh Renjun melemah begitu saja.

Jeno yang terlihat baik-baik saja pun nyatanya sedang merasakan hatinya perih. Jeno tak baik-baik saja.

Kenyataan bahwa Renjun harus dirawat, dan bahkan kabar dari dokter yang memberitahu alasan Renjun masih tak sadarkan diri begitu membuat Jeno penuh ketakutan.

Renjun bukan hanya sekedar pingsan karena demam tinggi, Renjun memang enggan bangun. Alam bawah sadar Renjun ingin menghindari semuanya, dan meminta tubuhnya tetap tertidur.

Ketakutan Jeno adalah, Renjun yang akan memilih tetap seperti itu dan tak bangun menemuinya lagi. Segala kemungkinan buruk menghantui Jeno yang sejak dulu selalu takut ditinggal Renjun, Jeno selalu takut Renjun meninggalkannya.

Lalu sekarang mengetahui Renjun yang menghindari tekanan dengan cara seperti ini, Jeno luar biasa khawatir dan takut.

Dan ketakutannya, kekhawatirannya, ditambah semalaman ia tak bisa tidur melihat keadaan Renjun yang tak membaik, tubuh Jeno pun melemah. Jeno yang baru selesai menutup panggilan dari mamanya, mencoba mendekati kursi yang tak jauh dari tempatnya.

Jeno sadar bahwa tubuhnya perlu istirahat, maka ia pun ingin meraih kursi itu. Tapi sebelum kakinya sampai di sana, tubuhnya sudah lebih dulu meminta istirahat. Tanpa bisa dicegah, matanya tertutup dengan seluruh kekuatan tubuhnya yang hilang. Jeno jatuh tak sadarkan diri.

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Jeno teringat Liam dan Hami. Jika ia ikut jatuh seperti ini lalu bagaimana anak-anaknya? Mereka akan ikut panik dan semakin tak karuan.

Tapi tubuh Jeno benar-benar tak bisa bekerja sama.

A Thousand Winds ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang